Perempuan & Jilbab

source: arliando.blogspot.com

Sebagai seorang perempuan saya merasa amat senang melihat sekeliling saya—negara tempat saya tinggal, yaitu Indonesia—para perempuan telah beralih mengenakan jilbab. Banyak pula yang menyebutnya ‘trend’. Bisa dibilang pula saya masih baru dalam dunia ‘berjilbab’. Dan pertanyaan yang sering terlontar dari orang dan teman sekitar saya adalah:

Udah tobat ya pake jilbab sekarang?

Apa yang membuat lo ingin berjilbab?

Kemudian saya menjawabnya dengan: “Harusnya pertanyaannya adalah: mengapa saya baru berjilbab?

Sedikit bercerita,

Saya tidak berasal dari keluarga yang religius sekalipun, Alhamdulillah, kedua orang tua saya merupakan Muslim. Saya tidak ingin berdebat dengan pertanyaan: jika saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim maka saya tidak akan pernah memeluk Islam. Al-Quran telah menjawab di dalam ayatnya surat Al-Araf ayat 172 (QS. 7:172). Saya belajar mengaji karena dimasukkan ke TPA dekat rumah saat SD kemudian hingga berlanjut ke awal SMP. Setelah itu saya tidak pernah membaca Al-Quran lagi kecuali membacakan Yaasiin untuk Ayahanda tercinta.

Saya hanya tahu perempuan berjilbab. Lalu saya mengetahui bahwa perempuan harus  berjilbab. Baiklah, saya memutuskan, mungkin saat saya sudah menikah nanti. Kemudian saya mengetahui bahwa perintah mengenai kewajiban mengenakan jilbab dan menutup aurat sampai batas yang telah ditentukan memang benar-benar tertulis di dalam Al-Quran (QS. 24:30-31). Yang baru saya pahami di masa kuliah. Pikiran saya adalah:

Jika saya mengetahui kebenaran dan tidak menjalankannya atau menunda-nunda bahwa itu sama saja berdusta? Pada hati saya? Betapa seujung rambut yang telah tampak pada mahram yang tidak halal merupakan dosa bagi saya dan dia dan mereka?

Semakin saya pahami makna ayat tersebut, sungguh sebesar itu rasa penyesalan saya. Butuh sembilan belas tahun untuk membuka hati ini agar mulai menutup aurat sebagaimana mestinya. Dibutuhkan sembilas Ramadhan untuk mengetuk pintu hati saya, memberikan kesadaran akan suatu hal yang mungkin dianggap sepele: jilbab dan aurat. Namun sebesar itu. Memang sebesar itulah menutup aurat mampu menjadi tameng saya.

Memang bukanlah jilbab yang membuat saya memperbaiki ibadah dan mulai menata akhlak. Semua itu karena rahmat Allah SWT yang Maha Membolak-balik hati manusia. Betapa Dia telah melimpahkan karunia-Nya yang tiada putus dan habisnya, Ia mengirimkan hidayah untuk hati saya yang, Alhamdulillah, ternyata tidak tertutup bagi kebaikan.

Dan jilbab adalah kewajiban. Bukan pilihan. Tidak bisa ada kata tapi apa lagi nanti. Al-Quran tidak menyebutnya hanya sekali, hal ini juga tertera dalam QS. 33:59.

Sejak dulu saya yakin bahwa pada akhirnya saya akan berjilbab. Tapi saya tidak pernah yakin kapan. Saya bukan perempuan yang sangat rajin beribadah, kadang saya mengumpat, kadang saya berdusta, kadang saya mencibir, kadang mengulur waktu sholat wajib, dan bertahun-tahun tidak membuka Al-Quran. Perempuan berjilbab macam apa saya nanti? Luarnya adem, dalemnya busuk? Begitu pikir saya. Saya tidak siap; belum siap. Namun salah satu teman saya pernah berkata dalam salah satu perbincangan paling lama yang pernah saya lakukan mengenai syariat dan aqidah.

Kalau kita nunggu sampai kita siap, kita nggak akan pernah siap, Mah. Semua disini sama-sama belajar, aku juga masih belajar. Kalau semua perempuan nunggu sampai siap, nggak akan ada perempuan yang pakai jilbab. Semuanya masih sama-sama belajar dalam ibadahnya, dan harus terus memperbaiki diri setiap harinya. “

Subhanallah. Betapa kalimat pamungkas itu seperti pesan yang ingin disampaikan oleh Allah kepada saya dan—mungkin—perempuan muslim lainnya di seluruh dunia. Mungkin kalimat itu yang memang ingin didengar oleh hati saya yang gersang oleh ayat Al-Quran. Apa lagi yang saya tunggu? Allah begitu menyayangi umatnya, hingga diatur sedemikian rupa di dalam Al-Quran untuk menjaga dan menutup auratnya, baik lelaki maupun perempuan.

Dan perempuan adalah perhiasan. Sedangkan perhiasan paling indah di dunia adalah perempuan yang shaliha (HR. an-Nasa’I dan Ahmad). Saya pun menyayangi dan menghargai diri saya, maka apa lagi yang saya tunggu?

Percaya atau tidak, jilbab memang melindungi saya secara jasmani dan rohani. Pertama, secara jasmani, saya merasa tatapan lelaki tidak lagi tertuju pada saya atau menggerayangi dari ujung kepala ke kaki. Dimana yang kadang (sering) saya rasakan sebelum mengenakan jilbab dan saya sama sekali tidak bangga akan hal itu. Seperti apapun wajah dan perawakan si perempuan, jika auratnya terlihat, terutama pada bagian tertentu, pasti mata lelaki akan tertuju padanya; dimana hanya akan menjadi dosa bagi si lelaki dan, pastinya, perempuan (Baca: Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps by Allan and Barbara Pease, 2005). Dan saya tidak menjadi pusat perhatian lelaki, dimana itu membuat saya merasa lebih nyaman dan aman di dalam lingkungan sendiri.

Kedua, pasti ada pula yang berpikir ada banyak pula wanita berjilbab yang akhlaknya tidak sesuai dengan jilbab yang dikenakan. Bahkan mungkin banyak perempuan muslim tidak berjilbab namun memiliki sifat yang baik budi pekertinya. Wallahu a’lam.

Sekali lagi, tidak ada yang mengetahui isi hati manusia. Bahkan mungkin si manusia pun tidak memahami isi hatinya. Hanya Allah SWT yang memiliki hati kita, yang Maha Membolak-balik hati manusia. Bisa jadi si wanita berjilbab kurang baik akhlaknya, tapi setidaknya dia telah menjalankan perintah yang tertera di Al-Quran, berkacalah kita, sudah sampai mana kita menutup aurat? Sudah sampai mana kita menjalankan perintah di dalam Al-Quran? Toh, tidak ada yang menjamin akhlak si perempuan berjilbab dengan yang tidak akan sama-sama baik, atau sama-sama buruk, ataupun tidak keduanya.

Tetapi yang pasti, bagi saya, jilbab ini membuat saya semakin terpacu untuk terus memperbaiki diri, dalam hal aqidah dan akhlak. Mungkin bahasa mudahnya: “Malu dengan jilbab”. Tapi, malu pun adalah bagian dari iman. Tak apa jika memang harus diawali demikian.

Jilbab adalah identitas perempuan muslim. Dan bukankah itu berarti merupakan salah satu usaha kita untuk mencapai derajat taqwa pada Allah? Kadang itu pula yang membuat saya bertanya-tanya, sudah sejauh mana saya berupaya untuk mendekatkan diri pada Rabb saya?

Dan jika ada tuduhan sok suci (dan memang ada), memangnya lebih baik sok suci atau sok dzalim? Jalan di akhirat sana kita yang menapaki sendiri, buat apa memikirkan perkataan orang lain jika jalan yang ditempuh adalah kebaikan, menuju surga idaman?

Jadi, yuk mulai berjilbab!


PS: I did my own recheck, kutipan-kutipan ayat tersebut sudah saya kroscek jikalau ingatan saya salah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah ketika itu terhadap ini.QS. 7:172

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.QS. 64: 30

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.QS. 64-31

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.QS. 33:59

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan & Jilbab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s