[CERPEN]: SEMBILAN PULUH SEMBILAN PINTU

closed-door

Ini adalah percakapan terakhir saya dari hati ke hati dengan Mas Salman sebelum keberangkatan melanjutkan studi ke benua Eropa.

Saya ingat, hari itu adalah hari Jumat dan kalimat pembuka dituturkan selepas waktu Isya. Mas Salman baru kembali dari masjid sementara saya dan Ummi baru selesai menunaikan shalat berjamaah. Pukul 20.15 beliau menghampiri saya di ruang keluarga, bertanya mengenai hari itu: Sudahkah saya membaca surat Al-Kahfi? Bagaimana dengan bacaan Quran, sudah dituntaskan? Hafalan kamu sudah sampai mana? Ada kabar apa dari kampus? Bagaimana kondisi organisasi Forum Energi yang bakal saya tinggalkan nanti?

Mas Salman telah menggantikan posisi Abi sejak tujuh tahun lalu. Juga dalam hal menafkahi keluarga. Beliau berkata bahwa ia siap untuk membiayai saya kuliah di luar negeri jika saya tidak mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, segala puji bagi Allah, kehendak itu telah tertuliskan jelas.

Ummi sudah pergi ke kamar menemani adik bungsu kami yang masih duduk di bangku SMP. Jam itu adalah jadwal Shafiyya tilawah bersama Ummi. Kemudian saya balik menanyakan kabar kakak sulung kami: Bagaiman dengan bacaan Quran dan surat Al-Kahfi? Apa kabar lembaga yang baru saja didirikan sepuluh bulan lalu? Apakah ada masalah, saya siap membantu.

Tidak, jawab beliau. Tapi kami bakal sangat membutuhkan kamu selepas lulus nanti. Maukah kamu kembali kemari? Atau kamu bakal memilih menetap di sana? Mas Salman paham betul dengan kejengahan saya pada negeri di ujung tanduk tempat kami lahir. Perkembangannya yang luar biasa, seiring dengan degradasi moral yang membuat hati ini menciut.

Ummi, Shafiyya, dan Mas Salman adalah alasan saya untuk kembali. Keluarga adalah rumah, dimana lagi saya akan mendapatkan keluarga yang lebih indah dari ini?

Tapi saya memperhatikan bahwa sudah sebulan ini Mas Salman terlihat begitu murung. Setiap malam, biasanya tepat pukul yang sama dengan malam itu, beliau akan masuk ke kamar dan tidak pernah beranjak lagi hingga adzan Subuh memanggil. Saya menunggu beliau untuk mengatakan sesuatu. Masalah apapun tidak pernah membuat beliau bermuram durja sedemikian rupa. Tiap masalah berkaitan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan pasti akan tampil dalam laman jurnal digitalnya. Namun kali ini tidak sama sekali.

Saya pun tidak bertanya pada Ummi, takut membuat khawatir. Dan Shafiyya—ah, biarkan adik kami itu terlindung dari dunia luar untuk sementara waktu.

Suatu kali saya pernah naik ke lantai dua tempat kamar beliau berada, menempelkan telinga ke daun pintu. Saya terduduk disana hampir sepanjang malam. Tiada suara aneh, hanya gumaman beliau melantunkan ayat-ayat Al-Quran dan sesekali saya mendengar suara seperti isakan tangis. Namun saya tidak yakin. Malam itu saya kembali ke kamar di sepertiga malam, melaksanakan shalat qiyamul lail, memanjatkan doa agar Sang Khalik memberikan ketenangan jiwa dan ketentraman batin pada Mas Salman.

Saya akan berangkat dalam kurun waktu sekian bulan. Mana mungkin saya pergi dengan kondisi beliau yang sedemikian rupa?

 

===

 

Malam itu kami mengobrol seputar rutinitas yang telah kami jalani sejak di awal minggu, mengabaikan saluran televisi yang menayangkan berita tentang kasus korupsi pejabat negara kami. Satu jam. Dua jam. Dan sesekali Mas Salman tersenyum tipis pada lelucon yang saya tawarkan—beliau memang memiliki kualitas profil yang sendu pada dirinya. Beliau jarang tertawa—apalagi terbahak, namun bukan berarti beliau tidak memiliki kapasitas untuk melucu ataupun menikmati guyonan.

Mas Salman tidak pernah berlebihan. Bahkan dalam hal tawa.

Jujur saja saya amat penasaran dengan apa yang tengah beliau rasakan dan alami akhir-akhir ini. Setelah malam dimana saya menguping di balik pintu—aksi ini tidak sepatutnya saya lakukan—saya lebih sering memperhatikan beliau dibanding sebelumnya. Ketika beliau mengira saya tidak melihat, ekspresi itu bakal kembali menguasai wajahnya. Dan biasanya beliau bakal beranjak ke masjid di kota dan baru kembali di waktu Dhuha.

Sungguh saya belum pernah belihat Mas Salman dalam kungkungan gundah gulana seperti itu.

Beliau bakal kembali ke oil rig tempat beliau bekerja dahulu untuk melakukan inspeksi esok hari. Beliau telah menjadi konsultan profesional di beberapa perusahaan migas di negeri kami terlepas dari lembaga nirlaba yang didirikan. Tapi saya tidak bakal setuju beliau untuk pergi jika dalam kondisi demikian.

Usai tawa yang seharusnya terlontar, saya mematikan televisi dan menghadap kakak kami. Sudah menjadi persetujuan umum—dan terutama bagi kaum saya—bahwa Mas Salman memiliki wajah yang sangat tampan. Suatu kali sekelompok perempuan mendatangi rumah, menuntut untuk bertemu beliau karena mereka ingin mengajukan diri sebagai relawan dalam tanda petik. Kejadian lain adalah setiap minggu bakal datang minimal satu lusin surat anonim dan satu lusin surat ‘cinta’ yang mengalamatkan kekaguman mereka pada kakak kami. Karena ketampanan beliau. Kecerdasan beliau. Kesuksesan beliau.

Saya dan Shafiyya bakal menjadikan peristiwa tersebut sebagai inside joke keluarga kami; bahkan Ummi bakal tersenyum lebar dalam menanggapinya. Dan Mas Salman pun cuek dengan sasaran melenceng embel-embel kekaguman itu, pula dengan lelucon yang kami buat. Beliau hanya mengedikkan bahu dan berlalu.

Ketika kami berkunjung ke kediaman saudara, banyak pula yang mengagumi Mas Salman. Lelaki dan perempuan. Beliau adalah teladan dan idaman tiap orang tua dalam keluarga. Apakah jika Mas Salman terlahir sebagai perempuan saya akan iri padanya? Mungkin, hati ini memiliki kapasitas untuk dengki, dan hanya Allah yang mampu membolak-balik hati manusia.

Dan kadang saya bertanya-tanya, mungkinkah jika saya bukan adik kandung dari seorang Salman Arrazy maka saya bakal jatuh hati pula pada beliau?

Orang-orang berkata bahwa terdapat fitur dalam diri Mas Salman yang tercermin pada wajah saya. Kami berdua mewarisi gen fisik Ummi sementara Shafiyya sangat mirip dengan Abi. Mereka bilang kami adalah kembar berbeda gender dan usia, masing-masing mendefinisikan maskulinitas dan kewanitaan.

Mas Salman tidak terlalu banyak bicara. Saya rasa dia hanya sulit merangkai perasaan untuk diucapkan dalam kata. Beliau hanya bicara seperlunya. Ketika di rumah kami bertiga perempuan sepakat bahwa dapat dihitung jari ketika Mas Salman bicara. Dan saya rasa faktor Shafiyya  yang tidak terlalu akrab dengan Mas Salman membuat beliau lebih sering berdiskusi dan menghabiskan waktu dengan saya ketika di rumah. Saat bersama Ummi selalu dikejar pertanyaan kapan akan menikah karena beliau telah melewati angka dua puluh lima—target usia maksimal menikah yang disepakati.

“Kamu tahu saya bakal selalu membantu dan mendukung kamu selama saya mampu dan tidak bertentangan dengan agama, “ saya memulai dengan perlahan, bernada membujuk seolah saya terlahir bertahun lebih dulu. Beliau pasti paham, perkataan saya barusan telah menginvasi privasi pikiran dan perasaannya. Tetapi saya tidak mungkin mendiamkannya saja. Aura kakak kami seolah memancarkan kegelisahan dan kemuraman berkali lipat dibanding biasanya.

Mas Salman terdiam. Cukup lama. Cukup lama kakak kami berarti setengah jam menunggu sahutan. Tetapi saya menunggu. Memperhatikan perubahan pada wajahnya seolah riak di atas permukaan air yang tenang. Mas Salman belum pernah seperti ini selama bertahun setelah kepergian Abi.

Beliau menghembuskan napas sesaat, “Berjanjilah kamu tidak akan bercerita kepada siapapun tentang hal ini. “

Tidak kepada Ummi atau pun Shafiyya. Hanya saya, Mas Salman, setan-setan di tiap aliran darah kami, para malaikat di kanan-kiri, dan juga Allah SWT.

Dua bulan lalu. Beliau mengadakan survey ke sebuah kota di seberang pulau di wilayah timur. Tempatnya agak jauh dari peradaban namun dengan sumber daya alam yang melimpah, pemandangan yang memanjakan mata dan belum banyak disentuh tangan-tangan jahil, wilayah ini menjadi salah satu primadona kebanggan bangsa. Dan kakak kami beserta kolega berencana membuat mega proyek pengaspalan dan pengerasan jalan untuk memudahkan akses ke desa menuju kota dan sebaliknya. Mereka juga berencana untuk membangun kantor cabang dari LSM disana yang ke depannya akan diekspansi menjadi lembaga advokasi dan pendidikan. Saya ingat Mas Salman pergi selama dua minggu untuk menunaikan tugasnya.

Kali itu bertepatan dengan milad kakak kami yang ke-29. Sesampainya beliau di rumah kami mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan membagikan makanan dan sembako ke panti anak yatim di kota. Tidak ada tanda-tanda aneh telah terjadi sesuatu. Kecuali memang beliau terlihat lebih muram—kadar sendu bertambah.

“Kamu harus berkunjung kesana. Sangat indah. Kapan-kapan kita sekeluarga harus mendatangi pantainya, “ ujar kakak kami seraya menyunggingkan seringai tipis. Mungkin Mas Salman tidak banyak tersenyum atau tertawa salah satunya karena beliau terlihat sangat tampan—bersinar dan berbinar, dan semudah itu orang bakal tergoda dengan kesempurnaan fisiknya.

Mereka menginap di sebuah penginapan sederhana, dengan bangunan tempat yang lelaki dan perempuan menetap pun dipisah. Hanya berjarak lima ratus meter adalah sebuah pembangkit listrik tenaga panas bumi yang sudah Sembilan tahun beroperasi. Mereka memutuskan bahwa mereka bakal kembali ke ibu kota di hari ke lima, setelahnya mereka hanya akan mengirimkan dua orang penanggung jawab dari lembaga untuk mengawasi dan Mas Salman bakal tetap tinggal di ibu kota.

Pada hari ke empat adalah hari milad kakak kami.

Kolega yang ikut serta pergi berjumlah hampir lima belas orang, Mas Salman sudah meminta agar lima atau enam orang saja yang pergi melakukan survey dan pengambilan data. Namun mereka insist untuk pergi, sekalian liburan katanya. Toh mereka membayar seluruh akomodasi dengan uang pribadi.

Usai kejutan kecil di akhir hari dan nyanyian mereka mengajak Mas Salman untuk pergi ke kota, mengunjungi kelab malam atau makan di restoran; sebagai perayaan. Saya sangat bisa membayangkan respon kakak kami,

“Usia saya berkurang satu tahun dan kalian ingin merayakannya?” Ia bakal bergeleng heran dengan ekspresi antara lucu dan tak habis pikir.

Ayolah, kapan lagi? Perempuan-perempuan disini cantik-cantik, bisik salah satu kolega. Saya yakin, Mas Salman bakal berjengit tak kentara mendengarnya. Seolah tidak pula memahami karakter beliau setelah bertahun bersama, mereka masih berkeras dan membujuk untuk pergi. Para kolega perempuan pasti tidak banyak bicara atau berisyarat, itulah jenis kharisma yang dimilikinya terhadap lawan jenis.

Mungkin kamu bisa sambil cari pasangan hidup, Man. Satu gundik di desa di tiap provinsi biar malam selalu terasa hangat.

Cukup sudah. Kakak kami mengutarakan ucapan final bahwa dia bakal tinggal karena banyak urusan. Akhirnya empat dari sembilan lelaki termasuk beliau berangkat ke kota bersama dua kolega perempuan lain.

Dalam satu rumah ditempati oleh empat orang dan malam itu beliau berkutat sendirian di kamarnya: memilah dokumen, mengetik MOU, mengabari para kolega lembaga di ibu kota. Saya membayangkan beliau bakal berbaring untuk quick nap di jam sebelas dan terbangun pukul dua pagi untuk shalat qiyamul lail hingga subuh menjelang. Namun malam itu ada seseorang yang mengetuk pintu depan.

Waktu menunjukkan pukul 00:15. Teman-temannya pasti sudah terlelap. Namun penghuni lain di rumah itu belum juga kembali dari kota, tidak ada kabar apapun dari mereka.

Seseorang di depan kembali mengetuk tiga kali, seolah tidak sabar.

“Itu adalah seorang perempuan, Mar. “ Suara beliau bergetar. Bergetar menahan isakan yang tampaknya tak terelakan.

Saat itu hujan turun sangat deras, sesekali kilat menyambar memantul di kaca jendela bersama siluet perempuan di pintu depan. Dan listrik desa padam. Gelap gulita. Hanya ketukan untuk kesekian kalinya, semakin tidak sabar.

Lilin-lilin dinyalakan. Beliau membawa lampu minyak untuk penerangan menuju ruang tamu. Dari balik jendela terlihat perempuan itu berdiri di teras depan rumah penginapan mereka, basah kuyup sampai ke ujung rambut, dengan setelah pakaian yang tidak pantas; terlalu minim bahan dan terlalu tipis.

“Tolong izinkan saya masuk. Hujan sedang deras, saya dalam perjalanan menuju kediaman saudara namun supir taksi saya menurunkan saya di daerah ini; dia menipu saya. Saya takut untuk melanjutkan perjalanan. “

Bagaimana bisa ada yang mengizinkan seorang perempuan menempuh suatu jarak selepas matahari tenggelam tanpa orang lain yang menemaninya? Terlebih pakaian si perempuan bakal mengundang kejahatan di jalanan.

“ Di seberang rumah ini adalah rumah tinggal teman-teman saya yang perempuan. Kamu bisa berlindung disana sampai pagi tiba, “ beliau menyahut dari jarak sempit antara bingkai dan pintu yang ia buka.

Perempuan itu pergi. Namun lima menit kemudian terdengar kembali ketukan di pintu.

“ Tidak ada seorang pun yang menyahut. Tolong izinkan saya masuk.” Ia menggigil kedinginan dengan bibir yang membiru.

Beliau kembali menajawab, “ Di teras ada payung yang bisa kamu pakai. Seratus meter dari sini bakal ada beberapa rumah warga yang bakal menampung kamu sampai nanti. Saya tidak bisa menerima kamu karena saya sendirian dan tak ada siapapun di sini.“

Dan lagi, perempuan itu pergi.

Beliau beranjak untuk mengambil wudhu dan baru saja mengucapkan salam dua rakaat pertama ketika ketukan itu menggema di dinding rumah.

“Tidak ada satu pun yang menjawab disana, saya tidak tahu mengapa. Tolong izinkan saya masuk! Apakah kamu tega membiarkan saya di luar dengan kondisi seperti ini? Bagaimana jika saya sekarat dan mati di depan pintu rumah kamu? Bagaimana jika saya diperkosa di jalan saat memaksa untuk melanjutkan perjalanan? Demi Tuhan, di hari akhir nanti jika Dia bertanya aku akan menjawab kamu adalah penyebab mereka memperkosa saya. Kamu yang menyebabkan saya sekarat dan mati di jalanan. Saya bakal bersaksi dan akan menyalahkan kamu di hari akhir nanti!”

Hati hamba beriman mana yang tidak bergetar mendengar nama Rabb-nya disebut? Maka beliau membukakan pintu dan membiarkan perempuan itu masuk.

“Saya katakan padanya, ‘Kamu tinggal di kamar ini, jangan bersuara, dan jangan beranjak kemana pun. Saat subuh nanti kamu harus sudah pergi.’ Kemudian menyuruhnya untuk mengenakan pakaian apapun di dalam lemari untuk ganti. “

Beliau kembali ke kamar, pintu di kunci. Saya dapat membayangkan kakak kami kembali melanjutkan rakaat demi rakaat qiyamul lail hanya diterangi temaram lilin dan lampu minyak. Tak ada suara satu hertz pun yang menginterupsi. Hanya kakak kami yang melantunkan dzikir di antara jam menuju subuh.

Pukul setengah tiga pagi terdengar suara jeritan dari kamar sebelah. Jeritan pendek tanpa nada yang membangkitkan bulu kuduk. Hanya dengan lampu minyak sebagai penerangan beliau membuka pintu kamar tersebut dan mendapati wanita tadi tengah berbaring di lantai berlapis kayu dan tanpa busana.

“Subhanallah, Mar…” Kali ini kakak kami mulai terisak. Wajahnya terhalang sepasang telapak tangan, menutupi aib dan rasa malu yang menggerayangi. Pemandangan tersebut pastilah sesuatu yang luar biasa aneh dan mengejutkan bagi kakak kami yang seumur hidup hanya pernah dekat dengan tiga orang perempuan. Beliau tidak tahu apapun tentang tubuh perempuan kecuali rahim di kelas biologi.

Namun kali ini daging segar itu terpampang jelas dan nyata tidak sampai lima meter jaraknya. Dan tidak ada siapapun kecuali mereka berdua di rumah itu. Tidak bakal ada yang mendengar, hujan memukul-memukul jalanan aspal tanpa ampun, petir menyambar tiap dua puluh menit. Dan perempuan itu mulai mendesahkan nama kakak kami yang entah dari mana ia tahu.

Sembilan puluh sembilan pintu dalam tubuh Mas Salman telah tertutup dengan selot kencang, namun bagaimana dengan pintu terakhir? Perempuan adalah hal paling misterius dan asing bagi seorang seperti Mas Salman yang selalu menundukkan pandangannya tatkala mereka berada dalam jarak pandang. Terjadi sesuatu yang aneh pada dirinya, sensasi yang belum pernah ia rasakan; asing, impulsif, dan masif. Dan demi membayangkan setan-setan di tiap aliran darah kami, mata saya terasa penuh oleh butiran air garam.

Saya tidak tahu apa yang ia lakukan dengan perempuan itu. Saya sungguh tidak bisa membayangkannya. Dan saya menangis sejadinya. Sejadi-jadinya. Bahkan tidak mampu mengulurkan tangan pada kakak kami yang masih tersedu-sedan.

Ternyata empat orang koleganya menyewa seorang prostitusi untuk menggoda kakak kami. Sungguh tak terkatakan. Dari empat orang itu dua diantaranya adalah termasuk dari pendiri lembaga yang mereka perjuangkan, teman sejak bangku kuliah. Apa yang ada di benak sinting mereka? Bagaimana mungkin saya tidak menyumpah atas aksi yang mereka lakukan? Saya geram luar biasa. Dada saya sesak oleh gejolak emosi.

Empat orang itu menyeruak masuk hendak memergoki kakak kami dengan perempuan itu dalam perbuatan yang terlarang. Saya membayangkan dalam pikiran mereka tertawa terbahak dan mencemooh bahwa beliau tak ada bedanya dengan mereka yang telah terjerumus dalam lumpur duniawi yang menggoda. Mereka mungkin jengah dengan sikap Mas Salman yang selalu berusaha menjaga diri dan tak mudah dibelokkan.

“Saya menggenggam api, Mar. Api yang sangat panas membakar kulit saya. “ Jadi itu menjelaskan salah satu telapak tangan yang terbebat tebal saat ia pulang. Kakak kami semakin terisak tak terkendali, sungai-sungai kecil mengalir di sela jemarinya, tubuhnya bergetar dalam luapan sesal. Untuk sesaat ia mengangkat pandangan ke arah saya, dengan sepasang mata tercelup air garam, wajah merah padam, tak mampu berkata-kata.

Beliau berusaha meraih tangan saya namun saya mengelak dari sentuhannya. Pasti itu menyakitinya, karena ia kembali dalam kubangan air mata.

“Saya melangkah mendekatinya. Tiap langkah yang saya ambil saya menggenggam api, Mar. Ingatlah bahwa api neraka jauh lebih panas dari ini. Saya mengambil satu langkah lagi dan dalam jemari saya adalah lidah api sekali lagi. Tidak terkatakan, Mar…”

Tanpa kuasa saya turut berbagi tangisan dengan kakak sulung kami. Kebanggan keluarga, idaman setiap orang tua. Namun pintu terakhirnya tidak terkunci dengan ajek dan pasti.

Ya Allah, apa yang harus saya katakan? Apa yang bisa saya lakukan? Sesaat saya buta. Dan pastilah aliran darah saya telah mengalir begitu kencang ke ubun-ubun.

 

===

 

Empat orang tadi menyeret perempuan itu keluar. Ia tidak berhenti menjerit tiap kali pria itu melangkah mendekatinya.

Jemarinya menggenggam api dari lampu minyak yang ia bawa saat jarak itu tereliminasi di antara mereka. Kemudian ia berkata, seperti bisikan, sebuah mantra, “Ingatlah bahwa api neraka jauh lebih panas dari ini…”

Satu, dua, tiga.

Pria itu memang mendekat, namun mantra itu bersama lidah-lidah api seolah pedang yang menembus rusuknya. Mengiris jantung dan organ lain bernama hati.

“Bawa saya pergi dari sini!” Ia terus menjerit dan berteriak tatkala pria-pria yang menyewanya menyeruak masuk ke dalam rumah. “Keimanan pria itu membunuh saya! Bawa saya pergi jauh dari sini!”

“Ingatlah bahwa api neraka jauh lebih panas dari ini…” Kalimat itu kembali berputar dan berulang, dengan jemari yang tersambangi api-api dan jelaga. Dan teriakan si perempuan kembali terulang,

“Keimanan pria itu membunuh saya! Bawa saya pergi dari sini!”

 

===

 

Sang kakak sulung. Kebanggan keluarga, idaman setiap orang tua, teladan bagi adik-adiknya.

Kepalanya terbaring lunglai di pangkuan sang adik. Waktu telah menunjukkan pukul 00:23, belum beranjak dari sofa di ruang tamu. Namun aliran sungai itu telah mengering meninggalkan jejak-jejak jelas di wajah mereka seolah bekas luka. Napas yang telah kembali teratur, pita suara yang linu akibat tersumbat.

Kenapa? Sang adik bertanya.

Bagimana bisa saya melanggar perintah-Nya untuk tidak pernah mendekati zina? Bagaimana saya bisa membiarkan diri saya menyerah dalam hawa nafsu semata sementara dia tidak halal untuk saya? Bagaimana saya bisa membiarkan diri saya terjun ke dalam kawah neraka yang bahan bakarnya terbuat dari batu dan manusia? Dan apakah saya bakal membiarkan Abi menangis dan menderita di sana karena dosa yang saya lakukan, membiarkan perempuan itu masuk ke dalam lubang neraka yang sama?

Pria itu menangis dan menangis. Sepanjang malam itu ia menangis dan memohon ampun pada Sang Rabb, atas dosa yang telah ia lakukan. Atas kebodohannya telah berlaku dzalim pada dirinya sendiri. Karena telah lalai membiarkan pintu terakhir itu tidak terkunci sempurna. Karena kelalaian yang menyerah pada hawa nafsu daripada rasio dan logika. Sementara teman-temannya tertawa.

Mungkin itu menjelaskan berita tentang LSM yang didirikan sang kakak akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh dirinya. Atau mengapa ia menjadi begitu murung sejak perjalanan ke pulau di sebrang. Alasan isakannya di sepertiga malam, mengetuk pintu langit memohon ampun pada-Nya.

Teman-teman yang lain bertanya, apa yang ia tangisi? Mengapa ia memohon ampun sebegitunya? Ia tidak menyentuh perempuan itu sama sekali. Ia berada diujung pintu sementara perempuan itu berada di sudut yang lain, menjerit dan berteriak seperti orang hilang akal.

“Saya memohon ampun karena telah berani melangkahkan kaki mendekati perempuan itu, “ suaranya begitu sendu, dalam gumaman sarat kesedihan dan rasa takut di telinga sang adik. “Saya takut, sungguh takut. “

Maryam menyeka aliran air mata di wajah sang kakak, mengalirkan doanya yang terdalam melalui sentuhannya. Hanya seorang hamba yang tidak taat yang tidak bakal merasa takut.

“Kemudian saya teringat kalian di rumah. Bagaimana jika Shafiyya melakukan zina? Apa yang bakal saya lakukan terhadap laki-laki itu? Bagaimana jika itu terjadi pada Ummi? Masya Allah, saya sungguh tak sanggup membayangkannya. Bagaimana adiknya Abi, Mbak Laila, melakukan zina? Bagimana jika zina itu dilakukan oleh anak saya sendiri di masa depan? Dan bagaimana—

Bagaimana jika kamu melakukan zina? Ya Allah, Maryam, bagaimana jika itu adalah kamu? Saya bakal membunuh pria itu dengan tangan saya sendiri. “

Seorang Salman Arrazy belum pernah melontarkan perkataan demikian. Dan ia tidak pernah terkonsumsi begitu dalam oleh gejolak emosi karena ia berpegang teguh pada iman dan akal sehatnya. Namun kejadian itu begitu luar biasa bagi pria seperti kakak sulung kebanggan keluarga, wali bagi adik-adik perempuannya.

Sepertiga malam menguasai langit malam, pada bintang-bintang yang meluncur dan meledak menghasilkan lubang hitam; bintang-bintang yang dicuri oleh para jin untuk dibisikkan pada manusia malam akan masa depan. Napasnya kembali teratur, seratus pintu telah tertutup sekalipun belum sempurna. Kesedihan dan kemuraman itu bakal menjadi riak permanen dalam gurat wajahnya, membuatnya tidak akan pernah sama lagi.

Tapi di sepertiga malam adalah waktu dimana para malaikat turun ke bumi. Apa yang bakal mereka katakan saat subuh menjelang jika mereka masih bergelimang air mata dan keluh kesah? Bukankah seharusnya mereka melakukan sesuatu untuk membuktikan rasa sesal mereka, rasa cinta yang begitu besar pada Sang Rabb? Bukankah ini adalah saat yang tepat untuk membasahi bibir mereka yang kering dengan dzikir dan lantunan ayat-ayatAl-Quran?

“Mas, temani saya berwudhu. Kamu sudah qiyamul lail?”

 

Started: Ahad, 13/12/2015

Finished: Ahad, 13/12/2015 4:38 PM

(Inspirasi cerita dari kisah yang diriwayatkan oleh Ibn Jauziyyah al-Qayyim)

===

  •  “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ 17: 32).
  • “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(Ghafir 40: 19).

Imam Ahmad recorded from Abu Umamah saying that a young man came to Rasulullah SAW and said, “O Messenger of Allah! Give me permission to commit Zina. ”

The people surrounded him and rebuked him, But the Prophet said,

(Come close) The young man came to him, and he said,

(Sit down) so he sat down.

The Prophet said, (Would you like it for your mother) He said, “No, wallahi, may I be ransomed for you.”

The Prophet said, (Neither do the people like it for their mothers.)

The Prophet said, (Would you like it for your daughter) He said, “No, wallahi, may I be ransomed for you.”

The Prophet said, (Neither do the people like it for their daughters. )

The Prophet said, (Would you like it for your sister) He said, “No, wallahi, may I be ransomed for you.”

The Prophet said, (Neither do the people like it for their sisters.)

The Prophet said, (Would you like it for your paternal aunt) He said, “No, wallahi, O Allah’s Messenger! may I be ransomed for you.”

The Prophet said, (Would you like it for your maternal aunt) He said, “No, wallahi, O Allah’s Messenger! may I be ransomed for you.”

Then the Prophet put his hand on him and said, (O Allah, forgive his sin, purify his heart and guard his chastity.)

After that the young man never paid attention to anything of that nature.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s