[CERPEN]: AN-NISAA

an-nisa

 

Saya sedang jatuh cinta.

Kepada seorang perempuan, tentu saja.

 

Orang bilang jatuh cinta berjuta rasanya. Begitu pula cobaannya.

Saya yakin dia adalah cinta sejati saya di kehidupan sebelumnya. Dan kami pasti dipertemukan bukan tanpa alasan. Namun ketika lelaki jatuh cinta lalu alasan macam apa yang bisa mencegahnya untuk mencari tulang rusuknya yang hilang?

===

 

Kami bertemu di suatu hari yang mendung. Awan kelabu menggantung dengan matahari sudah berpamitan di ujung barat. Saya yakin yang pertama hanyalah sebuah kebetulan.

Perempuan itu menempati sebuah meja untuk dua orang di ujung ruangan, sementara saya bersama kolega tengah menikmati kopi usai jam kerja yang menguras pikiran. Tatapannya tertuju pada rintik hujan yang bedansa dengan asap knalpot kendaraan dan jalanan beraspal. Sesekali ia mengangkat pandangan untuk mengecek jam di pergelangan tangan.

Penampilannya sederhana. Ia hanya mengenakan gamis sewarna tanah dengan hijab standar yang menutupi lekuk-leuk tubuhnya. Saya tidak bisa menaksir berapa usianya, mungkin awal hingga pertengahan dua puluhan. Di penghujung hari pada musim yang orang bilang bakal terus kelabu, saya jatuh cinta. Pada pandangan pertama.

Saya pun tidak yakin ia menyadari kehadiran atau gelagat saya yang terus memperhatikannya di tiap menit. Pada tiap bentangan jarum jam yang sempit itu saya mampu merekam pada kartu memori di belakang kepala tentangnya. Wajah berbentuk hati, kulit putih langsat yang sangat bersih dan terlihat sangat halus untuk disentuh. Dan perempuan itu memiliki sepasang mata paling indah yang pernah saya temui. Seolah di antara kerumunan, sekalipun ia memakai cadar yang menutupi hampir keseluruhan wajahnya yang sempurna, kau akan tahu bahwa si pemilik mata adalah dia yang tak terkatakan.

Mungkinkah saya memiliki nyali untuk melangkahkan kaki dan mengajaknya berkenalan? Mungkinkah ia tengah menunggu kekasihnya di tengah hujan dan kelabunya malam?

Saya akan memberikan apapun agar malam itu saya bisa menatapnya lebih lama atau mungkin menyentuh kulitnya yang seperti pualam untuk seuntai nama.

 

===

 

Yang kedua kali pastilah sebuah kecelakaan.

Dan memang sebuah kecelakaan.

Anak lelaki itu melintasi jalur penyebrangan dari gerbang sekolahnya ketika seorang pengendara sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara. Kejadian itu tak terelakkan. Sementara sang anak tergeletak di bahu jalan, si pengendara langsung tancap gas tanpa banyak pikir.

Kali itu saya baru saja mengantar seorang tamu perusahaan ke bandara dan dalam perjalanan kembali ke kantor tatkala peristiwa itu terjadi. Secara impulsif saya menghentikan laju mobil. Tidak ada yang bergerak untuk melakukan sesuatu menolong si anak yang mungkin dalam kondisi antara hidup dan mati, mereka melintasi trotoar memanjangkan leher untuk melihat apa yang terjadi kemudian berlalu. Seseorang menelpon polisi dan ambulans.

Syukurlah jantung anak lelaki itu masih berdetak meskipun lemah. Saya segara membawa anak tersebut ke dalam mobil bersama dua orang simpatisan lain dan melaju ke rumah sakit dengan kecepatan menyaingi si pengendara motor; klakson memekik seolah pengganti sirene ambulans sebagai pertanda darurat.

Anak lelaki tadi mengalami pendarahan ringan di kepala dan patah tulang pergelangan tangan kanan. Namun selebihnya hanyalah luka eksternal.

Mereka menyodorkan berkas persetujuan untuk saya tanda tangani (Apakah saya keluarga korban? Apakah saya ayahnya?). Kedua pria simpatisan tadi telah beranjak pergi untuk kembali ke pekerjaan masing-masing. Tetapi saya tidak bisa meninggalkan anak itu sendirian sampai ada keluarganya yang datang. Entahlah, hati kecil saya menolak untuk pergi begitu saja, cuci tangan dari keadaan. Bocah itu hanyalah seorang anak, usianya pasti tidak lebih dari sembilan tahun, dan ia terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, menghirup aroma menyengat alkohol dan obat-obatan yang saya benci, dengan rasa sakit melebihi yang mampu ia tahan.

Saya meminta izin dari kantor dengan alasan tidak enak badan. Kemudian sisa waktu yang saya miliki hanyalah menunggu. Menunggu dengan kegelisahan yang terasa aneh. Terasa aneh karena saya mempertanyakan apakah seharusnya hal tersebut memang saya rasakan. Saya kasihan dengan bocah itu pastinya namun saya pun khawatir dengan keselamatan dan kondisinya.

Saya membongkar isi tas si anak untuk mencari identitas apapun. Alamat rumah, nomor telepon, kartu pelajar. Saya menghubungi sebuah nomor di kartu nama yang terselip di kantung paling depan namun tidak ada yang mengangkat—hanya tersambung ke mailbox. Satu kali terdengar voicemail yang menyuruh untuk meninggalkan pesan, maka saya tuturkan dengan singkat dalam lima kalimat sederhana apa yang terjadi dan kemana seseorang di balik kartu nama itu harus mencari.

Matahari kian bergeser ke barat pertanda hari mulai memasuki sore tatkala seseorang berjalan dengan tergesa di koridor rumah sakit, suara bergetar menanyakan ruang rawat anaknya. Namun perawat yang bertugas jaga berkata bahwa saat ini belum bisa dijenguk karena baru dilaksanakan operasi kecil dan pasien masih istirahat. Perkataan yang kemudian di lontarkan perempuan tadi merupakan tumpahan emosi seorang ibu. Mekanisme defensif yang luar biasa bagi seorang ibu untuk anaknya. Ia terus memohon hingga perawat tadi terlihat iba dan mengizinkannya untuk masuk selama sepuluh menit saja.

Punggung wanita itu menghilang ke dalam kamar di ujung koridor. Tidak sampai sepuluh menit kemudian suara perempuan tadi kembali terdengar memanggil dokter atau perawat atau siapapun petugas medis yang peduli dan mendengar. Anaknya sudah siuman. Atau bisa jadi tanpa sengaja perempuan tadi membangunkannya.

Sekarang saya agak bingung jika malam benar-benar turun dan tidak seorang pun keluarga yang datang mengunjungi anak lelaki malang tadi. Jadi saya harus tetap tinggal sampai esok hari? Atau jangan-jangan dia adalah anak yatim-piatu dan tinggal di sebuah panti asuhan?

Seorang perawat perempuan mencolek bahu saya, berkata bahwa putera saya (sejak kapan saya punya anak?) telah sadar dari obat bius pasca operasi. Kami melangkah ke dalam kamar di ujung koridor dan mendapati perempuan tadi tengah menangis sejadinya di samping ranjang anak lelaki malang itu, menciumi telapak tangannya, mengelus wajah tirus yang pucat namun terhiasi senyuman lebar dari kuping ke kuping.

“…Iya, Bunda, Om itu yang bawa aku kemari. Tapi aku nggak mau nginep disini, baunya nggak enak. Aku lapar nih, aku kepengin nasi goreng buatan Bunda—” celotehannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa, bahwa beberapa jam lalu pisau operasi mungkin baru saja mengiris kulit pelipisnya.

Saya heran dengan diri saya yang tidak terkejut mendapati perempuan yang saya temui berbulan lalu, yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kepala saya, yang keluar-masuk tanpa permisi di dunia khayal dan mimpi, adalah ibu dari anak lelaki tadi. Wajahnya dihiasi jejak sungai air mata namun saya tidak yakin kecantikannya pudar walau hanya satu derajat. Yang membuat saya merasa miris adalah bahwa dia telah menikah dengan lelaki lain.

Si perawat menyuruh kami untuk menunggu di luar membiarkan pasien istirahat hingga reaksi obat biusnya hilang sepenuhnya. Obat bius apanya. Saya yang terbius dengan Bundanya.

“Terima kasih, Pak, saya tidak tahu harus berkata apa lagi—jika tidak ada Bapak mungkin kondisi Ammar bakal lebih parah dari sekarang…” Ia kembali berlinang air mata. Entah mengapa melihatnya membuat hati seolah terikat logam berat. Saya menahan tindakan instingtif untuk menggenggam tangannya, meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Saya bahkan tidak keberatan dipanggil Bapak sekalipun biasanya saya sedikit sewot dengan panggilan tersebut; usia saya bahkan belum mencapai angka 26 tahun.

Saya hanya menjawab dengan anggukan singkat dan senyum sederhana, tidak bisa memproduksi kalimat yang lebih baik. Saya mengulurkan tangan, mengajukan nama. Namun perempuan di hadapan saya itu hanya menangkupkan telapak tangannya, membalas dengan senyuman yang juga sederhana.

Perempuan itu bernama Hafsa. Kini nama itu adalah mantra dalam keseharian saya yang menjenuhkan, penambah voltase jika resistansi otak terlalu besar, sedikit banyak saya melantunkannya ke dalam doa sebelum tidur tatkala langit menjadi temaram dan bintang berguguran dari gugusnya.

 

===

 

Yang ketiga seperti sebuah adiksi.

Kami berdomisili di kota yang sama, saya melihatnya di kafe yang sama dalam minggu-minggu penuh arti, kadang ketika saya melintas ia tengah menjemput puteranya tepat di depan gerbang sekolah.

Sekian bulan berlalu kemudian saya mendapati perempuan itu duduk di balik meja tepat di luar ruangan saya. Nah, ini baru saya kalang kabut terkejut tak habis pikir. Pukul delapan pagi, membawa gelas kertas berisi kopi hitam mengepul, pikiran bak benang kusut, kemeja dan dasi yang seadanya, kemudian sebentuk senyuman menyambut saya dari seorang bidadari surga. Syukurlah gelas di tangan saya tidak selip dari tempatnya.

“Assalamualaikum, Pak, selamat pagi. “ Tapi Hafsa tidak terlihat syok atau apapun melihat saya yang ternyata adalah atasannya sendiri. Busur senyuman itu hanya kian melebar. Sejak itu kehadirannya seperti tonik pribadi bagi pikiran dan juga hati saya pastinya.

Hafsa memperkenalkan diri seolah kami tidak pernah saling mengenal. Dia adalah pengganti sekretaris saya yang mengundurkan diri karena akan menikah bulan Maret nanti. Sebelumnya ia merupakan asisten senior di divisi sebelah. Perusahaan sedang berusaha mencari sekretaris pengganti namun sejauh ini belum ada yang kinerjanya bahkan menyamai pekerja sebelumnya, bahkan sangat sulit beradaptasi dengan ritme kerja sang manajer pun dengan suasanya hatinya. Kemudian ia mengajukan diri, jika terlalu posisi tersebut kosong maka kinerja divisi yang saya pimpin tidak bakal menghasilkan output yang optimum.

Bayangkan, Hafsa berkata demikian di hadapan saya. Dengan senyumannya.

Tidak apa-apa. Saya benar-benar tidak apa-apa.

Bahkan kami bekerja di gedung pencakar langit yang sama. Kami hanya terpaut tujuh lantai dan tidak pernah sekalipun kami berpapasan  dalam rentang waktu tersebut. Saya tidak mengerti, bahkan gedung ini lebih luas dari kota yang kami tempati. Dunia memang tidak selebar daun kelor.

Berikutnya orang-orang berkata di balik punggung saya bahwa sang manajer pimpinan berubah seratus delapan puluh derajat dibanding sebelumnya.

“ Hanya Hafsa yang bisa menjinakkan bos. Coba lihat, mana pernah dia membentak Hafsa seperti dia bicara pada kita dulu?”

“ Menurut kalian, Hafsa sudah menyantet si bos?”

“ Kalo santetnya begitu sih, gue nggak keberatan!”

“ Nggak mungkin, Hafsa itu perempuan baik. Yang paling mungkin adalah si bos naksir dengan dia, iya nggak?”

Dan mereka terdiam dari konversasi penuh prasangka itu, di dalam kafe kantor yang ramai, saling beradu bahu dan berbisik. Sesaat kemudian mereka menggangguk-angguk sepakat. Tapi mereka baru benar-benar membisu tatkala saya melewati meja mereka. Dan saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, toh asumsi yang terakhir bukanlah sekadar asumsi.

 

===

 

Saat itu adalah liburan sekolah. Seminggu sebelum itu Hafsa mendatangi saya, meminta izin untuk membawa puteranya ke kantor karena tidak ada orang di rumah yang menjaga Ammar. Hal itu membuat saya bertanya-tanya, dimanakah suaminya?

Tentu saja saya mengizinkan. Sulit untuk berkata tidak pada Hafsa. Tidak apa-apa, sungguh tidak apa-apa.

Lagipula, seketika itu juga Ammar menjadi kesayangan seluruh karyawan. Terutama para kaum hawa yang kebanyakan masih berstatus belum menikah. Dia adalah seorang anak yang cerdas, celotehnya menyenangkan hati, dan selalu sibuk dengan membaca buku. Anak itu tersembunyi di balik meja ibunya atau berada di pantry kantor.

Kemudian muncul desas-desus baru diantara karyawan saya sendiri. Dan hal ini pun kian melebar ke divisi lain hingga antar lantai pun saling bertukar buah bibir, tidak lupa menambahnya dengan bumbu-bumbu persepsi masing-masing dan prasangka, tentu saja.

“ Anaknya Mbak Hafsa kok mirip ya dengan si bos?”

“Hah masa? Mungkin mereka saudara—si bos bisa diterima disini cuma-cuma bukanya karena bokapnya sendiri yang punya perusahaan? “

“ Hm, bisa jadi, “ timpal yang lain. “ Mungkin Hafsa masih saudara dekat. “

“ Nggak mungkin! Mbak Hafsa ngelamar kerja bareng saya kok, kita sama-sama masuk sini susah payah, nggak kayak pimpinan kamu. “

 

===

 

Saban hari saya mengajak Hafsa dan Ammar untuk makan siang di luar kantor, mengingat kali itu adalah akhir bulan dan pekerjaan nyaris kelar sepenuhnya. Ammar terlihat jenuh dengan suasana kantor yang ruwet dan bisa dibilang mulai rewel karena ibunya yang sibuk.

Agaknya kehadiran Ammar seperti sebuah penghubung di antara kami. Sebelunya Hafsa selalu menolak jika saya ajak untuk keluar kantor atau sekadar minum kopi di kedai kopi di bawah. Namun akhir-akhir ini Hafsa terlihat lebih ceria, senyumannya benar-benar meradiasikan energi voltase tinggi bagi saya, dan juga karyawan lain. Setiap hari ia menyapa mereka dengan doa keselamatan, membantu semampu yang ia bisa sekalipun itu bukan tanggung jawabnya. Kehadiran Hafsa di divisi ini pun diterima dengan mudah pula seperti mereka dengan mudah jatuh hati pada Ammar.

“Bagaimana keadaan tangannya Ammar?” Aku bertanya pada si bocah yang makan dengan kalem.

“Aku sudah bisa makan sendiri, biasanya harus Bunda yang suapin. “

Saya menatap wajah si bocah. Dia memiliki mata dan hidung seperti Hafsa, namun kulitnya sedikit lebih gelap, mungkin karena terlalu sering bermain panas-panasan di luar. Orang mana pun tidak bakal ragu jika ia mengaku sebagai putera dari Hafsa Aaliyah. Selama sepersekian detik saya merasa seolah menatap ke masa lalu: sebuah potret usang dimana saya masih di bangku kelas tiga SD.

“ Mas Najmi sudah sholat dzuhur? Ammar belum sholat kan ya? Abis ini jamaah dengan Mas ya. “

Hati saya mencelos sampai perut. Sejak kapan Hafsa memakai frase Mas untuk memanggil saya? Sebelumnya pertukaran nama panggilan hanyalah dengan sebutan Pak, dan saya memanggilnya dengan sebutan nama. Demi setan-setan yang mendiami pembuluh darah, wajah saya pasti memerah seketika itu.

Apa yang mungkin orang sekitar pikirkan ketika melihat kami? Seperti keluarga kecil yang terlihat bahagia dan penuh syukur dengan kehadiran satu sama lain? Kurang lebih itulah yang saya pikir saya rasakan. Dan sangat saya harapkan bisa saya dapatkan dari kehadiran Hafsa dan Ammar dalam hidup saya.

Ketika Ammar pergi untuk mencuci tangan, saya memberanikan diri untuk bertanya,

“Kalau saya boleh tahu, suami kamu sedang kemana? “

Hafsa mendongak menatap saya. Sesaat ia terlihat getir, namun suaranya mantap tatkala menjawab, “ Beliau sudah meninggal dunia, Mas. “

Baiklah, saya tidak tahu harus menyahut apa. Salahkah jika seolah ada sayap-sayap mungil yang membawa hati saya terbang saat mendengarnya?

“ Oh? Tidak banyak yang tahu ya?”

“ Tertulis di CV tentang status saya kok, “ Hafsa terlihat agak geli. Dan saya memang belum membaca curriculum vitae yang teronggok di sudut meja sejak ia transfer. Saya tidak menanggap hal itu penting, tapi berikutnya saya pasti bakal membacanya.

“ Kamu pernah dengar nama Muhammad Al-Amin Salman Arrazy? “ Hafsa melanjutkan dengan nada antusias yang jarang terdengar keluar dari dirinya. “ Dia adalah suami saya. Ammar belum genap dua tahun saat beliau meninggal. “

Salman Arrazy? Sang insinyur muda sukses yang meninggal secara tragis? Berita itu menjadi headline selama seminggu penuh. Dan sepertinya duka kehilangan tokoh tersebut tidak pernah benar-benar hilang.

Namun seketika itu saya merasa ciut. Apalah saya jika dibandingkan dengan seorang Salman Arrazy? Jangankan dari prestasi, saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melaksanakan ibadah sholat wajib lima waktu secara penuh tanpa bolong. Rasa malu itu muncul bukan karena Hafsa atau pun sang insinyur, tapi seperti hati kecil yang meronta merindukan Rabb-nya. Hati kecil yang gersang oleh ayat-ayat suci, dikerubungi kabut asap kegelisahan membuat jiwa tak tentram.

Nanti saya ceritakan lagi ya, sekarang sholat dzuhur dulu.

 

===

 

“ Sekarang gue yakin seratus sepuluh persen, anaknya Mbak Hafsa pasti anak si bos!”

“ Hus! Ngaco kalo ngomong! Mbak Hafsa bukan perempuan seperti itu. “

“ Terus kamu bisa menjelaskan darimana kemiripan anak, ibu, dan si bos?”

“ Nah, kalau itu… “

Isu itu semakin merajalela hingga saya yakin Hafsa pasti sudah mendengar kabar burung tersebut. Yang saya khawatirkan bukanlah diri saya, tapi bagaimana respon Hafsa akan masalah tersebut. Bagaimana konten isu itu tidaklah penting, tapi kian hari Hafsa terlihat tidak nyaman dengan karyawan sekitar yang awalnya mengagumi dan begitu positif dengan kehadirannya kini berkebalikan menyerangnya.

Beruntung liburan sekolah telah berakhir sebelum isu brutal itu mencapai Ammar yang tidak tahu apa-apa.

Saya tidak pernah tahu seperti apa sosok seorang ibu sampai melihat Hafsa dalam kehidupan sehari-hari. Mama meninggal dunia ketika Sarah, si bungsu, masih balita. Dan kami pun tidak pernah dekat kecuali pada momen-momen seperti ulang tahun salah satu anggota keluarga. Atau ketika saya jatuh sakit. Saya merasa ada sisi dalam diri Mama yang membenci saya, tapi siapa yang pernah tahu? Saya tidak pernah menjadi anak yang paling berprestasi atau paling pandai di keluarga ketika Mama masih hidup. Saya tukang bikin onar dengan temperamen yang luar biasa. Lebaran tiba, beliau bakal memeluk saya dengan linangan air mata namun hari berikutnya gunung es itu rupanya tidak pernah benar-benar mencair.

Hari itu saya membaca CV yang tergeletak berbulan-bulan terlupakan. Sepuluh detik berlalu, saya meneguk sebentuk keterkejutan lain.

Hafsa Aaliyah Arrazy bakal menginjak usia empat puluh satu tahun. Status pernikahan: cerai mati. Sebelumnya ia telah bekerja di beberapa perusahaan dengan field yang tidak jauh berbeda hingga beberapa tahun belakangan ia juga terlibat sebagai relawan di sebuah LSM yang bergerak di bidang pembelaan hak asasi manusia, advokasi dan pedidikan. Jenjang pendidikannya adalah magister—setara dengan saya. Agaknya hal ini yang menundukkan arogansi saya. Softskill tambahan lain yang ia miliki juga di atas rata-rata karyawan pada umumnya, dan bahkan dengan pengalaman yang melebihi saya. Ia baru bekerja di perusahaan ini dua tahun belakangan dengan trackrecord yang meyakinkan dan tidak diragukan lagi.

Mungkinkah seperti ini definisi sebenarnya seorang ibu? Saya tidak pernah bangga dengan Mama, pun dengan kesabaran yang ia miliki saat menghadapi keluarga—dan saya, khususnya. Paradigma itu begitu kuat di antara kami bahwa perempuan sangat sulit untuk bertahan tanpa seorang suami di era ini.

Hafsa, perempuan macam apakah kamu?

 

===

 

Di penghujung minggu saya mengajak Hafsa dan Ammar untuk berwisata ke sebuah taman nasional di luar kota. Saya berharap ia bakal menolak tawaran itu. Tak dinyana, Hafsa lebih dari sekadar antusias. Hal ini mau tidak mau mengirimkan sinyal positif pada saya.

Saya tidak tahu bagaimana seharusnya seorang lelaki bersikap jika ia telah menjadi seorang ayah karena saya belum pernah memiliki anak. Bagaimana bisa saya bersikap kebapakan sementara saya belum menjadi seorang ayah?

Namun saya mencoba. Ayah kami merupkan definisi sejati seorang lelaki dan seorang ayah. Yang baru saya sadari adalah saya tidak pernah menjadi kakak yang baik dan menjadi teladan bagi adik-adik saya sejak dulu. Entah mengapa kini hal tersebut tidaklah sesuatu yang berat ataupun tidak mungkin.

Hafsa dan Ammar telah menjadi bagian dari keseharian saya. Jika hal tersebut hilang, bagaimana hari akan berlangsung secara normal saya tidak bakal tahu.

“ Mas, ayo kita lihat itu! “ atau “Mas, jadi imam ya?” Ammar tidak pernah memanggil saya dengan sebutan Om lagi, mengikuti sang ibu.

Kali itu kami tengah menikmati makan siang di sebuah rumah makan yang berada di kaki gunung. Bocah itu makan sedikit berlebihan sampai Hafsa harus menegurnya. Sekarang ia tengah bermain bersama anak-anak lain di taman bunga buatan dekat sungai.

Menit-menit yang berlalu terasa begitu lambat karena saya merasa Hafsa menatap saya lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya begitu lembut—seperti seorang kekasih? (Saya menampar diri sendiri karena berani berpikir kemudian).

“ Sudah sekian tahun, kamu tidak kepikiran untuk menikah lagi?” Saya memberanikan diri untuk berkontak mata dengannya. Inilah perempuan yang saya cintai, yang saya dambakan untuk menjadi ibu dari anak-anak saya kelak. Sungguh, saya tidak bisa meminta lebih dibandingkan hal tersebut. Apakah dia tahu, tiap malam saya mengetuk pintu langit dengan tersisip namanya dalam doa saya?

“ Entahlah, Mas. Menurut kamu? “ Hafsa tidak pernah menggunakan nada formal lagi sejak yang pertama itu. Dan dia selalu memiliki suasana hati yang humoris dan lembut ketika bicara dan menghadapi saya; amat berbeda dari pertama kali kami bertemu.

Saya tidak menjawab.

“ Saya sudah tidak muda lagi, “ Ia kemudian menjawab. Penampilannya tidak sepakat dengan kalimat tersebut. “ Hal itu tidak menjadi prioritas dalam hidup saya. Toh selama ini, Alhamdulillah,  kami tidak pernah merasa kekurangan. Yang terpenting adalah membesarkan Ammar dan kebahagian anak-anak. “

Anak-anak? Baiklah, memang tidak tertulis di CV jumlah anak yang ia miliki. Haruskah saya bertanya pula?

Hafsa melanjutkan, “ Seharusnya saya yang bertanya begitu. Mas Najmi kapan akan menikah? Sudah lewat dua puluh lima lho. “

Saya harus bagaimana jika yang saya ingin nikahi adalah kamu?

“ Perempuan yang saya sukai tidak menginginkan saya sepertinya. “

Hafsa memuji bahwa saya adalah seorang lelaki yang baik, tidak mungkin tidak perempuan yang tidak menyukai saya sebagai seorang suami. Lalu dia mulai bercerita tentang pernikahannya dahulu dengan Salman Arrazy. Mereka bertemu secara kebetulan saat melakukan survey di wilayah timur negeri, beberapa bulan kemudian murobbi (saya mengernyit—“Sebutlah, guru ngaji, ”) masing-masing mempertemukan mereka karena Salman tidak kunjung menemukan perempuan yang sesuai. Proses itu hanya berlangsung selama tiga bulan setelah si pria mendatangi ayah pihak perempuan. Tiga bulan? Hampir satu tahun dan bahkan saya tidak selangkah lebih dekat dengan jenjang pernikahan.

Emosi itu tertera gamblang di wajahnya bahwa ia masih mencinta suaminya dahulu. Dari caranya bicara, saat menyebut namanya. Cinta itu tak pernah pudar.

“ Sejujurnya saya tak terbayang bakal menemukan pria lain untuk menggantikan Mas Salman. Saya sudah menemukan yang terbaik tetapi dia memang bukanlah milik saya. Kebahagiaan itu telah kami bagi dalam dunia yang fana ini. Tapi saya mencintainya karena iman saya pada Allah, tiap malam saya berdoa agar kami dipertemukan kembali di taman surga. Bersama anak-anak.

Dan saya sungguh berharap Mas Najmi bisa menjadi imam yang baik bagi isteri kamu nanti. “

Apakah kamu sedang mempermainkan saya? Suaranya nyaring di telinga saya; suara hati yang patah itu. Namun sentuhannya seolah menyembuhkan. Hafsa, bagaimana bisa kamu menyentuh saya jika kamu tahu bahwa kamu tidak halal bagi saya?

Tapi itu tidak penting. Karena harapan itu kembali melambung tatkala kamu menepuk lembut lengan saya.

 

===

 

Orang yang belum pernah merasakan cinta pasti tidak akan paham.

Tapi rasa ingin memiliki itu begitu menggebu di hati saya. Dan saya tidak memiliki murobbi untuk menghubungkan kami dan bahkan saya tidak tahu apakah ayah dari Hafsa Aaliyah masih hidup atau tidak.

Malam itu ketika hanya tinggal kami yang masih di lantai gedung kantor, saya menawarkan untuk mengantar pulang. Yang, tentu saja, ia terima dengan senang hati. Sedikit banyak saya merasa kecewa dengan sikap Hafsa yang seolah bermain tarik ulur dengan saya. Bagaimana mungkin dia memperlakukan saya dengan seperti ini jika dia tahu dengan perasaan saya selama ini? Lalu kemudian dia berkata bahwa dia tidak ingin menikah lagi.

Sebenarnya, bagaimana posisi saya di hati kamu?

Selama perjalanan itu Hafsa menanyakan bagaimana suasanya hati saya karena terlihat agak muram. Esok hari ia akan membuatkan makan siang yang sama untuk saya dan Ammar, dia prihatin karena sepertinya saya memiliki pola makan yang kurang teratur. Lalu ia bertanya apakah saya sudah sholat isya hari itu? Tiada pernah hari terlewat tanpa saya melaksanakan sholat wajib lima waktu meskipun itu bukan karena dia.

“ Bacaan Quran kamu nggak masalah kan ya?”

Tentu saja bermasalah. Saya mengaku bahwa sudah bertahun saya mengabaikan kitab suci tersebut di laci meja kamar. Dan melihat reaksi Hafsa yang tidak biasa sepertinya itu adalah masalah besar. Ya, saya tahu, itu adalah masalah besar. Mungkin jika saya adalah pria yang shalih sejak dulu mungkin saya yang bakal jadi suami kamu, bukan Salman Arrazy.

“ Mungkin Mas Najmi bisa minta didekatkan dengan jodoh lewat sholat malam. Nanti jika kamu sudah ketemu perempuan yang kamu sukai, jangan lupa kabari saya, “ Ia mengulurkan tangan kembali menepuk lengan saya lembut seraya tertawa kecil. Seolah prospek saya menikah dengan wanita lain sungguh menyenangkan.

Agaknya jika perempuan itu bukan kamu, saya pun ragu saya bakal menikah.

Hari sudah cukup malam. Ammar mungkin sudah terlelap di kamarnya. Namun Hafsa menawarkan untuk mampir sebentar yang saya yakini bukan sekadar basa-basi. Hafsa jarang berbasa-basi.

Dalam interval waktu yang terasa dua kali lebih lambat itu saya berusaha merangkai kata untuk bicara. Dan Hafsa terlihat mulai khawatir dengn diri saya yang bermuram durja.

“ Kalau kamu capek, kamu menginap saja baru kembali pulang besok pagi. Toh besok hari libur. Ada satu kamar kosong—atau kamu mau tidur bersama Ammar? “

Apa maksud dari perkataan kamu barusan? Apakah kamu bakal membiarkan pria lain berada satu atap dengan kamu sementara suamimu sudah tidak di sini lagi. Dan kamu bukanlah mahram saya. Hafsa, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?

Saya meraih tangannya untuk pertama kalinya, dada membuncah oleh perasaan tak terkatakan tatkala ia tidak menghindari sentuhan itu. Kulitnya memang sangat lembut seperti yang terlihat dan berkali lebih cerah dari kulit saya yang agak kasar.

“ Hafsa, menikahlah dengan saya. “

Air mukanya segera berubah dalam sepersekian detik. Ia menarik tangannya seolah memegang bara api. Saya tidak mengerti mengapa ia terlihat begitu terganggu dengan kalimat tersebut. Ia tak mampu berkata-kata hingga lelehan air garam membasahi pipinya.

“ Mengapa kamu mengatakan hal demikian?”

“ Karena saya mencintai kamu, “ Sesederhana itu. Seperti noktah pada kertas putih. Dan memang segamblang itu. Saya tidak tahu apa yang menyelubungi matanya dari melihat perasaan yang terlukis jelas di wajah saya kapanpun kami bertemu. Tetapi sungguh, saya tidak menyangka kalimat tersebut bakal membuatnya kian tersedu.

Saya menunggu ia untuk mengatakan sesuatu. Namun hanya ada suara tercekik kesedihan dan air mata yang begitu memilukan hati. Sungguh, saya tidak bermaksud untuk menyakitinya. Apakah pernyataan cinta bakal menyakiti  siapapun?

“ Hafsa. Apakah saya tidak cukup baik— “

“ Saya adalah ibu kandung kamu. Mana mungkin saya menikahi kamu? “

 

===

 

Dua puluh lima tahun lalu.

Saat itu ia sebaya dengan teman-temannya yang duduk di bangku SMA. Jauh dari ibu kota. Kesehariannya adalah pemandangan lereng gunung, petak-petak sawah, dan suasanya pesantren milik Abi.

Si bungsu, Umar, memilih melanjutkan pendidikan di pesantren. Sulung dalam keluarga, Mbak Zaynab, melanjutkan pendidikan perguruan tinggi karena telah bercita-cita menjadi guru sejak kecil. Anak kedua, Mbak Raihana, bersekolah di Madrasah Aliyah yang sama dengan Hafsa. Namun ada kabar bahwa seorang lelaki telah menemui Abi untuk menikah dengan beliau. Tapi masih belum ada kejelasan, semua pasti setuju bahwa si perempuan masih terlalu muda. Terlebih dengan cita-cita ambisius untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Di awal tahun pria itu masuk ke pesantren dengan diantar sendiri oleh ayahnya. Beliau berpesan pada Abi untuk memberikan pendidikan agama yang baik bagi puteranya. Ia merasa kurang mampu untuk memberikan pengetahuan di bidang tersebut, namun si anak baru saja menyelesaikan studi sarjana mudanya sebulan lalu.

“Daripada dia berkeliaran nggak jelas dengan teman-temannya. “

Sejak awal pria itu tidak pernah menundukkan pandangannya tatkala Hafsa berada dalam jarak pandang. Mungkin ia mencoba dengan perempuan lain. Usianya mungkin enam atau tujuh tahun lebih tua darinya. Dan ia tidak memiliki perangai yang buruk selain temperamental dan adiksi terhadap nikotin. Entah apa yang dikatakan Abi pada pria itu hingga ia takluk sedemikian rupa. Berdasarkan statmen sang ayah, pria itu begitu urakan dan raja dunia malam. Sedikit banyak, bisa jadi sang ayah berusaha cuci tangan dalam mendidik mental dan perangainya.

Seiring berjalannya waktu, terlihat bahwa dia adalah pria yang sangat peduli dan berhati lembut. Di siang hari ia berpuasa sementara pada malamnya ia akan melaksanakan shalat qiyamul lail. Dan ia adalah anak yang sangat ramah dan ringan tangan. Kelak ia bakal mewarisi perusahaan ayahnya, salah satu perusahan konstruksi terbesar di seluruh negeri, dan yang paling dibutuhkan negara adalah pemimpin yang shalih dan shaliha.

Mereka bertatap muka langsung untuk pertama kalinya di sore hari yang mendung. Awan kelabu bergulung dengan butiran hujan merintik kian deras. Hafsa berlindung di sebuah saung agak jauh dari jalan raya, ia biasanya melewati jalur tersebut jika pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Pria itu melintas dengan memakai sebuah payung lebar. Ia mengucapkan salam tanpa benar-benar menundukkan wajahnya.

“ Waalakumsalam. Mas Malik baru pulang dari masjid?”

“ Ya. Kamu tidak bahwa payung?”

Itulah yang pertama. Lima puluh meter dari rumah, Hafsa segera berlari menuju pintu, meninggalkannya begitu saja.

Entah bagaimana bisa, namun sejak itu seolah pertemuan antara dua orang tersebut sering tak terhindarkan. Sang pria mengangkat wajah tatkala si gadis melintas, dan sikap ambivertnya membuat mereka sering bertegur sapa tatkala bertemu. Seperti sebuah repetisi dalam rutinitas.

Mereka tetap bertemu di jalur yang sama untuk kemudian pada jarak lima puluh meter dari pintu rumah mereka bakal berpisah. Sekali, dua kali. Perempuan manapun bakal setuju bahwa Malik adalah pria yang menarik dengan kualitas yang juga baik. Dan sudah banyak pria yang mengharapkan uluran tangan Hafsa namun Abi menolak mereka semua. Tetapi mungkinkah salam dan senyuman yang mereka bagi lebih daripada seharusnya?

Dan seperti sebuah repetisi tatkala tangan mereka bersentuhan saat berjalan beriringan seolah tidak ada yang saling mengindahkan. Malik hafal betul tiap jengkal kulit perempuan sebelum ini namun Hafsa lebih dari itu. Dia adalah perempuan paling cantik yang pernah ia temui. Dan lebih dari segalanya, ia belum halal baginya.

Sekali, dua kali. Seperti sebuah repetisi. Tidak ada yang menjadi saksi hidup secara fisik saat jemari mereka bertaut dalam perjalanan pulang hingga lima puluh meter dari pintu mereka bakal pisah jalan. Demi setan-setan dalam tiap pembuluh darah mereka, malaikat-malaikat siang dan malam yang mengiringi langkah kaki manusia, dan Rabb-nya yang Maha Tahu. Mereka sama sekali tidak mengindahkan.

Atau di malam-malam bisu mereka bakal mencuri waktu. Di siang hari ia memang berpuasa maka saat matahari tenggelam pintu ke seratus itu terbuka. Dan pintu-pintu lainnya. Di sepertiga malam tidak di antara mereka berdua yang melaksanakan qiyamul lail ataupun tahajjud untuk mengetuk pintu langit dengan nama yang mereka cintai.

Sekali, dua kali. Seperti sebuah repetisi. Ada sebuah ruang tak terpakai di belakang pondokan yang memang tidak terpakai. Mereka bakal mengobrol sepanjang malam hingga subuh menjelang. Sentuhan-sentuhan itu memang familiar bagi Malik. Namun, bagaimana dengan Hafsa yang begitu asing dengan sosok yang bukan mahramnya? Reaksi yang terjadi memang impulsif. Tapi tak ada yang mereka lakukan yang bakal menyakiti pihak manapun. Malik akan kembali kemari, saat ia telah memiliki sesuatu yang pasti. Apapun itu, mereka tidak peduli. Tiap malam mereka saling memiliki.

Tidak ada yang tahu. Tidak satu jiwa pun tahu rutinitas tiap malam itu. Hanya setan-setan itu, para malaikat yang mencatat, dan indera-indera yang menjadi lebih peka dan tajam di tiap sentuhan. Namun mereka lupa pada Dia yang Maha Tahu.

Lupakah mereka pada peringatan agar jangan pernah mendekati zina, bahwa itu adalah jalan yang buruk. Tidak tahu. Hati mereka pun tidak ada yang pernah tahu, termasuk mereka. Karena hanya Allah yang memiliki kuasa dalam membolak-balik hati manusia.

Sekali, dua kali. Seperti sebuah repetisi. Nafsu itu berasal dari apa yang terlihat, dari sepasang mata yang menatap. Ia berasal dari sepasang telinga yang berdiri mendengar. Ia berasal dari mulut yang berbicara, berbisik, merayu. Dan kemaluan lah yang membenarkan nafsu tersebut.

Maka, terjadilah yang terlarang itu.

Mereka masih bertemu dan mengobrol seolah hal itu tidak pernah terjadi. Tapi mereka sama-sama tahu. Mereka takut. Bukan, bukan pada orang tua Hafsa—ataupun pada warga yang mungkin bakal membunuh mereka jika mengetahui dosa besar yang mereka lakukan. Hati kecil itu akhirnya bicara. Jiwa memang tidak tentram. Lalu justifikasi apa lagi yang mereka ajukan atas apa yang telah terjadi?

Cinta?

Itu adalah kemaluan yang membenarkan dengan nafsu sebagai bahan bakarnya.

“ Saya akan menikahi kamu, “ ujar Malik. Wajahnya tidak pernah sendu demikian rupa. Pastilah semalaman suntuk ia terjaga dan menangis.

Seperti harapan dalam selubung janji yang tertunda. Malik kembali ke kota selang tiga minggu kemudian karena memang hanya sebatas itu waktunya berada di pesantren. Waktu bersama Hafsa, si kembang desa anak kyai yang belum genap enam belas tahun.

 

===

 

“ Beberapa bulan lalu saya mendatangi Mas Malik untuk meyakinkan diri saya sejak pertama kali melihat kamu setelah sekian lama tanpa kabar. “ Hafsa meraih wajah Najmi dengan kelembutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sepasang mata indah itu kini berlinang air mata, dan yang ia tangisi adalah dirinya.

“ Selepas lulus SMA kamu bertolak ke negeri seberang, ayah kamu berhenti mengirimkan foto-foto. Saya ingin bertemu, tapi kamu pun seperti tidak berniat kembali. Tiada hari yang terlewati tanpa saya merindukan kamu, Nak. Kamu hanya tinggal bersama saya tidak lebih dari delapan bulan sampai akhirnya Mas Malik memutuskan untuk mengadopsi kamu. Sudah begitu saja. Dan kamu bahkan tidak ingat pertemuan terakhir kita saat kamu masih kelas tiga SD. “

Najmi merasa kebas hingga ke ujung jemari. Ia tidak mampu merangkai kalimat apapun untuk dikatakan. Mungkin ini rasanya syok dihantam kereta kemudian malaikat pencabut nyawa menyapa di detik berikutnya. Segala perasaan yang ia miliki terhadap perempuan di hadapan seolah terseot lubang hitam tak kasat mata begitu saja. Bintang-bintang raksasa meledak, meluncur tergerus atmosfir, membawa rahasia-rahasia akan masa depan yang dicuri oleh para jin untuk dibisikkan pada manusia malam.

“ Saya tidak tahu apakah harus tertawa mendengar lelucon ini, Hafsa. “

“ Bunda, saya ibu kamu. Panggil saya Bunda. “ Perempuan itu kini terisak, mendekapnya begitu erat seolah ia adalah sosok dari masa lalu yang hilang dan kini kembali. Rasa cinta itu begitu meluap-luap, inikah rasa cinta seorang ibu yang belum pernah ia rasakan secara langsung? Bukankah Mamanya adalah ibu kandungnya? Tapi mengapa Mama seolah tak sanggup bahkan untuk menyentuhnya?

“ Hafsa, ini tidak lucu… “

Apakah ia tertawa atau menangis? Perempuan ini masih terus bergelimang air garam, menjejak sungai-sungai di wajah cantiknya. Terus begitu selama momen-momen bisu yang menyelebungi. Dan Najmi masih berusaha menelan bongkahan batu kertekejutan dan rasa tidak percaya di kerongkongannya yang tersekat. Najmi tidak pernah berpikir akan tiba waktu dimana ia dan wanita yang dicintainya bakal saling merangkul dan berbagi segala perasaan dengan cara seperti ini. Tidak sebagai ibu dan anak.

“ Jika kamu—“ Ia mengangkat wajah, menatapnya lurus-lurus di bola mata, dan selama sedetik ia mampu melihat wanita berhati baja yang tertanam dalam diri setiap ibu. “ Jika kamu memang tidak ingin memanggil saya demikian, tidak apa. Sungguh, tidak apa-apa. Tetapi—jika kamu tidak bisa menerima bahwa saya sebagai ibu kandung kamu… Ya Allah, tiada hari berlalu tanpa saya menyesali hari itu. Tetapi kamu adalah anugerah, Nak. Kamu dikirimkan kepada kami sebagai anugerah. “

Mungkinkah seorang anak menjadi anugerah sekaligus cobaan bagi para orang tua?

“ Lalu bagaimana dengan saya? “

“ Apa maksudmu? ”

Kini Najmi menatap perempuan itu lurus-lurus, mencari kebenaran disana. Jika ini adalah lelucon maka ini adalah lelucon paling tidak lucu sejagat raya. “ Bagaimana dengan saya yang mencintai kamu? “

“ Tidak ada yang diharapkan seorang ibu dari seorang anak daripada cinta. Dan juga doa. “

Jadi ini bukan lelucon. Dan ini memang tetap tidak lucu. Karena kini ia matanya yang terasa mengembang oleh luruhan air garam. “ Saya tidak mencintai kamu seperti seorang anak. Saya jatuh cinta kamu seperti seorang lelaki pada perempuan, sejak pandangan pertama. Saya sungguh berharap bahwa yang kamu katakan barusan hanyalah untuk menguji saya—“

“ Nak… “

“ Apapun kondisi kamu, saya siap menerimanya. Berapapun anak yang kau miliki, berapapun mantan suami kamu sebelumnya. Saya—saya tidak menginginkan perempuan selain kamu. “

Sesuatu bergemuruh di dada Hafsa mendengar perkataan seorang pria yang seharusnya berpegang pada rasio dan akal. Ia mengguncang tubuh pria itu berusaha membawanya pada realita dan kesadaran bahwa lelucon yang ia terka-terka tidak pernah ada. Kapankah terakhir kali ia menangis air garam seolah mengalirkan lava? Tidak tahu, tidak ingat. Hal itu pun tidak menjelaskan kesedihan luar biasa yang melanda dan kecewa dan marah dan sesal. Jika emosi adalah hitam, maka ia telah menyatu dengan malam dengan sepasang jendela oval sewarna bintang raksasa yang baru saja meledak detik sebelumnya.

“ Sembilan bulan saya mengandung kamu, saya membawa kamu kemanapun saya pergi. Ke dalam kelas, ke jalanan, ke pasar. Mereka semua menjadi saksi aib yang saya lakukan, mereka semua berbicara tentang saya yang mencoreng nama baik keluarga. Saya melahirkan kamu dengan menyabung nyawa. Kamu hanya berada dalam pelukan saya kurang dari delapan bulan sampai dia meminta kamu semudah kamu bicara tentang cinta pada pandangan pertama!

Jika kamu tahu, beliau berkata demikian tentang saya. Wallahi, ia tidak pernah mencintai saya karena Allah! Saya tidak pernah benar-benar kembali ke rumah setelah orang tua mengirim saya ke luar daerah. Tidak ada orang tua mana pun yang berharap bercerai dari anaknya, Najmi. Tidak pula saya.

Apakah kamu masih bakal tetap mencintai pada pandangan kedua, ketiga, dan seterusnya? Tidakkah kamu mendamba perempuan yang kamu cintai bersamamu di surga, dan juga anak-anakmu, dan orang tua?

Anakku, jika kamu mendengarkan hati kecilmu, hentikanlah ucapanmu itu. “

 

===

 

Jika ada yang berkata bahwa Salman Arrazy adalah jelmaan malaikat, mungkin ia bakal percaya.

Pukul sepuluh malam resepsi itu telah selesai diselerenggakan. Hanya sebuah pesta kecil-kecilan namun dengan hampir seribu undangan. Rupanya lelaki yang telah menjadi suaminya ini merupakan orang ‘penting’ dan jaringan relasi yang sangat luas.

Pesta semalam sebagai bulan dan matahari yang bersatu dalam kepingan gerhana, berbagi senyuman dan doa. Begitu banyak orang yang mendoakan mereka. Atap langit pastilah ramai dengan ketukan masal oleh doa-doa yang semoga diaminkan pula oleh para malaikat.

Mungkinkah malam itu akan ia habisi bersama pria lain yang juga sama asingnya dengan yang terdahulu? Namun kali ini pria itu adalah suaminya sendiri. Yang telah halal baginya. Pakaian bagi dirinya dan ia adalah pakaian bagi suaminya.

Pikiran bahwa bakal ada tangan-tangan asing yang berusaha meraihnya sungguh membuat ngeri. Tatkala Salman memasuki kamar mereka usai bersih-bersih, ia agak heran mendapati sang isteri yang bermuram durja.

“ Saya sudah tidak jujur dengan kamu. “ Hafsa memulai.

“ Saya tahu bahwa saya memiliki perasaan berbeda kepada kamu namun saya sungguh takut ia akan bertumbuh lebih dari sekadar rasa kagum. Namun pada akhirnya saya memang mencintai kamu dengan harapan kamu bakal membimbing dan membawa keluarga ini ke surga bersama. Bahwa kita sama-sama merindukan Allah dan Rasul-Nya. Bahwa saya berharap kamu tidak mencintai saya melebihi cintamu pada Allah.

Tetapi saya tidak jujur dengan kamu. “

Pengakuan itu adalah sebuah cerita, sejarah.

Bagaimana kamu menjelaskan pada suamimu bahwa pernah ada lelaki lain yang pernah menjamah perempuan yang kini telah kau nikahi? Bagaiman kamu menjelaskan pada lelaki yang telah menjadi suamimu bahwa kamu pernah menjalin hubungan tidak halal bersama lelaki lain? Bagaimana kamu menjelaskan bahwa lelaki lain itu telah mememelihara perasaan dan harapan yang tidak pantas, telah menyentuh apa yang tidak seharusnya disentuh, dan melakukan apa yang seharusnya terlarang?

Dan perbuatan dosa itu berbuah seorang putera yang kini telah duduk di bangku SMA Ia adalah pemuda yang pandai namun sering membuat onar. Ia bernama Ahmad Najmi ar-Rumi karena ia memiliki sepasang mata seolah disepuh bintang-bintang.

Seorang Salman Arrazy sungguh-sungguh berlinang air mata mendengar pengakuannya. Jika pada detik itu talak akan diberikan, maka hanya keikhlasan yang mampu ia upayakan.

“ Jika memang demikian, “ Lelaki itu menempatkan diri dengan hati-hati berhadapan dengan Hafsa, menatapnya lurus di bola mata. Ada ketulusan disana. Dan juga cahaya. “ Maka biarkan saya menjadi pakaian untukmu dan relakan diri kamu menjadi pakaian bagi saya. Tugas saya adalah memimpin dan membimbing kamu, menjadi imam kamu. Itulah pilihan saya sejak awal. Insya Allah, inilah jalan yang diridhoi oleh-Nya.

Dan hal itu akan terbukti di hari akhir nanti bahwa saya mencintaimu karena Allah, utuh dan seluruh. “

 

===

(Inspirasi cerita dari potret foto-foto untuk majalah terbitan dalam negeri dengan pose yang kurang pantas bagi seorang ibu dan anak.)

PS: Sulit sekali untuk karakterisasi tokoh Najmi dan Salman.  Mungkin karena saya bukan lelaki.

20/12/2015

18:22 PM

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s