[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 1

google-earth-gunung-lawu.png

Legenda dan mitos masih menyelimuti dari kaki hingga ke puncak gunung yang konon tertua di Pulau Jawa ini. Cerita yang beredar sarat dengan kebudayaan dan kearifan yang masih begitu terjaga kental. Di kelas sejarah kita mempelajari bagaimana kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha begitu Islam menancapkan pengaruhnya di pelosok pulau. Pada Prabu Brawijaya yang melarikan diri ke puncak Lawu untuk menghindari kejaran musuh dan orang-orang yang tidak menyukainya  hingga akhirnya raganya dibuat ‘raib’ di salah satu puncak Lawu yang cukup tersohor: Hargo Dalem.

Tak pelak, Lawu menjadi tempat untuk melaksanakan kegiatan ziarah dan bagi beberapa orang untuk bertapa. Salah satu upacara yang paling terkenal dilakukan pada tanggal 1 Syuro.

Namun yang membuat Lawu cukup populer di kalangan pendaki adalah pemandangan yang ditawarkan. Juga tujuan wisata yang terdiri dari: studio alam, air terjun, kawah, sabana. Gunung ini memang istimewa dengan keunikannya tersendiri. Dan pastinya dengan kualitas yang membuat rindu pendaki manapun. Sayangnya, saat kami melakukan pendakian hutan di sekitaran kaki gunung separuh gundul dan menghitam akibat kebakaran hutan.

Pendakian kali ini ditemani oleh squad yang saya sebut sebagai ‘The Lawu Squad’ sebuah fellowship yang terdiri dari empat belas pendaki yang berusaha mengisi liburan kuliah agar tidak terkesan begitu gabut.

IMG_8538
The Lawu Squad (Atas-Bawah, Kiri-Kanan: Aji, Havel, Fikri, Ata, Amank, Gilang, Zebian, Gina, Shafrian, Indi, saya, Amal, dan Rahmah; minus Richard yang jadi fotografer).

 

 

Keberangkatan dimulai dari Stasiun UI dengan menumpangi KRL menuju Stasiun Pasar Senin untuk menumpang kereta Brantas. Terdapat dua jalur pendakian yaitu Cemoro Kandang (wilayah Tawangmangu), Cemoro Sewu (wilayah Sarangan). Kami memilih jalur yang pertama sehingga selepas turun di stasiun Solo Jebres kami menumpang sebuah mobil ELF ke arah Tawangmangu. Omong-omong jarak basecamp kedua cemoro di atas hanya berjarak +/- 1 km. Tetapi seperti perjalanan pendakian yang tidak akan pernah sama, kedua jalur ini pun menawarkan pemandangan yang berbeda dengan medan trek yang berbeda pula.

PETA-JALUR-PENDAKIAN-GUNUNG-LAWU-CEMORO-KANDANG-DAN-CEMORO-SEWU3
source: infopendaki.com

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, warga sekitar masih berpegang teguh pada kearifan lokal. Kami disodorkan sebentuk daftar berisi saran dan anjuran selama melakukan pendakian, pula dengan pantangan yang baiknya dipatuhi untuk menghindari geger gempar. Baju hijau kebanggan Zebian dan headlamp Richard yang berwarna hijau pupus ‘disita’. Beruntung celana gunung yang saya pakai (omong-omong, warnanya hijau army) tidak ikutan disuruh copot.

Ah, sobat, inilah pengalaman saya menjadi senior divisi untuk pertama kalinya. Take the notion not as a burden yet as a responsibility instead. Yes, indeed.

Sebagai Karom (Kepala Rombongan), Zebian telah menetukan formasi jalan, begitu pula estimasi waktu perjalanan. Formasi pergerakaan selama pendakian dibuat seputar: Zebian-Indi-Gilang-Rahmah-Gina-Richard-Amank-Ata-saya-Amal-Aji-Shafrian-Havel-Fikri. Dengan pertukaran yang tidak bakal jauh dari posisi tersebut. Tentu saja ada tujuan dari pemilihan urutan demikian. Rahmah dan Havel memegang kotak P3K dan menempati posisi di depan dan belakang barisan. Mereka yang di depan harus melawan rasa lelah ketika ia menyerang agar terus bergerak dan membantu pergerakan teman-teman di belakang. Sementara yang di barisan belakang harus menahan ego mereka untuk bergerak secepat ritme yang mereka miliki. Inilah dinamika kekeluargaan yang berusaha kami bentuk dalam divisi Gunung Hutan.

Nilai-nilai itu tertanam dalam kebersamaan yang kami bagi. Selama jam-jam mendaki dan tertutama saat kami merasakan nyeri di sendi sebagai bagian dari tubuh kami sendiri.

Sedikit tips: udara sekitar memang cukup adem di pagi hari namun menjelang siang harus, mesti, kudu, wajib, pakai tabir surya (sunblock) agar kulit wajah tidak terbakar (naik dan turun gunung pun harus stay good looking.) Becanda deng, masalahnya kalau kulit udah sunburnt perih cuy.

Awal-awal pendakian dimana treknya menanjak dengan normal (definisi normal berupa tanjakan tanah seperti bukit biasa). Kami bertemu dengan beberapa warga yang sudah beraktivitas mungkin sejak fajar menjelang. Wajah-wajah ramah dengan kulit kecokelatan akibat bertahun terpapar sinar matahari, bibir yang tidak abstain senyuman. Kesantunan warga disana membuat kami segan. Kami menyapa dengan cengiran tengil terbaik kami: “Monggo, Mas, Pak. “

Ah, sobat. Lagi-lagi saya mendesah. Mengapa begitu?

Karena di awal-awal itu agaknya saya sedikit malu karena napas ini sudah begitu memburu dan sedikit-banyak tungkai saya menggeram seperti knalpot mesin empat tak. Ego saya berbisik: Sudah MP Argopuro masa kayak gini? Pastinya, itu hanya ego dan pemikiran sesaat. Itu adalah bagaimana tubuh saya berusaha mengkondisikan diri dengan beban bawaan dan trek medan pendakian.  Kami mengambil ritme jalan selama dua puluh menit-sepuluh menit istirahat di awal untuk kemudian ditambah menjadi setengah jam jalan-sepuluh menit istirahat.

Di perjalanan ini saya baru menemukan ritme perjalanan saya sendiri untuk mendaki. Pada dua puluh menit pertama itu dimana napas saya seperti balon kembang-kempis adalah dimana tubuh ini mengkondisikan diri, mencari ritme. Hingga kemudian saat perjalanan terus berlanjut, mulai dari napas, langkah kaki, dan rasa pegal dari beban yang dibawa seolah stabil; menjadi bagian tubuh sendiri. Tetapi di perjalanan ini, begitu kestabilan itu sudah dirasakan kami harus berhenti sesuai jadwal untuk beristirahat. Sedikit banyak ini adalah hambatan untuk saya. Tapi perjalanan ini adalah komunal, bukan terdiri dari saya sendiri. Inilah yang disebut sebagai menekan ego tadi. Hal tersebut adalah apa yang dirasakan dan dipelajari mereka yang sudah begitu akrab dengan gunung hutan.

Kami hampir mencapai Pos I namun terlihat kondisi fisik Gina dan Indi mulai menurun. Perjalanan operasional ini adalah yang pertama bagi mereka, begitu juga Amank dan Richard. Namun sehari sebelumnya Indi mengalami halangan sehingga tak pelak staminanya merosot terjun bebas begitu. Sementara saya sepakat dengan Zebian bahwa sisanya hanyalah ‘kaget gunung’. Dengan medan dan bawaan. Yang bakal menjadi terbiasa seiring dengan waktu, pengalaman jalan, dan pembiasaan.

(Saya mengutip: Hidup lebih berat daripada carrier – Havel Trahasdani). We may be on the verge of dying, yet do we really have to die without even trying? Well, you tell me.

Lagi pula Lawu merupakan gunung saya yang kedua. Apalah bedanya dibanding teman-teman lain. Tetapi la haula wala quwwata illa billah. Then I found out that I’m stronger than I’d thought before.

Kami melantunkan self-made medley semenjak dari Pos I yaitu “Semangat Gina!” atau “Ayo Indi!” Kalau mantra buatan saya adalah: Yuk, tampan dan cantik, jangan berhenti di tanjakan. Gilang dengan bantuan tongkat memukul-mukul carrier Indi dalam usaha untuk menyemangati. Sementara Richard dan Rahmah bergantian menggandeng Gina saat ia mulai kelelahan. Agaknya lumayan berhasil, rombongan terus melaju.

 

Menuju Pos III, kabut mulai menuruni lereng, timbul-tenggelam seperti kelambu, membuat perkenalan dengan cara amat tidak konvensional. Begitu pula dengan aroma sulfur yang silih berganti mendekap indera penciuman. Sampai suatu kali Shafrian menyeru pada saya:

“ Rachma, lo kentut ya?”

My friend, kentut pun harus santun. Kau tepat di belakang saya, masa saya tega.

Waktu telah lewat tengah hari, rasa capai yang tadi terbendung mulai menyeruak ke tiap otot dan persendian. Ditambah orkestra lambung bak alarm peringatan saya bakal lemas tak lama lagi. Kabut pun menebal bagai pintalan kapas, jarak pandang tidak lebih dari sembilan meter. Saya sedikit khawatir mengingat cerita yang beredar. Namun yang lebih mengkhwatirkan adalah kondisi adik-adik kami yang sudah lemas bahkan sejak tadi. Diputuskan untuk istirahat sejenak sekaligus snacking dan sholat.

Rahmah dan saya membuat kesepakatan bahwa adzab adalah sebentuk ketidaknyamanan, kesulitan, kesempitan. Maka jika begitu, perjalanan kali itu adalah setengah adzab.

Betapa biasanya saya terbiasanya dengan wudhu menggunakan air, sholat di tempat yang bersih, menghadap sang Rabb dengan sebaik-baik rupa dan kemampuan raga. Tetapi di perjalanan operasional kami melaksanakan ibadah dalam kesempitan yang meskipun telah dipermudah segala urusan olehNya (Islam hadir untuk memberikan kemudahan, bukan untuk menyulitkan) tetap saja hati ini waswas dan tidak tenang. Bahwa mungkin saya telah menyepelekan urusan bertemu denganNya, tidak melaksanakan sebagaimana mestinya. Hanya satu pemikiran yang mampu menenangkan pikiran dan batin ini: bahwa itu adalah berupa cinta, harap, dan takut pada Sang Maha Pencipta; maka apa lagi yang bisa dilakukan selain berserah padaNya?

Rupanya ketika kabut mulai tersibak dengan begitu anggunnya, bangun Pos III menampakkanya wujudnya. Hanya tinggal mengikuti jalur melingkar selama beberapa menit maka kami sampai.

Nah, perjalanan menuju Pos IV terasa begitu lama dan panjang. Melewati punggungan melingkar dengan trek berbatu yang masih cukup ramah karena tidak perlu merangkak ataupun merayap untuk melewatinya. Aroma sulfur semakin tajam tatkala sang bayu berhembus hingga kami bahkan tidak yakin menghirup yang mana, sulfur dan kentut sudah saling menyaru. Saya mulai merasakan kondisi lemas yang tidak nyaman karena romannya jika saya tidak melaju duluan bakal ikut merepotkan rombongan. Sehingga saya memilih menempel bersama para wanita di barisan depan. Saya baru memahami rasa lelah ‘berlebih’ lantaran menunggu yang terdepan untuk tetap melaju.

Mencapai Pos IV rupanya baru Shafrian, Ata, Amal, dan saya. Kami bertemu dengan enam pendaki lain dari Semarang yang membangun camp disana. Juga dengan pasangan Bapak dan anak yang posisinya sejak tadi sebelas dua belas dengan kami, saya menyeru: Semangat Bapak, Dek! Siapa yang tahu bahwa menyemangati orang lain juga mengirimkan injeksi tonik menyegarkan pada diri sendiri.

Matahari mulai mengayun malas menyongsong ufuk barat sementara kami galau untuk bermalam dimana dengan kondisi demikian. Rombongan yang masih di belakang berjarak lumayan sementara kami tidak bisa berjudi pada kemungkinan untuk bangun pagi buta karena mengejar matahari terbit di puncak. Jarak dari Pos IV ke Hargo Dumilah pastilah dua jam atau lebih. Dan untuk mencapai Pos terakhir hanya butuh satu jam, jika kami tidak mencoba siapa yang bakal tahu.

Selepas Fikri dan Rahmah bergabung dengan kami, diputuskan bahwa malam itu kami bakal beristirahat di Pos V. Amal, Fikri, dan Shafrian kembali membelah jalur berbatu bersama Ata untuk mendirikan tenda terlebih dahulu. Mental dan fisik pastilah mulai terkuras karena mengejar matahari yang mulai lepas ke peraduan. Ditambahan dengan anomali cuaca yang gemar meledek para pendaki belakangan ini.

Menuju Pos V adalah trek yang naik-turun berbatu yang terasa begitu lama. Pertama, karena saya lapar. Kedua, lemas yang tidak menyenangkan. Havel muncul membawa berita: Indi dan Gina kelelahan dan tidak bisa membawa carrier masing-masing. Duar. Jadilah kami semakin galau. Kemungkinannya adalah membangun camp terpisah atau memaksakan diri mencapai pos terakhir. Saya bersama Rahmah dan Richard melangkah terus bersama bayangan terakhir matahari.

DSC_0114 (FILEminimizer)
Pos V: Yang tampak setelah matahari tergelincir

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s