[CERITA PERJALANAN DAN INFO PENDAKIAN]: MERINDU LAWU Pt. 2

 

fotobersama.gif

Awalnya Fikri dan Shafrian telah bersiap-siap untuk turun menjadi bala bantuan membawakan carrier adik-adik kami sementara sisanya menyiapkan camp. Tak dinyana, ujung hidung Zebian muncul di antara malam yang merambat turun membawa carrier di punggung dan satu lagi di depan tubuh. Hembusan napas lega menyeruak di paru-paru yang sejak tadi tertahan seperti kentut menguar bercampur sulfur.

Kini, kami berpacu pada lembaran awan gelap yang tidak ingin membiarkan warna malam kelabu menghitam. Pokoknya malam harus kelam menyekam. Ditambah kilatan cahaya seperti lampu blitz dalam studio alam terbesar berbentuk lereng gunung. Bahkan saya dapat menghirup aroma hujan dari kejauhan. Awan-awan itu berarak mengancam dengan senapan selang air hujan.

Tiga buah tenda berdiri pada tiap pasaknya, bahan makanan dikeluarkan bersama alat memasak, baju ganti diamankan di dalam tenda agar tetap kering, sementara carrier yang telah terbungkus raincover ditutupi ponco. Rintik air pertama yang disambut oleh bebatuan lereng begitu tepat waktu dengan kami yang mulai meringkuk ke dalam tenda. Sayang sekali, tenda wanita kemasukan air lantaran lapisan luarnya lupa dipasak.

Zebian dengan sigap membenahi tenda padahal ia baru saja siap berganti baju. Bermodalkan selembar celana, senior kami itu tertimpa hujan. Saya tidak merasakannya secara langsung, namun menurut kesaksian, hujan kali itu berupa gumpalan es. Yah, saya hanya bisa membayangkan tangan-tangan gemas yang berusaha meraih selapis perlindungan kami dari kebekuan. Karena pastilah sedingin itu lantaran Zebian membuat suara yang membuat saya mengerutkan kening sekaligus khawatir. Saya mengarahkan senter padanya—

Tidak, kawan. Kepala beliau setidaknya aman dari serangan hujan. Sementara Havel memayungi mereka berdua. Apa yang membuat saya mengerutkan kening? Ya, suara yang Zebian buat dan Havel, yang dalam usahanya untuk menjaga senior kami dari dingin yang mengigit, memeluknya dari belakang. Saya tidak bisa memberikan pendapat apakah itu pemandangan yang menyenangkan dilihat. Akan sangat subjektif. Tetapi tidak lebih aneh dibanding lawan jenis yang melakukan apa yang Havel lakukan. Setidaknya mereka sama-sama saling menghangatkan.

Pukul 03.30 tenda wanita dibangunkan oleh seruan alarm Indi yang disturbingly annoying. Sudah sejauh ini menyambangi Jawa Tengah, mendaki lereng Lawu, kami tidak boleh menyerah pada kantuk untuk mengejar matahari terbit. Snack berupa roti dan susu dipersiapkan dilanjutkan dengan pemanasan untuk meregangkan alat gerak dari hibernasi. Summit attack dilakukan pukul 04.30 tanpa membawa carrier.

DSC_0200 (FILEminimizer)
Puncak tertinggi Gn. Lawu: Hargo Dumilah 3265 mdpl.

Saya pernah bercita-cita untuk sholat di puncak gunung. Dan akhirnya terwujud. Shalat subuh di puncak Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu, menyambung shaf dengan tiga pendaki lain yang telah lebih dahulu sampai. Meskipun badan rasanya telah mendekati tidak keruan, tapi napas ini begitu pilu tatkala bersujud beralaskan batu undakan tugu. Sudah berapa lama saya merindukan sujud yang demikian nikmatnya? Saya mengadu dengan syukur, mengetuk pintu langit yang hanya sejangkauan lengan dengan lantunan doa. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan?

timelapse sunrise lawu

Lansekap lukisan dengan latar belakang gumpalan awan dan puncak Arjuno, Welirang, dan Semeru. Tintanya berasal dari alam, ia adalah campuran jingga dan lembayung yang meluntur. Bisakah kami membuat waktu meregang mendekati selamanya? Karena kami tahu keindahan ini tidak bakal bertahan selamanya. Bisakah kami membawanya pulang saja? Karena di kota matahari terbit itu terhalang hutan gedung dan lumeran karbon. Apa yang bisa kami ambil selain fragmen kenangan? Apa yang tertinggal selain jejak kaki dan kerinduan?

Kalau kata Sheila on 7: Kita selalu berpendapat kita ini yang terhebat. Kesombongan di masa muda yang indah.

Bukan, bukan kesombongan. Hanya rasa penasaran. Dan serdadu kumbang pun kembali melaju.

 

Informasi Gunung Lawu:

Nama               : Gunung Lawu

Ketinggian      : 3265 mdpl

Lokasi             : Kab. Karanganyar, Jawa Tengah dan Kab. Magetan, Jawa Timur

Koordinat        : 07°37′30″S 111°11′30″E

Jenis                : Stratovolkano; mati (istirahat).

Letusan Terakhir: 1885

Sumber air       : Sendang Panguripan, Sendang Drajat, Hargo Dalem, Telaga Kuning, Sumur Jalatundo

Flora                : Cemara, Kipres, anggrek.

Fauna              : Jalak Lawu, babi hutan, kijang.

Objek wisata   : Telaga Kuning, Candi Cetho, Candi Sukuh, Air Terjun Grojogan Sewu, Istana Giribangun, Warung Mbok Yem (ini jelas fenomenal).

Jalur Pendakian: Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu.

Kondisi           : Kabut, udara dingin, trek berbatu, pemukiman di puncak.

Puncak            : Hargo Dalem (3170 mdpl), Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah (3265 mdpl)

Tarif pendakian: Rp 10.000,- (per Jan 2016)

 

Estimasi Waktu:

Basecamp Cemoro Kandang – Pos I Tamansari Bawah (1 jam)

Pos I – Pos II Tamansari Atas (1 jam)

Pos II – Pos III Pengik (2 jam)

Pos III – Pos IV Cokro Suryo (2 jam)

Pos IV – Pos V Persimpangan (1.5 jam)

Pos V – Hargo Dumilah (20 menit; tanpa carrier)

Pos V – Hargo Dalem (10 menit; tanpa carrier)

Total: 8-9 jam. Tanpa bermalam dan bongkar-pasang carrier.

Untuk waktu turun biasanya lebih cepat. Kami banyak memotong trek sehingga lebih cepat, kurang-lebih 3-4 jam.

 

Transportasi:

Dari Barat (Jakarta)

Kereta Brantas dari Stasiun Pasar Senen turun Stasiun Solo Jebres. Lanjut dengan angkutan umum atau sewa mobil L300 atau ELF sampai Tawangmangu.

 

Tips:

  1. Latihan fisik maksimal H-3 pendakian. Sebaiknya H-seminggu agar tubuh sempat memulihkan diri.
  2. Usahakan tidak mendaki di hari hujan.
  3. Logistik yang mencukupi (terutama air) karena sumber yang minim kecuali di ketinggian sekitar tiga ribu mdpl (Warung Mbok Yem).
  4. Usahakan mengenakan sepatu gunung karena trek yang berbatu.
  5. Tim terdiri dari minimal satu orang yang pernah melakukan pendakian.

 

Referensi:

http://infopendaki.com/jalur-pendakian-cemoro-kandang-lawu/

https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Lawu

[13-17 Janurari 2016]

Terima kasih khususnya pada Vagus FK UNS yang telah menerima kami seperti saudara sendiri saat kami datang berkunjung dengan penampilan tidak keruan. Persaudaraan dan kehangatan yang diberikan tidak akan kami lupakan.

All photos credit to Richard dan Aji Tata

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s