[BUNGA RAMPAI]: MISS(ES) UNIVERSE FOREVER

b58096e310e881eae3f26b2318153128
source: pinterest.com

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh,

Ini adalah ‘kajian’ atau sebutlah opini sekaligus artikel pertama saya seputar kemuslimahan. Posting sebelumnya tentang wanita dan jilbab sedikit banyak merupakan curahan hati belaka.

Saya tumbuh dan dibesarkan oleh seorang wanita paling tangguh yang pernah saya kenal, yaitu Ibu. Begitu pula dengan wanita-wanita di sekitar kehidupan, mereka merupakan para pejuang dan pekerja keras. Hal itulah yang membentuk pola pikir bahwa seorang wanita pun harus bisa melakukan dan mendapatkan apa yang dilakukan dan dimiliki oleh kaum lelaki. Atau setidaknya berusaha.

Pastinya terdapat begitu banyak perbedaan antara lelaki dan perempuan dari segi fisik, karakter, pola pikir, kewajiban, dan hak. Tapi tulisan ini tidak dibuat untuk membahas itu, hanya sekadar menggambarkan betapa besar concern saya mengenai wanita dan dunianya. Oke, intro sudah kelewat panjang.

Dari sekian banyak gelar Putri hingga Miss yang dianugerahkan bagi kaum wanita, pastilah menitikberatkan pada inner beauty, physical beauty, dan intelligence. Dimana kesemuanya sudah jelas dimiliki oleh tiap wanita, tidak ada yang bisa menyangkal itu. Karena, sesungguhnya, wanita adalah perhiasan dunia. Apakah ia telah tampak kilaunya, apakah ia terpampang pada display toko perhiasan, apakah ia tersimpan secara apik oleh pemiliknya.

Jika kaum lelaki memiliki Rasulullah sebagai teladan, lalu bagaimana dengan kami? Siapakah figur yang bisa kami jadikan role model? Karena sesungguhnya wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, pilar utama suatu bangsa. Jika rusak kaum wanita maka rusaklah bangsa itu. Tiada mungkin kami terombang-ambing tanpa kejelasan.

Pernah terpikir bahwa memang ada wanita-wanita yang telah terjamin keimanan dan akhlaknya selain para shahaba? Yang pantas menyandang gelar Miss Universe/World bahkan hingga pasca kiamat.

“Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada.” (HR Bukhari)

 

Asiyah binti Muzahim

Kisah wanita yang satu ini bisa jadi yang paling sedikit di antara daftar nama pada tulisan ini. Bisa jadi pula tidak banyak yang familiar dengan nama wanita ini. Asiyah binti Muzahim.

Dan sungguh, ia merupakan salah satu wanita yang luar biasa dunia akhirat.

Semasa hidup, ia merupakan isteri dari Fir’aun, seorang raja Mesir yang terkenal lantaran mengaku dirinya sebagai Tuhan. Ia merupakan ibu angkat yang mengasuh Musa ‘Alaihis Salam tatkala dihanyutkan di Sungai Nil saat masih bayi.

Di tengah gelimang harta dan kuasa tidak membuat wanita ini lupa diri. Mungkin Asiyah menghantarkan makna ‘mencari Tuhan’ dengan baik. Ia hidup di tengah kemaksiatan bahkan menjadi isteri seorang pembangkang Allah paling tersohor sepanjang sejarah manusia. Asiyah merupakan salah satu yang pertama dalam beriman dengan Tuhan Musa dan Harun. Pastilah wanita ini memiliki akhlak terpuji dan kelembutan hati hingga mampu merasakan kebenaran Ilahi. Dan pastilah Asiyah memiliki intelejensia yang baik yang menyatu dengan hatinya sehingga membawanya pada kebenaran dan kelak pada keselamatan. Keselamatan yang utama yaitu akhirat.

Sering kali Asiyah harus menahan diri pada tiap ejekan yang dilontarkan Fir’aun dan pembangkangannya. Bukan karena ia tidak memiliki keberanian untuk bicara namun ia mengikuti anjuran Musa yang khawatir dengan keselamatan ibu angkatnya.

Bayangkan, menjadi seorang yang shaliha di dalam sarang penyamun. Godaan duniawi itu menari-nari di pelupuk mata. Jika ingin dibandingkan dengan kondisi zaman sekarang, agaknya sangat sedikit bukti orang-orang yang sanggup untuk tetap konsisten menapaki jalan yang lurus. Amalan-amalan itu begitu indah, namun memang sebesar itu sulitnya untuk tetap istiqomah. Saya bisa mengatakan betapa sulitnya untuk tetap mempertahankan keimanan meski hanya satu derajat.

Ketika saya membaca kisah menjelang ajal seorang Asiyah sungguh membuat ngeri. Pikiran saya, begitu berat yang harus dijalani untuk membela Sang Ilahi.

Hari penyiksaan itu terjadi ketika akhirnya Asiyah mendeklarasikan dengan lantang keimanannya kepada Allah di depan suaminya. Deklarasi penuh emosi ini terjadi setelah ia begitu terguncang menyaksikan pembantaian atas Masyitah, juru sisir istana, beserta suami dan dua anak perempuannya yang masih kecil akibat penolakan mereka untuk mengakui Fir’aun sebagai Tuhan.

“Kuperingatkan kau, wahai Fir’aun, dan kunyatakan bahwa Tuhanku, Sang Pencipta, Rabb-ku, Allah-ku; dan Tuhanmu juga, Rabb-mu, dan Allah-mu; dan Tuhan Masyitah dan anak-anak itu; dan Tuhan langit dan bumi; adalah Allah yang satu, yang tak seorang pun sanggup menyamai-Nya. Dia tak memiliki tandingan!”

Harta, takhta, dan keselamatan nyawa adalah kenikmatan duniawi yang begitu sering dikejar-kejar manusia, bahkan dengan cara haram sekalipun. Sebagai istri Fir’aun, Asiyah memiliki semua itu dengan berlimpah. Tapi saat itu, dalam kemarahannya, dia seakan telah melemparkan semua itu ke muka Fir’aun.

Akibatnya, di atas lempengan batu yang sebelumnya dipakai untuk membantai keluarga Masyitah, Aisyah akhirnya diikat dan ditindih dengan sebuah lempengan batu tipis yang di atasnya dinyalakan api. Lempengan batu tipis itu berubah menjadi semacam setrika besar yang ditindihkan dan perlahan-lahan membakar tubuhnya.

Waktu berjalan perlahan mengantarkan Asiyah mendekati kematiannya dengan cara yang sangat menyakitkan. Tapi segala siksaan keji yang menyakiti tubuh dan mengalirkan darahnya, maupun paksaan Fir’aun agar istrinya mengakuinya sebagai Tuhan, tak bisa mengurangi sedikitpun cinta sang istri kepada Allah.

“Api di atasku mulai membakar dan menghanguskan tubuhku, tapi api cinta yang sempurna dan tak terhingga kepada Allah menyala-nyala dengan lebih hebat di dalam tubuh ini.”

Dan pada detik-detik akhir hidupnya, dari bibir wanita mulia ini terucap sebuah doa dan pengharapan kepada Rabb yang begitu dicintainya:

“Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga…”

Dan ketika Asiyah mulai memejamkan mata menjemput ajalnya, Allah memerintahkan Jibril untuk menemuinya dan memperlihatkan kepadanya rumah yang telah disediakan untuk wanita agung ini di surga. Ia akhirnya wafat dengan membawa kemenangan atas seorang tiran yang telah gagal memaksanya bertekuk lutut dan mengkhianati cinta sejatinya kepada Rabb-nya.

Itu sungguh siksaan yang begitu berat, bahkan bagi manusia mana pun. Baik dalam keadaan hidup atau menjelang ajal. Namun tidak sekalipun menggores keimanan wanita ini.

Sungguh, bagi saya, Asiyah memberikan definisi paling tepat tentang ‘jatuh cinta’ pada Sang Ilahi.

Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim : 11)

 

Maryam binti Imran

Namanya diabadikan dalam surat ke-19 di Al-Qur’an. Yang suci hingga akhir hayat, yang keimanan dan cintanya pada Allah tiada perlu diragukan.

Ada beberapa wanita mulia yang disinggung-singgung dalam Al-Qur’an, namun Maryam lah satu-satunya wanita yang nama panggilannya diabadikan dalam Al-Qur’an. Ada banyak rasul yang disebut Allah di dalam Al- Qur’an, tapi Isa ‘Alaihis Salam lah satu-satunya rasul yang setiap kali namanya disebut hampir selalu diikuti oleh nama orang tuanya. Allah tidak menyebut Muhammad ibn Abdullah, Yahya ibn Zakariya, atau Yusuf ibn Ya’qub dalam Al Qur’an, tapi Dia berkali-kali menyebut Isa ibn Maryam.

Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu dan melebihkanmu atas segala wanita di dunia (yang semasa denganmu).” (QS. Ali Imran : 42).

Dan Maryam diuji dengan apa yang justru selalu dijaga oleh dirinya. Ia melahirkan seorang bayi lelaki yang merupakan salah satu rasul terbesar yang diutus oleh-Nya. Baik umat Islam maupun Nasrani mengenal namanya, mungkin ia merupakan wanita yang paling banyak disebut namanya di dalam Al-Qur’an (saya belum menghitung satu per satu).

Imran dan Hanna sebagai orang tua Maryam adalah orang yang terkenal dengan keshalihan dan ketaatan dalam beribadah. Maka bukan sesuatu yang mengherankan bahwan ‘gen shalih’ itu pun menurun pada anak mereka hingga masyarakat luasa berlomba-lomba ingin mengasuhnya. Disebutkan pada Al-Qur’an bahwa ia diasuh oleh Zakariya dan ditempatkan di Baitul Maqdis. Lingkungannya yang begitu mulia, orang tua yang shalih, pengasuh yang hanif, menjadikan Maryam seorang wanita yang begitu dekat dengan Allah.

Alkisah, Nabi Zakariya menemukan berbagai buah-buahan yang tumbuh di musim panas sekalipun itu adalah musim dingin, begitu pula sebaliknya, sementara Maryam tidak pernah keluar dari tempatnya bernaung. Maka Zakariya bertanya, Darimana kau dapatkan buah-buahan ini?

Dari Allah, jawabnya.

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizqi kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambaNya.” (QS. Al Isra’: 30)

Sejak kecil bagi Maryam hidup adalah untuk mengabdikan hidupnya pada Tuhan. Utuh dan seluruh. Bahwa tiap tarikan napasnya adalah untuk beribadah dan tunduk serta menjauhi apa yang dilarang oleh Sang Rabb. Saya sungguh sulit membayangkan bagaimana perjuangan seorang Maryam mengendalikan hawa nafsunya atas segala godaan duniawi, tiada pernah lalai atas benteng iman yang telah ia bangun. Bahwa Maryam adalah seorang pemenang atas itu semua. Dan sebagai seorang wanita, Maryam begitu menjaga dirinya, yang itu bahkan sepersekian penduduk dunia bakal mengakuinya.

Bukanlah seorang juri biasa yang ‘menobatkan’ Maryam ‘Alaiha Salam sebagai seorang wanita terhebat sepanjang zaman. Namun manusia paling mulia di antara kita semua, yaitu Rasulullah sendiri.

Bukan berarti Maryam menjalani kehidupan semulus jalan tol ibu kota di hari Lebaran. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, wanita shalih nan suci ini melahirkan seorang bayi lelaki tanpa seorang suami. Wallahi! Bagaimana bisa? Seorang wanita yang nyaris tiada pernah meninggalkan mihrab, yang kesehariannya diisi dengan ibadah, begitu terbatas mengenal kaum Adam, muncul dengan bayi merah di tangannya. Cobaan yang sungguh berat bagi seorang wanita yang amat menjaga kesuciannya.

dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. “ (QS. At-Tahrim : 12)

Bayangkan perlakuan macam apa yang diterima oleh Maryam dan putranya. Berbagai ejekan dan fitnah terlontar. Namun tidak mengurangi secuil pun ketaatan dan imannya.

Sebagai seorang wanita saya mengakui sungguh sulit mencapai derajat kekhusyukan dan ketundukan seperti Maryam. Bahkan mungkin bagi lelaki pun sulit untuk melakukan hal yang setara. Ini bukan hanya tentang melangkahkan kaki menapaki jalan yang lurus, namun untuk terus bertahan, meneguhkan iman dalam untaian doa. Karena sesungguhnya hanya di tangan Allah jiwa kita dalam genggaman dan hanya Ia yang memiliki kuasa dalam membolak-balik hati manusia.

Sebenarnya saya tidak memiliki banyak ilmu untuk mengkaji Al-Qur’an namun itu hanyalah sepotong cerita salah satu wanita terhebat sepanjang masa. Nama dan kisahnya tidak hanya ada di dalam satu surat namun pada surat-surat lain. Bahkan dari arti tersurat QS. Maryam, tiada dapat diragukan lagi mengapa wanita ini dinobatkan demikian.

 

Khadijah binti Khuwailid

Tibalah kita pada Ummul Mukminin, wanita pertama yang memeluk Islam sejak diturunkan wahyu pada Rasulullah. Menurut saya sangat sedikit kisah dan cerita tentang Khadijah yang beredar. Bisa jadi begitu sedikit yang tahu betapa Bunda Khadijah merupakan cinta sepanjang masa sang Nabi. Dan mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa Rasulullah memperoleh keturunan hanya dari pihak Bunda Khadijah dari dua belas wanita yang beliau nikahi.

Ia adalah wanita yang terus hidup di hati suaminya sekalipun ia telah meninggal dunia. Waktu berlalu namun tidak sedikit pun cinta itu terkikis bagi wanita ini.

Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)

Nabi tidak pernah menikahi wanita lain selama masih bersama Bunda Khadijah. Bersamanya, Rasulullah membangun rumah tangga yang harmonis sekalipun tak luput dari berbagai cobaan dalam usaha menyebarkan tauhid.

Saat menikah, Bunda Khadijah berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu ia merupakan wanita yang paling dipandang, cantik sekaligus kaya-raya. Ia menikah dengan Rasulullah tak lain karena kemuliaan sifat beliau, karena tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.

Ia selalu memberi semangat dan keleluasaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Ia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah  saat beliau menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Dan tiada yang bakal lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasa tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pertama kalinya.

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih) (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil).

Bunda Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Allah anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau pada saat-saat yang kritis, menolong beliau dalam menyebarkan risalah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada beliau. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam Sirah Nabawiyah).

Suatu kali ‘Aisyah berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyebut-nyebut Bunda Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda beliau, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rizqi berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil).

Sungguh tiada akhir rasa kagum saya bagi wanita yang satu ini. Sudah jelas apa yang membuat ia begitu istimewa.

Bunda Khadijah sendiri adalah wanita dengan intelejensia yang baik, memiliki ilmu agama dan perdagangan yang baik, berasal dari keluarga yang hanif, ia pun seorang penghafal alkitab (sepupunya, Waraqah ibn Naufal merupakan seorang ahli kitab). Tiada diragukan lagi bahwa ia memiliki akhlak yang juga baik.

Kedua, Bunda Khadijah begitu taat dan mencintai suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selalu setia mendampingi dan ikut berjuang dalam menyebarkan tauhid. Itulah jihad fi sabilillah yang mampu dijalani seorang wanita yang begitu sempurna dicontohkan oleh Ummul Mukminin petama kita ini.

Teladan dan kisahnya bisa kita baca di Sirah Nabawiyah ataupun pada tulisan-tulisan para periwayat sejarah Islam.

 

Fatimah binti Muhammad

Seperti Maryam yang mewarisi ‘gen shalih’ dari kedua orang tuanya, maka tiada seorang muslim yang seharusnya meragukan ketaatan wanita yang satu ini. Apa yang terbayang tatkala tersebut seorang putri dari seorang pemimpin besar, paling berpengaruh sepanjang masa?

Jika ingin mengetahui karakter, sifat, hingga cara berjalan Rasulullah dalam versi wanita, maka ‘direplikasi’ dengan begitu baik oleh sang putri, Fatimah binti Muhammad.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “aku tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. la di saat masuk ke rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi).

Sejak kecil, Fatimah Az-Zahra Radhiyallahu Anha telah akrab dengan kehidupan prihatin. Kesulitan dunia yang menyertai lantaran cintanya yang begitu besar pada Sang Ilah dan ayahnya. Saat itu Bani Hasyim diboikot dan dikucilkan oleh para pemuka kaum Quraishy lain, mereka harus menjalani hari-hari dalam kelaparan. Diriwayatkan bahwa naluri keibuan Bunda Khadijah begitu perih melihat putri kecilnya kelaparan, “Kasihan engkau anakku, dalam usia begini muda engkau sudah harus merasakan penderitaan seberat ini.”

Namun, tak disangka, si kecil menjawab, “Aku tidak apa-apa Bu, justru kami lah yang khawatir akan keadaan ibu.” Dan kalimat barusan meluncur dari mulut seorang anak berusia lima tahun.

Fatimah merupakan saksi pembangkangan kaum Quraishy terhadap dakwah tauhid Rasulullah. Ia membersihkan pakaian beliau tatkala mereka melemparkan kotoran tatkala Nabi tengah melaksanakan ibadah shalat. Betapa kemurkaan dan kata-kata yang terlontar dari seorang gadis kecil menggetarkan hati kaum yang fasik tersebut. Mereka dibuat bungkam oleh seorang kanak-kanak!

Atau tatkala beranjak remaja ia kembali ditimpa cobaan ditinggalkan oleh ibunda tercinta dan saudara-saudaranya. Fatimah lah yang mengurusi kebutuhan Rasulullah. Sungguh sebuah bakti yang luar biasa didemonstrasikan dengan sempurna oleh seorang anak. Karena baktinya itu, ia juga dikenal sebagai Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya).

Membicarakan Fatimah tentu tidak lengkap bila tidak menyinggung tentang suaminya, ‘Ali ibn Abi Thalib. Kisah cinta mereka merupakan teladan bagi kaum muda untuk membina diri dan perasaan. Cinta itu tersimpan begitu rapat di hati wanita ini hingga bahkan, konon, syaithan tidak mengetahuinya. Sebuah cinta yang tumbuh akibat kedewasaan kedua belah pihak, karena ketundukan dan cinta yang paling utama yaitu pada Sang Rabb. Kesederhanaan dalam rumah tangga mereka menuntut Fatimah untuk lebih banyak bekerja dengan tangan sendiri. Diriwayatkan, ia menumbuk gandum hingga tangannya terluka dan mengangkut qirbah (tempat air dari kulit) hingga berbekas di dadanya. ‘Ali begitu prihatin melihat keadaan istrinya dan menyuruhnya untuk menemui Rasulullah.

Namun inilah sepotong nasihat yang dikatakan oleh Nabi:

Kalau Allah menghendaki wahai Fatimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu

Wahai Fatimah, barangsiapa perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya…

Kita dapat belajar sifat murah hati dalam diri Fatimah. Alkisah, ada seorang dari suku Bani Salim  yang mendatangi Rasulullah dan memaki beliau. Namun Nabi membalas dengan begitu lemah lembut hingga membuat pria tadi tersentuh dan akhirnya memeluk Islam. Nabi bertanya apakah ia berbekal makanan dan bertanya pada orang-orang sekitar apakah mereka memiliki makanan untuk pria tersebut. Tiada seorang pun yang dapat memberinya makanan.

Nabi meminta Salman al-Farisi untuk mengantar pria itu ke rumah sekitar. Hingga tiba di rumah Fatimah. Ia pun tidak memiliki makanan bahkan sejak tiga hari yang lalu. Namun ia tidak bisa menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang. Fatimah menjual kain kerudung yang ia miliki untuk ditukar dengan jagung. Sungguh sulit menemukan akhlak demikian di zaman sekarang ini!

Pada perjalanan haji wada’ dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat amatlah sungguh mengiris hati. Tidak pernah gagal membuat saya meneteskan mata. Putri kesayangan beliau ini tidak pernah absen dalam mengurus dan mendampingi.

Suatu ketika Rasulullah memanggil Fatimah, mendudukkannya di sebelah beliau dan membisikkan sesuatu padanya hingga ia menangis. Kemudian beliau mengatakan sesuatu membuat ia tersenyum bahagia.

Aisyah berkata kepada Fatimah, “Rasulullah telah berbisik kepadamu secara khusus di antara istri-istrinya, kemudian engkau menangis. Apa yang dikatakan Rasulullah kepadamu?”

Fatimah menjawab, “Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasulullah.”

Ketika Nabi telah wafat, Aisyah kembali bertemu Fatimah dan berkata, “Aku mohon kepadamu, demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa  yang dikatakan Nabi kepadamu waktu itu?”

Fatimah pun menjawab, “Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaan Al-Qur’an Rasulullah sekali dalam setahun, dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. ‘Maka kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu,’ kata Rasulullah. Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, ‘Wahai Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita Mukmin atau umat ini?’ Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”

Dalam riwayat yang lain, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, bahwa penyebab Fatimah tertawa gembira, karena Rasulullah saat itu berkata, bahwa ia adalah yang pertama dari keluarga yang  menyusul beliau. Hal ini membuat Fatimah gembira, karena menunjukkan bahwa dia tidak akan lama berpisah dengan Nabi setelah kepergian beliau.

 

‘Aisyah binti Abu Bakr

Seperti yang telah disebutkan oleh Rasulullah bahwa keutaman ‘Aisyah di antara ke empat wanita yang telah disebutkan seperti tsarid atas hidangan yang ada.

Tidak diragukan lagi bahwa wanita ini merupakan isteri Nabi yang paling banyak riwayatnya dan yang paling sering dibicarakan. Dan tentunya pastilah banyak yang telah familiar pada panggilan sayang Nabi bagi wanita ini yaitu dengan nama kecilnya, ‘Aisy.

Menurut riwayat, ‘Aisyah dinikahkan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia masih berusia enam tahun, kemudian tinggal bersama beliau di usia sembilan. Ia merupakan puteri dari salah satu dari ke empat shahaba Nabi yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Banyak yang menggadang-gadang ‘Aisyah sebagai isteri yang paling Nabi cintai dan sayangi diantara dua belas wanita yang beliau nikahi. Namun, sungguh, hemat saya tiada yang tahu wanita mana yang paling dicintai oleh beliau (‘Aisyah ataukah Bunda Khadijah, seringnya komprasi ini dibuat). Sekalipun ada hadits yang meriwayatkan dimana ‘Amr ibn Ash bertanya pada Nabi siapakah wanita yang dicintai, kemudiaan beliau menjawab, “ ‘Aisyah. “

Hanya Allah Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui, dimana segenap jiwa-jiwa berada di dalam genggaman-Nya. Termasuk hati manusia.

Tak diragukan lagi bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merupakan wanita yang sangat cerdas. Ia telah meriwayatkan berbagai perkatan Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Banyak hukum-hukum, perkara fiqih, dan perilaku Nabi tersampaikan melalu wanita ini.

Dan tiada yang bakal meragukan akhlak seorang isteri dari pemimpin kaum Muslimin. Ia adalah puteri dari seorang yang bergelar Ash-Shiddiq dan tumbuh di lingkungan para shalihin. Sebagaimana seorang wanita yang baik akhlaknya, ia memiliki kelembutan hati dan membuat orang-orang sekitar nyaman berada di dekatnya.

”Aku tidak melihat seorang pun yang memiliki kepandaian dalam ilmu fiqih, kedokteran, dan syair melebihi Aisyah, “ kata Urwah ibn Zubair. Tiada lagi yang bakal membantah bahwa wanita pun tidak berbeda dalam hal intelejensia dengan kaum lelaki. Dalam catatan ensiklopedi Islam, ‘Aisyah telah meriwayatkan lebih dari seribu dua ratus hadits dan du ratus dua puluh delapan diantaranya diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Para perawi hadits menyebutkan bahwa ‘Aisyah merupakan orang ketiga terbanyak setelah Abu Hurairah dan Anas ibn Malik yang meriwayatkan ucapan Nabi, terutama hukum tentang permasalahan wanita dan rumah tangga. Sering kali ‘Aisyah yang menjadi pelurus dalam tafsir hadits yang kurang tepat oleh para shahaba lain karena banyaknya kesempatan yang ia miliki bersama Nabi.

Tentu saja tiada yang lupa dengan suatu riwayat dimana ‘Aisyah ditanya oleh seseorang mengenai akhlak Rasulullah.

Ia menjawab, “Kaana khuluquhu Al-Quran. “ Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Ini sungguh menggambarkan tingkat kecerdasan ‘Aisyah dan sedalam apa pemahamannya mengenai Al-Qur’an.

Selama sakit menjelang wafat, Nabi memang kerap berada di rumah ‘Aisyah. Beliau meminta izin istri lainnya untuk berada di dekat ‘Aisyah.

”Sebuah kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku,” kata ‘Aisyah.

Pada masa-masa selanjutnya, setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah menyebarkan ilmunya kepada orang lain dalam sebuah majelis pengajaran tersendiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan umat Islam mampu memahami ajaran agamannya dengan baik.

===

Mereka memiliki kecantikan yang hakiki yang merupakan pada akhlak yang baik, orang-orang di sekitar mereka merasa tentram dan aman saat bersama mereka, merasakaan syafaat dan kebaikan yang pastilah terpancar begitu nyata.

Para wanita ini pun pastilah memiliki kecerdasan yang absolut. Mereka tahu bagaimana menghindari siksa abadi kelak di akhirat nanti. Mereka tahu dimana hati seharusnya berlabuh. Mereka tahu, memahami, dan menjalankan apa yang haq dan yang bathil.

Dan mereka adalah para pemenang. Yang menang dalam melawan hawa nafsu di dalam diri, atas segala godaan dunia yang menjerumuskan. Yang menang dalam menata hati dan iman. Dan yang paling utama, mereka adalah pemenang dari sebuah hadiah terbesar yaitu cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka, masihkah kamu, saudaraku sesama muslimah, merasa bingung mencari figur teladan?

 

===

Referensi:

dakwatuna.com

muslimah.or.id

Sirah Nabawiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s