[REFLEKSI]: TURBOCHARGER KUAT HAYATI

1194985447385685917lumaca_turbo_architetto__01-svg-hi
source: clker.com

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh,

Alhamdulillah, nikmat iman dan Islam masih melekat di dalam diri. Juga nikmat sehat jasmani dan ruhani. Alhamdulillah, saya masih sempat untuk mengisi laman blog meski sekadar curahan hati. Masalah kebermanfaatannya biar para pembaca yang menilai.

Mungkin tulisan ini bisa berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari teman-teman pembaca sekalian. Atau mungkin yang bakal terjadi pada suatu kesempatan.

Bisakah seseorang merasa lelah dalam melakukan kebaikan? Mungkinkah ia lelah dalam menjalani ibadah? Terdengar aneh bagi siapapun yang waras jiwa dan hatinya.

Kini saya memahami, saat saya dirundung pemikiran demikiaan maka kedua komponen penyeimbang ruhaniyah tersebut sedang tidak dalam kondisi terbaiknya. Alangkah aneh, bahkan bagi saya yang kala itu tidak mampu berucap selain keluhan, untuk melontarkan kalimat barusan. Namun akhirnya keluar juga.

Jika saya lelah dalam kebaikan dan ibadah, maka apa yang salah pada jiwa dan hatimu? Saya bertanya-tanya. I looked into my heart, literally found nothing but bleakness of the soul. Jiwa yang kering oleh siraman hidayah-Nya. Hati yang lupa untuk bersyukur dan berdoa. Diri yang lupa bahwa memang fitrah manusia adalah kelemahan jiwa dan raga, hanya Allah Ta A’la yang Maha Kuat maka hanya kepada Dia seharusnya saya memohon dicurahkan kekuatan.

Keluhan-keluhan seperti:

Duh, belum shalat Dhuha. Tapi masih ada kelas.

Duh, belum baca Al-Ma’tsurat. Tapi mesti nugas.

Duh, shalat rawatib nggak ya. Buru-buru nih—

Duh, belum tilawah. Aaaaa—tugasnya numpuk.

Duh, liqo nggak ya. Belum nyari jurnal nih.

Terjadi konflik besar-besaran di dalam otak dan nurani saya. Para malaikat dan syaithan membombardir hingga terasa begitu jelas mana yang haq dan yang bathil. Namun ketika diri memilih untuk tergoda, saya bahkan tidak memahami mengapa saya memilih menyerah. Atau ketika yang haq itu menang kadang saya bisa merasakan rontaan jiwa yang begitu khawatir akan urusan dunia.

Namun, janji Allah adalah yang tidak pernah ingkar. Yakin bahwa segala waktu yang kita berikan untuk mendekatkan diri pada Sang Khaliq tidak pernah terbuang sia-sia.

Murabbi (mentor) saya selalu menekankan ini: Allah pasti akan menggantinya. Allah pasti menggantinya. Tidak usah takut.

Alangkah menciutkan hati bahwa pembelajaran dan petunjuk itu secara gamblang ada pada Manual Book umat manusia yaitu Al-Quran, Kalamullah. Namun diri sering alpa dan terlarut dalam kegundahan serta dunia.

” Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. ” – (QS. Al-Baqarah : 45-46)

Kak Revi, murabbi saya, pernah menceritakan suatu kisah tentang seorang ulama (atau peimimpin, maaf, saya lupa) yang ditanya mengenai bagaimana ia bisa menjalani ibadahnya hingga menjadi kondisinya yang demikian. Saya tidak bisa menyampaikan tepat per kalimat jawaban sosok tersebut, namun ia memiliki inti berupa:

” Saya menyeret jiwa saya hingga ia meronta dan menangis dalam menjalaninya. ”

Kemudian diri ini diingatkan bahwa mungkin ini adalah ujian berupa batu loncatan untuk menuju level berikutnya. Jika ujian ini tidak pernah terselesaikan maka bisa jadi seumur hidup saya akan menghadapi permasalahan yang sama.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” – (QS. Al-Ankabuut : 2)

Apakah mungkin saya membiarkan diri kembali pada sosok yang berlisan kasar, perilaku tiada santun, tiada ramah, tiada murah senyum, gelisah di siang dan malam harinya, kering kemarau pada jiwa dan ruhaninya. Hanya karena ia lupa mengeja alif ba ta tsa di dalam lembaran Quran. Hanya karena ia mengulur shalat hingga penghujung waktu. Hanya karena ia membiarkan gelimang urusan dunia bercampur aduk di saat harusnya mengobrol mengadu pada Allah.

“Fitrah manusia memang bahwa kita lemah dan rendah. Kita sangat lemah. Memang seharusnya kita banyak-banyak berdoa minta diberikan kekuatan. Berdoa memang baiknya dalam keadaan khusyu’ namun bahkan di saat begitu lelah, di saat kapan pun, kita bisa berkeluh kesah mengobrol pada Allah. Adukan saja semuanya pada Allah. Jangan pernah untuk tidak melibatkan urusan kita pada Allah.

Mintalah: Ya Allah, hamba hanyalah manusia yang lemah. Engkau lah yang Maha Kuat. Maka kuatkanlah aku. “

Mantra yang luar biasa. Seperti tonik instan berupa air dingin yang membangun syaraf-syaraf yang masih terkantuk-kantuk.

Halaqah. Lingkaran ini lah yang menjadi penguat tatkala bingung mencari sosok manusia untuk mencurahkan isi hati. Tidak semua orang sekuat itu untuk menyimpannya sendiri.

Jika iman yang membuat ita bergerak maka ukhuwah yang membuat kita bertahan. Ah, betapa indahnya ukhuwah itu.

Halaqah. Ia tidak hanya sarana tarbiyah untuk memperdalam wawasan ilmu kita akan Islam namun ia memiliki fungsi penjagaan yang tidak dimiliki oleh kegiatan keseharian manapun, bahkan pada kajian atau pengajian biasa yang kita ikuti.

Shalat mencegah perbuatan keji lagi mungkar. Tilawah menjadi obat hati. Dzikir melembutkan jiwa dan lisan. Halaqah adalah benteng terakhir agar kita saling menjaga dalam kebaikan.

Betapa jika manusia hanya sendiri dalam mengarungi dunia maka bisik-bisik yang menggoda terasa begitu berat. Namun dalam suatu jama’ah terasa begitu ringan dalam rangkulan saudara seiman, mereka yang juga mendamba surga. Mereka yang, insya Allah, lurus hatinya, mengingatkan saat kita alpa dan salah. Tanpa menghakimi karena pada akhirnya kita hanyalah manusia yang mempersiapkan kematiannya di dunia ini.

Maka, perlahan tapi pasti, mari bangun kembali ibadah yang sempat surut itu. Jika memang sulit untuk melangkah dengan beban lebih demi amal berkuantitas lebih, maka tetapkanlah pada apa yang telah kita pijak dan jalani. Ia tidak akan pernah mudah. Ini adalah bagian dari ujian.

Ujian akhir dari ujian ini adalah saat kita berada pada gerbang bernama yaumul hisab pada Hari Akhir kelak. Ia adalah sebuah waktu dalam interval tak terhingga maka amal ibadah inilah yang terbaik yang bisa kita upayakan.

Janji Allah adalah yang tiada pernah ingkar. Setiap waktu yang kau luangkan untuk Quran akan diganti. Setiap waktu yang dipakai untuk shalat sunnah akan diganti. Tiada kah kita menyadarinya betapa Maha Pemurah Dzat dimana jiwa kita berada pada genggamanNya?

Tugas-tugas yang selesai. Nilai yang diperoleh, Alhamdulillah, tidak mengecewakan diri. Perolehan ilmu pengetahuan yang berlimpah. Kesehatan serta rizqi yang seolah tiada putusnya. Yang terkadang kita luput dari menyadarinya namun itu lah ganti yang Allah berikan di dunia. Dan kita begitu bahagia serta lega karenanya. Terbayang ganti yang menunggu kita di Hari Akhir nanti?

“…Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang beriman (mukmin), tetapi orang-orang munfaik itu tidak mengetahui. “ (QS. Al-Munafiquun : 8)

Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ” (QS. An-Nahl : 97)

Insyaa Allah, segala niatan baik kita akan diberi kekuatan oleh Allah dalam menjalaninya. Mari saling menguatkan dan menjaga, Saudaraku para calon penghuni surga. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan serta mencegah dari yang mungkar.

Wallahu A’lam Bishshawaab.

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh,

The remarks: Alhamdulillah, sebentar lagi menyongsong Ramadhan. Yuk, sedikit demi sedikit menambah dan memperbaiki amal ibadah kita.

Tips: Sebelum membuka Quran berdoa agar dimudahkan dalam memahami isinya, men-tadabbur isinya, dan agar membacanya secara tartil. Alhamdulillah, sejauh ini diberikan kemudahan.

…dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. ” (QS. Al-Muzzammil : 4)

03/05/2016

25 Rajab 1437

05:49

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s