[GUNUNG HUTAN]: ANAK GUNUNG DAN NAVIGASI DARAT (PART I)

navigasidarat
Perjalanan operasional Musim Pengembaraan Argopuro 2015 (Lokasi: Danau Taman Hidup)

Assalamu’alaykum,

Sebagai seorang anggota dari pecinta alam Kamuka Parwata FTUI divisi Gunung Hutan saya ingin menulis sesuatu yang memberikan ‘identitas’ bagi saya, si penulis. Sekaligus menambah opini mengenai perbedaan akan pendaki gunung dan anggota pecinta alam.

Pendaki gunung mendaki gunung karena ia memang menyukainya. Tidak ada materi ataupun output khusus yang ingin didapatkan kecuali mungkin kebersamaan, pengalaman, dan dokumentasi.

Sementara untuk seorang anggota pecinta alam, khususnya mereka yang menekuni gunung hutan ada target output yang ingin didapatkan dari setiap perjalanan operasional, bahwa ia memiliki tujuan untuk belajar dan terus memperbaiki apa yang telah lewat.

Untuk mereka yang memiliki ketertarikan akan alam namun masih ragu mungkin perlu tidak hanya sekadar mencari tahu saja. Tapi juga mencoba.

Disini saya ingin membagi sedikit apa yang telah saya dapatkan dalam menjadi bagian dari anggota Kamuka Parwata FTUI, khususnya divisi Gunung Hutan (bisa juga baca posting perjalanan operasional kami di laman lain). Pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai pembacaan peta (map reading).

DASAR NAVIGASI DARAT (THE FUNDAMENTAL OF LAND NAVIGATION)

Mengapa Navigasi Darat? Singkatnya, agar kita dapat menetukan posisi dan arah selama melakukan perjalanan.

Menentukan posisi – Where am I?

Menentukan jarak – What is the distance?

Menentukan arah – Where are we going to?

Cara membaca peta – Can I read the map?

Medan dan peta operasi – How to observe my surrounding?

Keterampilan khusus – Visualisation of the vicinity into two-dimensions and vice versa.

Manajerial Operasional – How to prepare prior to the journey? What is safe trip?

Pembacaan peta kompas, plotting jalur Musim Pengembaraan Argopuro 2015 (Lokasi: Cikasur)

Navigasi bukanlah ketika kita berhasil menemukan diri sendiri setelah tersesat atau hilang; ini tentang melacak posisi kita tatkala bergerak jauh dari titik yang diketahui sebelumnya. Ketika kita bergerak dari suatu tempat menuju tempat lain kita harus tetap sadar darimana kita baru saja melangkah, apa yang baru saja dilewati, dan apa yang menunggu di hadapan. Jika kita ingin menyusuri suatu pulau maka kita harus mengetahui dimana titik awal itu dimulai, tempat yang ingin dituju, dan rute yang ditempuh menuju tempat tersebut.

See? Jalan-jalan bukan hanya sekadar memanfaatkan anggota gerak bawah untuk melangkah, memilih jalan di persimpangan, melihat-lihat pemandangan yang menarik bagi mata, untuk kemudian lupa tanah tempat berpijak dan hilang di antara pepohonan.

Peralatan utama Navigasi Darat meliputi: peta dan kompas.

Intermezzo: seorang (mantan) Kadiv Gunung Hutan saya, sebut saja A, pernah berkata, ” Untuk anak Gunung Hutan, kasih aja dia korek api, peta, kompas, ama pisau, terus taro dia di tengah hutan. Kalo dia emang beneran anak Gunung Hutan, dia pasti bakal keluar dari hutan itu hidup-hidup. ” Yah, kurang lebih begitu. Agak sedikit ekstrem ya contoh yang diambil. Tapi itulah yang membedakan anak Gunung Hutan dengan divisi lain atau bahkan dari yang pendaki gunung.

 

PETA?

Peta adalah sebuah representasi grafis dari suatu bagian permukaan bumi, tergambar dalam satuan skala, sebagaimana dilihat dari atas (angkasa). Biasanya ia berwarna-warni, memiliki symbol, dan label untuk menandai fitur pada dataran yang digambarkan. Peta yang ideal adalah jika setiap fitur dan kontur dari area tersebut terpetakan dengan baik dalam bentuk yang sebenarnya. Hal ini tentu saja tidak mungkin meskipun diusahakan dalam bentuk skala apapun.

Sebuah peta menyediakan informasi yang ada, lokasi, jarak antara fitur dan kontur, ketinggian dari permukaan, hingga vegetasi yang menutupi suatu area. Teradapat banyak kegiatan dan aktivitas yang membutuhkan peta. Namun, peta paling baik sekalipun tidak bakal berguna jika kita tidak bisa membacanya.

Dikarenakan peta menampilkan suatu area bumi dilihat dari angkasa, maka diperlukan skala. Skala diperlukan untuk menentukan jarak suatu objek atau lokasi yang tergambar, ukuran luasan, dan bagaimana skala ini memberi efek tertentu pada detail yang terlihat (akurasi gambar). Skala merupakan rasio antara jarak pada peta dan jarak sebenarnya pada permukaan bumi. Satuan yang digunakan bisa dalam yard, meter, inchi, atau sentimeter.

Kategori peta berdasarkan skala:

  1. Kecil. Peta dengan skala < 1 : 1,000,000 biasa digunakan untuk perencanaan umum atau studi strategis. Peta ini merepresentasikan area yang sangat luas namun detail yang tidak begitu akurat (umum).
  2. Medium. Peta dengan perbandingan 1 : 1,000,000 > skala > 1 : 75,000. Jenis ini adalah yang paling sering kita temui (ex: atlas). Biasanya digunakan untuk perencanaan operasional dengan detail yang cukup baik.
  3. Besar. Peta dengan perbandingan > 1 : 75,000. Digunakan untuk operasional taktis, administrative, dan perencanaan logistic.

Contoh penghitungan jarak berdasarkan peta: skala perbandingan 1 : 50,000 sehingga fraksi representative (RF) sama dengan 1/50000. Jarak yang ingin ditempuh dari titik A menuju titik B sejauh 5 unit. Sehingga jarak sebenarnya merupakan 5 x 50,000 = 250,000 unit jarak bumi.

Kemudian contoh lain: Jarak antara titik A dan B pada peta = 4.32 cm berskala 1 : 50,000. Maka jarak sebenarnya yang harus ditempuh adalah 4.32 x 50,000 = 216,000 cm atau sama dengan 2,16 kM.

Biasanya saat perjalanan operasional kami menggunakan peta dengan skala 1 : 25,000 atau 1 : 50,000. Saya hanya akan membahas secara spesifik pada peta topografis. Terdapat lima warna dasar pada peta topografi:

  • Cokelat – Garis kontur, elevasi, etc.
  • Hitam – Simbol bangunan, jalan, jejak
  • Biru – Simbol hidrografi atau fitur air (danau, sungai, drainase, etc)
  • Hijau – Warna tumbuhan/vegetasi
  • Merah – Jalan raya, perbatasan, populasi area, land grid.

Warna kecil lainnya: merah muda (membangun daerah, peradaban), ungu (informasi peta diperbaharui). Warna-warna lain digunakan untuk informasi khusus, biasanya teridentifikasi pada sisi peta. Nah, jika kita bisa membaca peta terdapat empat informasi dasar yang bisa kita ambil: arah, jarak, posisi, identifikasi. Hal-hal tersebut merupakan amat sangat krusial bagi mereka yang mengaku ‘Anak Gunung’. Apalagi saat perjalanan operasional, ini sangat esensial dan fundamental bahkan bagi seorang pecinta alam. Di KAPA FTUI tiap anggota di perkenalkan lebih dahulu dengan pendidikan dasar gunung hutan meskipun belum meliputi pembacaan peta dan navigasi darat.

 

INFORMASI SISI PETA (MARGINAL INFORMATIONS) DAN SIMBOL (HOW TO ACQUIRE BASIC INFORMATIONS ON OUR MAPS)

Tidak serta-merta jika ada peta di tangan lantas kita langsung pada membaca jarak dan gambar. Itu adalah esensinya. Tapi seperti kata dosen Gambar Teknik saya, mari mulai dari Kepala Gambar. Mengenali terlebih dahulu peta yang kita miliki adalah hal yang kritikal. Informasi yang berguna dari hasil pembacaan peta kita nanti berujung pada ‘kepala’ peta ini.

Tidak pernah ada peta yang sama di dunia. There is nothing new under the sun, anyway. Mari mulai dengan informasi marjinal dan symbol.

Sumber: Bakosurtanal

Kita akan mulai mengidentifikasi bagian-bagian peta. Contoh peta yang diambil ini sesuai yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal.

  • Nama Peta (judul) (1)
  • Lembar Peta (2)
  • Skala (3)
  • Index to Boundaries (4)
  • Informasi badan pemetaan yang mengeluarkan peta dan printing note (5)
  • Tahun pembuatan (edition number) (6)
  • Legenda (7)
  • Petunjuk Pembacaan Geografis (8)
  • Petunjuk Pembacaan Koordinat UTM (9)
  • Pembagian Wilayah Administrasi (10)
  • Deklinasi Magnetis (11)
  • Skala Bar (Bar Scales) (12)
  • Vertical and Horizontal Datum Note (13)
  • Spheroid Note (14)
  • Elevation Guide (15)
Petunjuk Pembacaan Koordinat UTM & Geografi
Lembar Nama, Skala, Legenda
Deklinasi Magnetis & Pembagian Daerah Administratif

 

DIREKSI

Dalam kegiatan operasional adalah hal yang amat sangat benar-benar krusial untuk mengetahui lokasi keberedaan kita yang sebenarnya; sebelum kita mencari tahu lebih jauh rute mana yang ingin diambil menuju lokasi tujuan. Suatu kali saat perjalanan operasional sebelum Musim Pengembaraan kami mendapat materi buka jalur di kaki Gunung Kencana. Agak bingung, ambil tikungan kanan ke kiri, atau sebaliknya. Giliran saya mendapat peran memegang peta sebagai navigator saya mengetahui jalur yang diambil berdasarkan arah jarum kompas yang telah ditentukan sebelumnya.

Ada beberapa metode untuk mengekspresikan arah/direksi: derajat, mil, dan grad. Saya belum mempelajari yang dua terakhir. Lagipula, yang kami gunakan untuk perjalanan adalah berdasarkan derajat.

1 degree (˚)     =     60 minutes

1 minute(‘)    =     60 seconds

Base Line

Untuk mengukur sesuatu pasti harus selalu ada titik mulai (starting point), kan? Zero measurement. Seperti jika kita ingin menuju utara maka derajat menuju lokasi tersebut bakal berbeda jika ditinjau dari titik yang berbeda pula. Harus selalu ada kepastian, kita bisa ambil titik referensi. Nah, untuk mengekspresikan direksi dalam satuan pengukuran (contoh: derajat) maka dibutuhkan dua titik yaitu titik mulai dan titik referensi. Titik referensi ini menjadi dasar dari reference line yang digunakan di peta, terdapat tiga base line:

  1. Utara Sebenarnya: Garis yang jika berada di titik mana pun di belahan bumi menuju kutub utara. Seluruh garis longitudinal di peta merupakan garis utara sebenarnya.
  2. Utara Magnetis: Arah yang menuju kutub utara magnetis (karena tarikan magnet bumi) seperti yang terindikasi pada jarum di instrument magnetis yaitu salah satunya kompas.

Azimuth

Azimuth adalah sudut horizontal yang dihitung pada searah jarum jam dari utara magnetis atau pun sebenarnya. Jika menggunakan cara ini, titik awal (origin) azimuth berada pada tepat di tengah lingkaran yang dibagi menjadi 360 ˚. Saat menggunakan kompas, titik yang kita bidik akan memiliki sudut tertentu relative terhadap lokasi kita berdiri; sudut ini disebut sebagai azimuth (magnetis).

Sedangkan back azimuth adalah arah sebaliknya dari azimuth. Untuk mendapatkan sudut back azimuth dari hasil observasi dengan kompas bisa dengan: menambahkan 180˚ jika sudut azimuth <= 180˚, atau jika sebaliknya maka sudut azimuth dikurang dengan 180˚. Contoh, nilai back azimuth dari 180˚ merupakan 0˚ atau 360˚.


Protaktor

Bagi yang baru mendengar dan melihat bentuk si protaktir, ia adalah salah satu barang wajib untuk navigasi darat. Gunanya adalah untuk mengukur jarak pada peta lalu menentukan jarak sebenarnya. Ia bisa juga untuk mengukur titik koordinat lokasi tujuan dan tempat kita berada. Protaktor memiliki beberapa bentuk: lingkaran, setengah lingkaran, persegi, dsb. Pada prinsipnya protaktor merupakan lingkaran yang dibagi menjadi unit pengukuran angular, masing-masing terdapat skala pada sisi-sisinya; bisa berbagai skala dengan indeks pengukuran yang berbeda.

Si protaktor ini memiliki dua skala: yang satu dalam derajat dan yang lain mil. Skala derajat menampilkan lingkaran azimuth dari angka 0 hingga 360 dimana tiap garis sama dengan satu derajat. Saat menggunakan protaktor, ia harus diletakkan sejajar dengan garis grid utara-selatan peta dimana titik 0 atau 360˚ harus selalu menghadap utara serta sudut 90˚ berada pada sisi kanan. Pastikan base line protaktor sudut 0 dan 180 sejajar dengan grid peta.Jangan sampai terbalik ya.

Bagaimana cara menentukan grid azimuth dengan protaktor?

  1. Tarik garis dari dua titik—origin dan tujuan (A dan B)
  2. Letakkan titik pusat protaktor pada origin, pastikan base line sejajar dengan grid peta. Sudut 0˚ harus menghadap utara.
  3. Sudut yang tercipta jika ditarik garis dari titik A ke B merupakan grid azimuth lokasi.

Resection

Metode resection ini digunakan untuk menentukan lokasi kita pada peta dengan cara menentukan azimuth yang dibaca dari kompas terhadap dua titik yang dapat teridentifikasi di peta. Agar lebih akurat, kita bisa menggunakan lebih dari dua titik patokan. Supaya mudah dipahami, berikut adalah langkah-langkah cara menggunakan metode resection:

  1. Orientasi amakan utara peta dengan utara kompas
  2. Orientasi medan sekitar (pilih tempat yang lapang tanpa ada benda yang menghalangi pandangan)
  3. Cari objek yang ekstrem/menonjol (contoh: menara, puncakan, pemukiman)
  4. Tandai objek tersebut seperti yang terdapat pada peta

5. Bidik objek acuan 1, sudut yang didapat dari kompas adalah azimuth magnetis. Konversikan hasil bidikan ke back azimuth kemudian tarik garis lurus, tandai acuan tersebut pada peta.

6. Bidik ojek acuan 2, lakukan hal yang sama dengan langkah sebelumnya.

7. Pertemuan persilangan garis adalah posisi kita diatas peta

8. Untuk memeriksa akurasi bisa dengan membidik objek acuan lain kemudian menarik garis pada peta.

Intersection

Metode intersection digunakan untuk menentukan lokasi kita yang tidak diketahui dengan mengambil dua (baiknya lebih) lokasi yang telah diketahui sebelumnya pada sekeliling kita dan mencocokkannya dengan yang ada pada peta. Cara ini biasanya untuk mengetahui jarak suatu lokasi atau mengetahui poin yang tidak dapat diakses seperti area berbahaya, dsb.

  1. Orientasi peta menggunakan kompas. 
  2. Ketahui lokasi kita pada peta dengan resection

3. Bidik poin yang ingin diketahui menggunakan kompas

4. Konversikan magnetik azimuth ke grid azimuth

5. Tarik garis dari posisi kita pada peta dengan sudut grid azimuth

6. Pindah ke lokasi/poin lain. Ulangi langkah 1 sampai 5

7. Titik di mana dua garis bidik bersinggungan adalah posisi obyek yang dicari.


Untuk materi navigasi darat bakal dibahas pada posting terpisah. Tujuan tulisan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran pentingnya orientasi medan serta navigasi darat saat melakukan perjalanan. Setiap perjalanan operasional, jauh atau dekat, singkat atau pun lama, pasti melibatkan nyawa. Sayangnya, nyawa kita tidak bertambah jika jurang ada di depan mata.

Jika ada yang ingin menambahkan atau mengoreksi silahkan isi kolom komentar. Semoga kita bisa saling mengingatkan dalam hal kebaikan serta mencegah dari keburukan.

Wallahu a’lam bishshawaab.

Wassalamu’alaykum.

 

VIDEO MUSIM PENGEMBARAAN ARGOPURO 2015:

 

REFERENSI:

  • Map Reading and Land Navigation, Department of US Army, Field Manual 3-25.26
  • Presentasi Wanadri
  • Didikan Kadiv Gunung Hutan
  • Pengalaman
  • Gambar Resection & Intersection: serdadurimba.blogspot.co.id
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s