[LINGKUNGAN HIDUP]: CUKUP PAKAI, CUKUP PUNYA, CUKUP MAKAN SEPERTI SUKU BADUY

Assalamu’alaykum. Kali ini saya memiliki cerita yang beda daripada sebelumnya. Mengenai Lingkungan Hidup.

Pada laman ini saya hanya akan membahas mengenai suku yang mendiami sisi paling barat Pula Jawa; wilayah Banten, Jawa Barat. Yap, suku Baduy. Mengenai info perjalanan akan saya tulis pada laman terpisah agar fokus tema tidak berpindah-pindah.

Suku. Apa yang pertama kali kita pikirkan saat mendengar kata tersebut? Di bangku Sekolah Dasar kita mempelajarinya di rumpun ilmu sosial: suku-suku yang mendiami pulau-pulau di Indonesia. Bahasa yang digunakan, senjata khas, rumah adat, dsb. Tetapi, pernah tidak penasaran untuk menyambangi dan berbaur langsung dengan suku yang satu ini?

Suku Baduy, pertama kali mendengar mungkin terdengar purba. Atau sedikit kampung. Terkesan udik, pedalaman, tak terjamah. Namun itulah yang membuat berbeda dari sekadar mempelajari di buku. Kesan yang berbeda, di hati juga di badan.

The Baduy Squad

DSC_0264
(Kiri-Kanan): Adit, Hendri, Kang Sardi, Gugum, Andika, saya, dan Kamal (Foto: Dinda)

Perjalanan ini berisikan para anggota pecinta alam kesayangan Kamuka Parwata FTUI berjumlah tujuh orang. Ini bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban menjalankan program kerja, ada targetan output yang mesti didapatkan. Materi utama dari perjalanan operasional ini untuk menjawab pertanyaan besar: ” Masih mampukah Suku Baduy mempertahankan tradisi di tengah derasnya arus globalisasi?”

Well, kami hanya memiliki waktu efektif dua hari untuk mencari tahu. Tanpa menunggu lama, kami pun melaju.

Dua tahun lalu, KAPA FTUI pernah melakukan perjalanan mengunjungi Suku Baduy, tentunya dengan targetan yang berbeda. Salah satu tantangan kali ini adalah hanya Gugum seorang yang bisa dan memahami bahasa Sunda. Sisanya zonk. Juga sumber daya yang terbatas sehingga pengumpulan informasi tidak memiliki banyak variasi agar lebih akurat. Warga Suku Baduy rupanya biasa berkomunikasi, sedikit banyak, menggunakan bahasa Indonesia.

Di Desa Kanekes, kami berlabuh. Wajib bagi tiap wisatawan untuk melapor pada Jaro (Lurah) Pemerintah di perbatasan antara Ciboleger dan Desa Kanekes—wilayah Baduy Luar. Omong-omong, jarak antara Cibologer dengan perbatasan hanya sekitar 300 meter dimana rumah-rumah penduduk biasa bercampur baur dengan mereka. Kebetulan Jaro Saija tengah pergi sehingga seorang tetangga turun tangan membantu, beliau bernama Pak Arwan. Penduduk desa Kanekes memiliki tampilan selayaknya warga Ciboleger. Kaus, celana pendek, sandal jepit.

Kami mengisi buku tamu. Ditampilkan segala pantangan saat mengunjungi Suku Baduy. Salah satunya adalah warga kulit putih (bukan orang Indonesia) tidak diperbolehkan mengunjungi Baduy Dalam. Beruntung si Kamal keturunan Arab, jadi ia masih diperbolehkan ikut. Katanya, orang Arab itu masih dekat dengan kita karena mereka yang memiliki Baitullah-bisa dibilang ada hubungan darah. Kami meminta untuk ditemani melakukan perjalanan karena tidak mengetahui jalur yang yang harus di lewati—tidak ada informasi valid dan lengkap mengenai jalur menuju Baduy Dalam—karena dua tahun lalu rombongan berangkat bersama alumni yang memang sudah sering ke Baduy dengan membawa ‘orang dalam’.

Struktur Organisasi Desa Kanekes dan Lembaga Masyarakat Baduy

Kami mendapat guide bernama Kang Sardi, menantu Pak Arwan. Awalnya, saya heran (lagi) ngapain ada pria ucuk-ucuk nongol di antara rombongan kami, golok di pinggang, pakai sandal, dengan jaket ungu. Eh, beberapa menit kemudian pria itu muncul lagi sudah berganti mengenakan atasan warna hitam, membawa kain biru yang khas itu, serta tas selempang yang terbuat dari karung beras.

Saran saya untuk perjalanan trekking yang lebih nyaman, ada baiknya menggunakan sepatu trekking karena medan yang naik-turun dengan tanah yang licin dan batu berlumut. Kebetulan sedang musim hujan, jadi beberapa kali saya jackpot nyaris terpeleset. Padahal menurut Kang Sardi ini adalah trek yang lebih mudah. Jika dibandingkan dengan naik gunung? Yah, sepuluh dua belas lah.

Namun tidak seperti naik gunung, kami tidak bisa memastikan berapa lama lagi akan sampai. Tidak ada pertanda, tidak ada pos. Hanya sesekali kami bertemu saung, melewati sungai-sungai kecil. Sisanya kami benar-benar bergantung pada Kang Sardi yang memimpin jalan di depan. Sesekali kami bertemu warga, menyapa sesantun mungkin, “Punten, Ibu, Bapak. ” Yang disahut dengan senyuman kecil atau, “Mangga. ” Berasumsi bahwa mereka semua adalah orang Baduy Dalam. Ternyata belum tentu demikian.

Orang Baduy Dalam mengenakan baju warna  putih, tanpa kancing, dan tidak dijahit menggunakan mesin. Tidak ada celana. Hanya sarung yang dililit kuat di pinggang dengan selembar kain lagi yang diikat di kepala. Mereka selalu dan pasti bertelanjang kaki. Sementara warga Baduy Luar diperbolehkan mengenakan alas kaki, memakai pakaian seperti kaus oblong, atau dengan warna selain hitam.

Pada paruh pertama perjalanan, medan lebih banyak menurun dan landai. Saya sangat merekomendasikan untuk olah fisik sebelumnya.

Perbatasan antara Baduy Luar dan Dalam adalah sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Setelah ini merupakan wilayah dimana wisatawan tidak diperbolehkan mengambil gambar, ponsel sebaiknya di-silent atau dimatikan. Peraturan dilarang menggunakan ponsel (sepertinya) hanya berlaku untuk warga Baduy Dalam karena ada wisatawan yang bertelepon ria saat di perkampungan. Saya pribadi memilih untuk mematikan ponsel.

Pada paruh terakhir perjalanan, medan menjadi lebih menantang. Ada sekitar lebih dari tiga tanjakan. Salah satunya cukup maut hingga membuat kami bergeletakan saat bertemu salah satu rumah warga. Di rumah tersebut tinggal tiga keluarga sekaligus. Tetapi lelah itu tidak serta-merta mengambil alih badan. Ada tiga orang anak kecil berdiri di ambang pintu, memandangi kami yang megap menghela napas; mengenakan pakaian putih dan bawahan kain tenun gelap. Seorang lagi merupakan balita yang masih belum lancar bicara. Saya segera mengajak berkenalan karena mereka terlihat pemalu sekaligus bingung dengan kami yang mungkin asing bagi mereka. Anak-anak itu bisa jadi tidak terlalu memahami Bahasa Indonesia, bisa jadi curiga “Tetehnya kok nyeremin sih sok-sok ngajak kenalan.” Ternyata ibu dari anak-anak itu ada di dalam, saya mencoba mengangkat pembicaraan agar lebih sopan karena kami telah menempati sisi depan rumah beliau. Sang suami tengah membuat jaring-jaring sementara anggota keluarga lain tenggelam di antara gelap sekat rumah yang tidak terlalu luas.

Si ibu memegangi seorang anak perempuan berkulit bersih dan gemuk. Pokoknya sangat menggemaskan. Yah, saya melihat anak kecil lucu langsung berusaha berkenalan dan ngobrol meskipun usianya baru delapan bulan. Coba-coba pula mengajak untuk menggendong si bocah, tapi dia cukup pintar untuk menolak. Biar nggak gampang diculik ya Dek?

Keluarga tadi rupanya sedang menyiapkan makan siang. Kami dibagi beberapa potong uwi rebus yang diberi garam. Lumayan untuk menambah tenaga. Diberi kudapan oleh tuan rumah, bagi kami, si orang asing, merupakan sambutan yang amat baik. Hampir satu jam kami leyeh-leyeh di atas dipan, menikmati semilir angin, mengamati para warga Baduy yang naik-turun perbukitan dengan golok di pinggang. Menyadari betapa kata ‘suku’ tidak selalu menjurus pada hal tidak pintar, kuno, apalagi tak ramah pada orang asing. Mereka hanya pemalu, berbicara dengan lembut. Dan penghalang utama bagi keakraban yang akan sangat mudah dibangun adalah bahasa yang digunakan.

Si anak perempuan tadi bernama Nasmah. Di akhir pertemuan ia malah semakin mudah diajak bercanda. Bahkan tertawa karena peek-a-boo. Sebelum berpisah saya memberikan tanda mata berupa pin pita berwarna merah yang pasti sangat cocok dengan Dedek Nasmah yang lucu.

Pukul 13.40 akhirnya kami sampai di Perkampungan Cibeo, wilayah Baduy Dalam. Tidak pernah ada reservasi jika ingin menginap, namun karena para wisatawan telah sering berkunjung, bukan hal tidak biasa bagi mereka untuk menerima tamu. Beberapa rumah telah ditempati oleh wisatawan. Kang Sardi meminta izin bagi kami untuk menginap. Tebak rumah siapa yang kami dapat sebagai rumah singgah? Rumah Jaro Adat sendiri.

Nah, di sini kami tidak bisa asal masak menggunakan kompor spiritus yang telah dibawa. Melainkan isteri dari tuan rumah akan memasak makanan untuk kita. Jika rombongan tidak membawa beras maka mereka akan menyediakan nasi sedangkan lauk dari yang dibawa oleh tamu. Namun jika kita membawa beras maka beliau akan memasak nasi dan lauk tersebut bagi kami. Sekadar informasi, warga Baduy tidak segan untuk diajak makan bersama. Singkatnya, kita harus ajak dan makan bersama, setidaknya, tuan rumah.

Lumayan bisa banyak tanya-tanya selama memasak, sebagai tamu yang tahu diri saya dan Dinda turut bantu-bantu. Syukur-syukur jika tuan rumah yang ditumpangi bisa diajak mengobrol bahasa Indonesia.

Cukup Pakai, Cukup Punya, Cukup Makan

Ternak/peliharaan warga Baduy umumnya hanya meliputi ayam yang dipotong saat acara tertentu.

Ungkapan bahwa waktu berlalu tanpa terasa amat tepat adanya dengan kondisi kami. Kelelahan dan mager. Juga kebingungan mencari warga untuk diajak mengobrol karena kebanyakan masih berada di ladang. Sisanya, mereka berkumpul di rumah sebelah, kediaman pribadi puun—tetua kampung. Rupanya ada tamu dari kota yang meminta syariat dan nasihat, mereka sedang berkonsultasi agar bisa bertemu dengan beliau. Dan tuan rumah kami lebih sering bolak-balik keluar-masuk, mengingat bahwa beliau adalah Jaro Adat maka kami tidak enak untuk intervensi.

Oh ya, Jaro merupakan wakil puun di dalam sebuah kampung. Untuk menjadi puun tidak harus yang penuh uban seperti kakek uyut. Mereka yang dipilih harus ‘kuat’ selama menjabat karena jika tidak bisa jadi jatuh sakit atau bakal digantikan begitu saja oleh yang lain. Puun di kampung Cibeo bahkan lebih muda dari Jaro, usianya baru sekitar 50-an. Dan beliau menjabat selama sepuluh tahun terakhir. Puun suatu kampung dipilih oleh para kekolot dan puun kampung lain—Cikeusik dan Cikartawarna, jadi tidak bisa asal tunjuk dan memilih seperti Pilkada.

Tidak sembarangan orang bisa bertemu puun, hanya mereka yang memiliki kepentingan dan tujuan. Seperti tamu dari ibu kota yang datang mencoba bertemu dengan beliau.

Menjelang sore, Jaro telah bebersih. Beliau duduk-duduk santai di rumah yang tepat bersebrangan. Awalnya hanya untuk berbasa-basi, saya menghampiri Jaro. Ketar-ketir jika beliau tidak memahami bahasa Indonesia. Eh, ternyata saya salah. Dan di luar dugaan pula, beliau tidak kaku saat diajak mengobrol meskipun tetap bernada lembut. Mungkin itulah kenapa kampung terasa begitu sunyi karena warganya tidak ada yang berbicara heboh laiknya orang kota.

Kanopi hijau pepohonan menaungi langkah, tanah yang lembab, bebatuan ditumbuhi lumut, deru angin saling mendahului dengan aliran sungai. Sungguh, bagi saya yang jenuh dengan hutan kota, merupakan tempat tinggal idaman. Memang tidak akan pernah kita temukan suasana yang sama di mana pun di belahan bumi yang kita susuri.

Bukan rumah bertingkat, halaman luas dengan kolam renang yang jarang disambangi, makanan empat sehat lima sempurna, atau pun simpanan tabungan berjuta untuk diwariskan. Tapi sekadar cukup pakai, cukup punya, cukup makan. Mungkin saya bakal cocok dilahirkan sebagai seorang Baduy. Sayangnya warga Baduy menganut agama Sunda Wiwitan, yang mempercayai keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada syarat khusus untuk bangunan rumah Suku Baduy. Mereka hanya haruslah berbentuk rumah panggung dengan aturan pasti satu rumah dengan rumah lain saling berhadapan. Di perkampungan Cibeo terdapat 97 rumah dengan jumlah penduduk sekitar 130-an jiwa. Rumah pribadi puun sendiri tidak memiliki ‘pasangan’ untuk berhadapan karena jumlah yang ganjil. Yang satu menuju utara sementara yang lain ke arah selatan. Nah, yang unik lagi di Desa Cibeo ini rumah dinas bagi puun diharuskan menghadap timur. Sedangkan kediaman dinas puun Kampung Cikartawarna dan Cikeusik menghadap utara. Saat ditanyakan mengapa, Jaro memberikan jawaban klasik: itu sudah tradisi. Amanat orang tua.

Jawaban macam inilah yang bakal kita dapatkan tiap kali menanyakan alasan dan muasal tradisi di perkampungan Baduy Dalam.

Dahulu sewaktu Jaro masih muda, jumlah rumah di Cibeo hanya sekitar 60-an. Beliau memiliki tiga anak perempuan yang telah menikah seluruhnya dan menetap tidak seberapa jauh. Bisa dibilang penghuni kampung memiliki tali persaudaraan. Dan pertambahan penduduk tidak hanya karena proses perkawinan. Ada pula warga Baduy Luar yang memilih menjadi Baduy Dalam melalui proses tertentu. Meskipun hal ini terjadi terakhir sekitar 25 tahun lalu. Atau ketika Jaro pertama kali menjabat—omong-omong, usia Jaro telah mencapai 60 tahun, plus minus sekian tahun. Jika kalian memiliki kesempatan untuk bertemu Jaro, kalian pasti bakal heran pada fisiknya yang masih tegap, pergerakan yang cukup lincah, serta rambut yang masih hitam legam. No uban.

jaro-kp-badui
Saya menemukan foto Jaro (kanan) saat berselencar di Mbah Google. Foto diambil pada tahun 2012, menurut tanggal laman blog bersangkutan. (Kredit: bachtiar-ramdoir7.blogspot.co.id)

Setiap pria Baduy Dalam diharuskan wajib kudu mesti bisa membangun rumah. Sejak kecil mereka telah diajari pekerjaan seorang pria: pergi ke ladang, memotong kayu, berburu, berenang di kali, berhitung sampai seratus. Jangan heran jika kalian menemukan anak-anak kecil, pada kisaran usia di atas lima tahun, menenteng golok mini di pinggang mereka. Di sinilah letak pendidikan itu: agar mereka menggunakan pisau tersebut untuk tujuan yang baik, bukan untuk menyakiti siapapun. Untuk tiap perempuan Baduy Dalam mereka diwajibkan untuk menguasai menenun, menganyam, memasak, dan mengasuh anak; apapun yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Tak jarang pula sebuah keluarga membuka lahan bersama. Omong-omong, di dalam tradisi mereka tidak diperbolehkan untuk bersekolah. Bagi mereka, didikan yang diberikan secara turun-temurun bagi anak-anak merupakan bersekolah.

Salah satu keterampilan yang harus dikuasai wanita Baduy yaitu menenun (Lokasi: Kampung Gajeboh, Baduy Luar)

Berarti orang Baduy tidak bisa membaca dan menulis dong? Jangan salah. Mereka benar-benar unggul dalam hal self-taught. Sekian warga bisa membaca lumayan baik meskipun dengan sedikit mengeja. Pada bakul nasi atau tiang di rumah-rumah terdapat tulisan yang bukan coretan iseng. Jika masih ada yang berpikir bahwa suku yang terisolasi tidak mendapat edukasi, dari mana mereka mampu membuat jembatan seperti foto di atas, membangun rumah dengan balans dan presisi yang baik, saluran irigasi hanya bermodal bambu? Mereka tidak memiliki lembaran ijazah namun hidup mereka serba berkecukupan karena itulah yang diresapi tiap harinya.

Tidak pula warga dibawa ke dokter jika ada yang sakit atau pun melahirkan. Sudah ada dukun beranak dan tabib yang siap untuk menangani. Kalian dapat menyaksikan sendiri betapa tiap penduduk sekitar, mulai dari yang masih batita hingga lansia, memiliki tubuh yang bugar dan sangat aktif bergerak. Mungkin itulah mengapa mereka tetap stay fit dan jarang sakit. Pernah berapa kali, diceritakan, ada yang terkena penyakit kulit—tapi saya curiga ini bukan endemik perkampungan. Wilayah yang terisolasi seharusnya menyulitkan penyakit ‘aneh’ berjangkit masuk. Pastilah orang luar yang membawa penyakit demikian ke dalam.

Sekadar informasi, orang asing tidak diperbolehkan menginap lebih dari satu malam. Ada tradisi yang bisa jadi sulit untuk dipatuhi. Jika ada yang berkeras untuk tinggal maka mereka akan ditegur dan ‘diminta’ segera pulang. Wilayah Baduy Dalam memiliki sekitar 60 desa. Suatu kali jika teman-teman penasaran untuk menginap dalam jangka waktu lama, katakan seminggu, maka teman-teman bisa berpindah-pindah pada tujuh desa berbeda. Dan sebagai orang luar, kita tidak bisa asal berkeliling kampung. Kita dilarang untuk memasuki wilayah kediaman dinas puun. Halaman tersebut dibatasi oleh pilar bambu menyilang yang seharusnya telah diketahui tiap wisawatan yang mampir.

Apakah warga Baduy Dalam turun ke desa luar? Mereka pergi sekadar untuk berjualan hasil panen atau membeli tambahan beras untuk persediaan. Lalu, apakah ada yang pernah mengunjungi ibu kota? Jelas sudah. Tujuan mereka adalah untuk berjualan madu hingga kerajinan tangan; sementara Jaro adalah untuk bertemu teman atau sekadar jalan-jalan—mengetahui keadaan luar. Beliau sudah pernah ke Jakarta, Bogor, Tangerang, Anyer, bahkan mengunjungi Puncak Monas. Biasanya ditemani dua orang teman lain. Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu hingga tiga hari dengan berjalan kaki. Yap, jalan kaki. Untuk menginap beliau mencari kelurahan atau rumah ketua RT/RW terdekat. Dan biasanya menginap di kediaman pimpinan daerah bakal disuguhi makan. Ini baru namanya piknik garis keras.

Warga Baduy Dalam tidak terpaku dalam transaksi barter semata namun mereka telah menggunakan uang sejak zaman penjajahan Belanda. Suatu kali saat rezim Soekarno, mereka harus menelan pil pahit lantaran seluruh mata uang diganti menjadi uang baru sehingga seluruh uang yang mereka miliki tidak berlaku lagi.

Rumah-rumah di perkampungan ini pun hanya tersusun dari kayu, anyaman bambu, dan atap dari daun kelapa yang dikeringkan atau ijuk. Baju yang mereka kenakan hanyalah lembaran kain warna putih. Tanpa alas kaki—menurut tradisi mereka tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki. Tidak memiliki kendaraan atau alat elektronik. Tidak ada divais apapun yang bakal menunjang kemudahan hidup. Itu sudah tradisi, amanat orang tua. Kata Jaro, jika mereka tidak kuat pada prinsip yang ada maka mereka bakal pergi begitu saja.

(Kiri): Lumbung tempat menaruh hasil panen. (Kanan): Potret rumah adat Suku Baduy (Luar)

Lebih banyak Baduy Dalam yang pindah menjadi Baduy Luar daripada sebaliknya lantaran lingkup toleransi yang lebih besar. Salah satunya adalah adik kandung Jaro sendiri. Terakhir kali kepindahan terjadi dua tahun lalu. Dan jika ada yang berniat untuk kembali lagi menjadi Baduy Dalam setelah keluar, kemungkinan tersebut sangatlah kecil. Ia bakal dianggap melecehkan—menyepelekan aturan yang telah ada.

Nah, mungkin kalian sekarang bertanya-tanya bagaimana warga Baduy melakukan kegiatan MCK. Tanpa sabun, pasta gigi, deterjen. Hanya air. Kami pun turut mempraktikkan saat buang air dan mengambil wudhu. Terdapat sungai di perbatasan kampung dimana menjulang sebuah jembatan bambu. Jika ada yang bernyali untuk tengok kanan-kiri di jam-jam kritis kegiatan MCK, di ujung pandangan bakal terlihat para warga yang asyik dengan aktivitas masing-masing. Arusnya tidak terlalu deras sehingga aman untuk anak balita sekalipun berendam dan bermain air. Yang penting saat ambil air wudhu coba cari spot yang airnya mengalir—bukan kubangan—dan cukup jauh dari tempat para warga ber-MCK ria.

Lalu, bagaimana kami ikut praktik buang air selama di sana?

Sungai pria dan perempuan di pisah, pastinya. Para perempuan biasanya membawa anak mereka turut serta saat bersih-bersih. Jadi, ada jeram kecil dimana kita bisa tinggal berjongkok untuk menunaikan hajat kita, baik besar maupun kecil. Voila! Segera terbilas begitu saja. Jujur, saya benar-benar sangsi untuk turut mencoba saat terbangun esok paginya. Namun mumpung masih gelap, pada jam Subuh, saya harus segera menuntaskannya sebelum menyesal. Tapi, si Gugum nyasar ke sungai perempuan dan ngeyel bahwa pria dan perempuan bercampur saat bersih-bersih. Saya sampai teriak-teriak mengusir yang bersangkutan karena sepertinya dia juga setengah sadar.

Obrolan Setelah Mandi

Trekking kali ini amat berbeda daripada gunung hutan biasa. Hawanya lembab, terik saat tengah hari juga lumayan. Harus stay good looking and fresh meskipun saat operasional ya.

Becanda deng.

Saya dan Dinda akhirnya menyerah pada kelengketan keringat dan lumpur yang menempel. Mumpung ada waktu longgar, kami turun ke perbatasan Desa Kanekes untuk mandi di WC Umum dekat musholla desa. Coba tebak siapa pemiliknya? Seorang perempuan yang merupakan isteri dari orang yang dulunya merupakan warga Baduy Luar. Beliau biasa dipanggil Ibu Lik, asal dari Pare, Jawa Timur. Suaminya bernama Sadiman yang juga berasal dari Desa Kanekes. Ini namanya sosiologi pedesaan dibungkus kegiatan (setelah) mandi.

Awalnya, Kang Sadiman bersama isteri terdahulu memilih keluar dari Baduy Luar. Motif utama beliau adalah karena telah memeluk Islam, ingin menghormati adat dan tradisi yang telah ada. Itu terjadi sekitar tahun 2009. Sebelumnya, kakak kandung beliau sendiri telah hijrah dengan alasan yang sama pada tahun 2000-an. Sayangnya, di tengah perjuangan tersebut beliau dan isteri memutuskan berpisah. Hingga pada 2013 Kang Sadiman dan Ibu Lik bertemu dan menikah. Sekalipun keluarga kedua belah pihak merestui, pernikahan berlangsung di kampung halaman pihak perempuan tanpa satu pun keluarga mempelai pria menyambangi.

Di Desa Kanekes mereka membuka usaha yang bisa dibilang lumayan sebagai tukang jahit. Orang-orang bakal datang membawa bahan untuk dijahit, termasuk warga Baduy Luar sendiri. Untuk mengisi waktu luang Ibu Lik juga berjualan makanan. Lalu siapa yang menjahit? Ternyata Kang Sadiman sendiri; serta beberapa karyawan pria yang dipekerjakan. Kang Sadiman belajar menjahit dengan bermodal nekat selama enam bulan—saat itu masih menjadi warga Baduy Luar—dengan berjalan kaki menuju Rangkasbitung, tanpa ongkos dan bekal apapun. Tidak memperoleh restu orang tua dan menentang tradisi yang melarang pula.

Ibu Lik sebelumnya telah bertemu Kang Sadiman lantaran beliau pun telah beberapa kali mengunjungi Suku Baduy. Lalu, saya penasaran, apa perbedaan Baduy Luar yang dahulu dan sekarang? Sebelumnya saya sempat mengernyit pada jawaban Kang Sardi saat saya bertanya tentang ponsel pintar yang digunakan: ya, sebenarnya nggak terlalu dibolehkan juga. Jadi bagaimana?

Terdapat desa Baduy Luar di wilayah yang lebih terisolasi, agak ke dalam, jauh dari hingar-bingar perbatasan dengan masyarakat biasa pada umumnya, Desa Cikadu. Mereka sangat berbeda dengan warga Desa Kanekes. Para pria mengenakan baju kampret hitam, sementara yang perempuan tetap berkebaya. Boro-boro memakai ponsel, mereka pun tidak mengenakan alas kaki dan tidak pernah menonton televisi. Di pusat desa sini dipasang televisi sehingga warga bisa melakukan nonton bareng, terutama jika ada tayangan pertandingan sepak bola.

Jadi jika ada yang bertanya-tanya apakah globalisasi berhasil menyusupi warga suku Baduy? Terlihat jelas. Pada pakaian yang dikenakan, baju kampret yang lebih mirip kemeja berkancing, beberapa anak memakai baju dengan print sinetron kekinian. Ponsel yang telah menjadi barang kepunyaan. Bahkan warga Desa Kanekes ada yang memiliki profil facebook. Sangat jauh dari kehidupan yang dijalani warga Desa Cikadu.

Bagaimana tidak? Modernisasi hanya berjarak 300 meter dari teras rumah mereka.

Saya bahkan turut prihatin saat mengunjungi Desa Cibeo, pada sampah plastik yang berjatuhan di sana-sini. Tidak banyak, namun cukup mengganggu saya yang berekspektasi akan keasrian desa ini serta pecinta go green. Sekalipun para tamu membuang sampah pada tempat yang telah disediakan bisa jadi bungkus itu berterbangan terbawa angin atau yang lebih parah, ada yang nakal dengan buang sampah sembarangan. Di penghujung minggu, saat para tamu biasanya paling ramai, warga desa luar Baduy bakal naik untuk berjualan: makanan kecil, oleh-oleh khas Baduy, hingga masakan semacam lotek. Anak-anak Baduy Dalam pun suka untuk jajan camilan yang mereka jual. Membuat saya berasumsi sampah plastik kecil-kecil yang terselip di tanah salah satunya berasal dari sana.

Apapun itu, warga Baduy Dalam membuat saya kagum dengan keteguhan mereka untuk bertahan dengan nilai-nilai tradisi yang telah ada secara turun-temurun di desa mereka. Cakar-cakar modernisasi telah berusaha menjangkau, namun tidak menggoyahkan sangkar yang menjaga mereka dalam bentuk amanat leluhur dan belukar alam.

There and Back Again

Nggak apa-apa, ini section untuk foto-foto sekadar berbagi.

Kain biru dengan motif khas yang menjadi ciri pakaian masyarakat Baduy Luar

Note: Seluruh dokumentasi foto diambil di luar wilayah Baduy Dalam. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan ambil apapun selain gambar, jangan bunuh apapun selain waktu.

Wassalamu’alaykum.

 22-25 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s