HATI YANG KERAS SEPERTI BATU

heart-of-stone-cathie-douglas
Sumber: fineartamerica.com

Bismillah,

Assalamu’alaykum warrahmatullah wabarakaaatuh.

Sebenarnya ada banyak tulisan menunggu untuk diselesaikan atau di-publish tetapi urgensi untuk berbagi mengenai satu dua hal yang cukup mengganggu benak saya membuat saya memutuskan untuk menulis ini.

Beberapa hari lalu saya dan Fathiya, membicarakan suatu hal. Ini dan itu. Penting tidak penting.

Saya agak ‘mengeluh’ atau singkatnya, mengadu, meminta nasihat dari seorang sahabat. Tentang bagaimana saya merasa telah berusaha untuk mengingatkan beberapa orang di lingkungan saya biasa berada untuk melakukan hal ‘lebih baik’. Saking seringnya sampai bisa jadi mereka kadang mencemooh. Dan ada pula yang berkata langsung, saat berbicara berdua pastinya, bahwa singkatnya ia tidak suka diingatkan akan hal demikian. Karena dia sudah cukup menyadarinya, itu adalah urusannya.

Motif utama saya bukan untuk menonjolkan image orang baik. Namun agar jika suatu saat nanti, di hari akhir kelak, Tuhan menanyakan pada saya apakah diri ini telah mengingatkan orang lain pada kebaikan dan mencegahnya dari yang mungkar, saya dapat menjawab. Sesimpel itu. Meskipun tidak sesimpel mengugurkan kewajiban.

Namun merupakan suatu kewajiban yang harus digugurkan.

Berkali-kali disebutkan di dalam Al-Qur’an untuk mengingatkan pada kebaikan (haq) dan mencegah dari yang mungkar. Sisanya adalah kehendak Allah. Dia yang Maha Mebolak-balik hati manusia.

Lalu kami membahas seorang kawan yang kami khawatirkan. Sesungguhnya saya tersentak pada fakta bahwa mungkin saya telah absen pada satu hal paling krusial: doa. Kawan yang dikhawatirkan ini tidak pernah absen dari doa sahabat kami. Dan mungkin terkadang saya lupa pada kemungkinan: ada peran tangan Tuhan disana.

Seperti saat jika ingin mengisi majelis halaqah. Amalan apa yang telah kita lakukan sebelumnya? Karena bisa jadi itu merupakan salah satu faktor yang mampu menembus hati yang kita coba sentuh. Melalui amalan kita maka Allah membuka mata hati mereka yang kita kasihi.

Saya sempat berfikir bahwa Fathiya telah menyerah untuk berusaha mengingatkan kawan kita ini atau setidaknya, berusaha mencari tahu mengapa ia menjadi demikian. Namun kalimat dari mentor Fathiya ini juga membuat saya tersentak:

Tanda bahwa kita telah berputus asa atas orang lain adalah jika kita berhenti berdoa.

Ini adalah nasihat bagi kami yang seringkali tertatih di tengah jalan dakwah yang sulit dan tak mudah ini. Jika ia mudah maka semua orang akan melakukannya. Dan hanya orang-orang pilihan yang mampu melaluinya.

Dan satu hal yang membuat Fathiya kadang gentar untuk mencoba menghampiri sosok-sosok yang kami pedulikan: kening yang tidak pernah bersujud, wajah yang tidak pernah tersentuh air wudhu. Atau bisa jadi jarang.

Karena kalau mereka tidak shalat maka semakin sulit untuk kita mencoba menasihati mereka. Hati mereka telah sekeras batu.

Ya, meskipun, menurut saya, telah berusaha menggunakan kalimat dan perkataan yang baik untuk mengingatkan mereka. Seolah air yang berusaha menembus pori batuan tetapi ia sama sekali tidak melunak.

Saat Fathiya berkata demikian saya bisa melihat kesedihan dan prihatin disana. Dan entah mengapa ia seperti jemari kecil yang mencengkeram ulu hati. Hal yang bagi kami sulit untuk dibayangkan sekalipun memang terjadi. Pada kawan-kawan kita, sosok-sosok yang jauh, atau pun mereka yang tidak kita kenal.

Hanya satu yang tersisa jika kita tidak berputus asa atas mereka. Doa.

25/09/2016

01:59 PM

In my room

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s