[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: EPISODE

stage
credit: google.com

Selamat pagi, wahai Bumi. Terima kasih pada Tuhan yang masih mengizinkanku untuk memperbaiki yang telah lalu—

–atau mungkin sekaligus menghancurkan yang telah ada. Tetapi, sejujurnya ini semua salah saya.

Hari ini saya membuat mi dengan sayur brokoli+wortel+udang dengan kebanyakan garam. Kemarin malah kekurangan. Mungkin karena tangan saya kembali gemetar—kelewat berlebihan dibanding sebelumnya dan tak ingin si sayur kelewat matang.

Kali ini tidak hanya tangan saya yang beratraksi, tetapi saya bisa merasakan jantung saya berdebar lebih daripada sebelum-sebelumnya. Membuat saya agak takut, karena untuk menggenggam benda, saya merasa seolah kapan saja ia bakal lepas. My hands feel weak and fleshy.

Apa yang saya pikir sebagai usaha untuk memulihkan diri, malah hancur hanya dalam waktu satu malam. Jika pagi ini saya tidak menghadiri kelas maka sudah seminggu saya resmi membolos dari tiap mata kuliah. Dan belum ada tugas yang berhasil saya selesaikan meskipun telah mencoba untuk memulai.

Saya kembali terpikir untuk menemui psikolog, namun saya takut. Entah takut pada apa. Saya membutuhkan mereka yang mampu memberikan suatu saran karena entah mengapa jauh di dalam diri saya merasa ini adalah ujian Tuhan atas mental spiritualitas saya. Bukan sekadar ujian biasa—akademis, usaha menata hati (lawan jenis), finansial, atau keluarga. Seakan seluruhnya adalah difusi gabungan yang membuat jiwa meledak disertai pelbagai hal lain.

Seakan ini adalah cara Tuhan menegur saya untuk kembali mendekat, membangun hubungan yang terlanjur saya rusak. Bahwa ini cara Tuhan menyampaikan bahwa Dia tidak pernah jauh—saya lah yang memilih pergi.

Jika ada yang bertanya saya kenapa—ya, saya sakit. Sakit jiwa. Yang bersambung pada kondisi fisik yang kian melemah.

Saya merasa marah pada mereka yang galau akan permasalahan hati padahal ada yang lebih membutakan mata batin. Atau perkara sepele lainnya. Banyak kawan-kawan lain yang menderita sakit mental lain dikarenakan permasalahan yang bahkan orang lain tidak ketahui kecuali segelintir. Termasuk saya—padahal, saya tidak bisa bilang bahwa diri ini yang paling menderita.

Apalah dibandingkan Rasulullah yang akhlaq dan mentalnya begitu melegenda. Tetapi tidak ada manusia yang menyamai Rasulullah!

Saya tidak ingin menggunakan justifikasi apapun untuk mengeluh atau merasa lemah. Namun, sayangnya, itu lah yang saya rasakan.

Bahkan untuk menghadap Sang Rabb saya terlalu malu.

Saya tidak tahu sudah berapa pekan, segala gejala ini berlangsung. Saya hanya ingin sembuh. Jika tidak bisa memperoleh dengan segera jiwa seorang mukmin penghuni surge, setidaknya kembali pada diri saya yang dulu.

Mungkin saya takut ke psikolog bahwa mereka bakal mengonfirmasi apa yang saya takutkan. Atau hanya membuang waktu saya saja. Bahwa sebenarnya yang saya butuhkan hanyalah Tuhan. Hanya Allah.

Sesungguhnya saya berharap bisa menyelesaikan ujian ini dalam kondisi hidup-hidup, tidak mengapa babak-belur. Karena jika saya keburu mati, saya takut saya tidak mampu menggapai ridho Allah. Takut tidak sempat mencuri sepetak tanah di surga untuk menghabiskan sisa keabadian.

Saya marah pada dunia yang tidak peduli. Yang enggan untuk merangkul atau meraih salam seorang sahabat, dan bertanya apakah mereka baik-baik saja. Saya marah pada dunia dimana perilaku dan tindakan berdasarkan keuntungan dan kebutuhan. Atau bisa jadi saya hanya membutuhkan bahu untuk bersandar.

Saya pun malu untuk menangis lantaran sepertinya sudah banyak orang menjadi saksi bisu saya menangis. Yang mengherankan mereka tidak bertanya, berkesan tak acuh agar tidak dianggap mencampuri urusan orang. Padahal, katanya kita ini anak-cucu Adam. Katanya yang menguatkan adalah ukhuwah jika yang menjadi penggerak adalah iman.

Saya tidak tahu harus merasa lega atau semakin bersedih lantaran umat sama sakitnya seperti saya. Atau bahkan lebih parah.

Jika seseorang terjatuh terlalu dalam, mungkinkah ia mampu kembali ke permukaan? Atau muncul sosok orang kesekian yang membantu ia untuk bangkit dan berjalan? Saya tahu dan sadar bahwa, sekali lagi, yang saya butuhkan adalah kembali pada Tuhan.

Dan jika saudaramu membutuhkan bantuan, sudikah engkau mengulurkan tangan?

Advertisements

One thought on “[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: EPISODE

  1. ” Yang mengherankan mereka tidak bertanya, berkesan tak acuh agar tidak dianggap mencampuri urusan orang. Padahal, katanya kita ini anak-cucu Adam. Katanya yang menguatkan adalah ukhuwah jika yang menjadi penggerak adalah iman.”

    Mungkin karena mereka menunggu untuk diceritakan. Beberapa org ada yg seperti itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s