[SHORT STORY]: THE SMOKE BECOMES YOU

Cisentor, Mount Argopuro (In frame: Fikri A.)

♫♪ || Waiting the World to Change – John Mayer; Intuisi – Yura; Beauty is You – Abdul and the Coffee Theory; Dealova – Once; Mimpi – Isyana Sarasvati


It begins with the very first of the hundreds pages.

To Supernova, the flaming burst, the dance of falling stars

This is how I fathom my thoughts to depict the constellations

Today is the day when everything is re-framed and the wall is made of inks and papers

And it is simply beautifully hopeful.

So, I create: are we out of the woods yet?

===

Rain approaches her visions like dull melody from distance away, chilling the lonely soul to the marrow, drifting deep into the box of memories without giving a way. The sun is completely hidden beneath rows of dark grayish clouds as she wonders whether the weather has just turned wild since the sunrays cannot be even seen from the place she resides herself, taking in such melancholy scent of the droplets on once dry earth. For a moment she can reminisce of this state being, where she is utterly absorbed in this lucid sensory details—the raindrops skittering down a window, tall trees leaning in the wind, pair of arms embracing her narrow shoulders keeping her away from any harm.

It turns out that those arms are the inner side of her sleeping bag. She catches a sight of the dome from the yellow summer tent.

She also can make out that the sun does not wish to be found.

The young man is outside. Maybe he has this certain wish not to be found either. In the middle of the vast savanna. Alluring, ravishing, endearing in the most pleasant way. There is a hint of warmth tinging her cheeks each time she recalls any memory regarding him.

They never mind if he frequently strives on daydreaming. Completely immersed in one single thought. It could be a rampant imagination, vivid hope, or perhaps, a mere prayer.

She keeps a journal made of faces and dates. Polaroid collages with small sentences inscribed underneath. It is the synopsis of Lalita Parvati: neighbors, acquaintances, old friends, new strangers conveyed in military precision.

She takes out a Polaroid camera, taking a photograph of him who has been heavily drenched in cold water. His sunkissed skin is adorned in trails of lurid gray—the blood has drained to the feet from his lips. It is almost natural to post the picture near the end of those pages. A snapshot of silhouette amidst the fuzzy fogs, murky dusk from the edge forming a vignette, greyish with a hunting tone of sepia, his back is facing the lens, not allowing anyone to take a peek of his expression. Always keeping a secret.

However, she cannot resist to imagine a certain smile. Of passion and kindness, a gentle heart, the ensnared senses, the bewitched soul. She can picture of sunshine, saccharine-coated voice along with a particular hum of lullaby, followed by unearthly scents which fill the damp air. They are just so thick, stirring on her mind like a terminal illness.

She does not realize until now, that his scent lingers on her clothes.

Black carbon. And the other substances just don’t matter.

Continue reading “[SHORT STORY]: THE SMOKE BECOMES YOU”

Advertisements

[REVIEW]: DEUTER AIRCONTACT 40+10 SL WOMEN SERIES (Bahasa Indonesia)

Deuter Aircontact 40 + 10 SL (Octika Adinda, Argopuro, East Java)

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh,

Libur telah tiba, libur telah tiba! Hore~ hore~ horeeee~~ #inTasyavoice

Simpanlah tas dan bukumu. Lupakan saja skripsimu. Libur telah tiba!

Mau kemana kita? Mari keluarkan peta! Eits—

Sebelum itu, saya akan memberikan ulasan atau review tentang tas yang bisa digunakan untuk membawa barang-barang selama liburanmu. Seri tas ini sebenarnya cukup versatile karena bisa untuk trekking sedang, backpacking, atau pun travelling.

Mungkin kebanyakan sudah familier dengan merek dagang Deuter. Saya akan membahasnya sekilas. Deuter merupakan merek dagang dari Jerman yang memproduksi spesialis gear untuk perjalanan. Awalnya, pada 1989, Hans Deuter menyuplai Bavarian Royal Mail dengan mailbags dan post sacks. Terus berekspansi ke sackcloth, car and horse blanket, tent rental, satchel, backpack, luggage, leather goods, etc. Pada 1920-an hingga 1970, perusahaan menyediakan barang berbagai ekspedisi yang dilakukan oleh negara Jerman. Terus berkembang dengan memproduksi barang kebutuhan outdoor seperti kantung tidur (sleeping bag). Deuter memiliki berbagai nilai yang berusaha dipegang teguh oleh perusahaan, teman-teman bisa mengeceknya di website mereka http://www.deuter.com/DE/en/about-deuter.html.

Produk backpack memiliki beberapa seri: winter, daypack, family & kids, climbing, travel, school, trekking, hiking, dan bike. Untuk produk Deuter Aircontact yang akan saya ulas ini merupakan seri dari tas trekking mereka. Bukan yang terbaru, sekitaran keluaran tahun 2014. Dari website, tas dengan warna Papaya Lava ini sepertinya sudah diskontinu. Warna yang tersedia untuk yang terbaru adalah cranberry-aubergine dan midnight-petrol. Tentunya kalau teman-teman membuka situs mereka untuk melihat spesifikasi tas ini sudah ada beberapa perubahan dan inovasi. Tetapi dari segi fitur, sejauh ini belum ada yang berbeda atau ditambahi/kurangi.

…It’s always hard to change a winning team. But it was time to refine our Aircontact legends. They are still extremely durable, but now come in a more modern, slim look. And they are more comfortable, too, with their new flexible Active Fit shoulder straps and the revised hip wing construction.

Volume: 40 + 10 Litre (Slim Line/Women Series)

Size: 76 x 32 x 24 (H x W x D) cm [NEW: 74 x 26 x 20] cm

Weight: 2.3 kg [NEW: 2350 gr]

Material: Deuter-Duratex 330D Micro Rip Pro 6.6

Harga masih baru barang ini saat itu sekitaran Rp 2,500,000,-. Sekarang mungkin sudah sekian kalinya—belum dua kalinya sih. Kalau mau cek harga dan coba-coba, kunjungi distributor mereka saja. Saran saya sih beli keril macam begini saat SUPER SALE yang biasanya diadakan setahun sekali atau saat Festival Outdoor, potongannya bisa sampai 50%.

Ini barang harganya udah kayak sewa kamar kos saya 3-4 bulan (Kukusan, Depok). Mending ditabung sekalian atau modal nikah.

 

OVERVIEW

Sekilas, keril ini memiliki dimensi yang mirip dengan Consina Expert Series Nogales 60 L. Serta daya tampung yam hampir sama pula. Hanya saja yang kedua sedikit melebar ke samping dalam desain. Tentu saja dengan fitur yang berbeda. Bisa dibilang jika kalian memiliki budget yang rendah, keril Consina tersebut bisa menjadi alternatif. Ia bisa digunakan oleh pendaki wanita lantaran dimensinya yang tidak terlalu besar serta strap yang lumayan nyaman dan lembut.

Jika kamu ingin berinvestasi dalam pendakian dengan rencana perjalanan dan medan yang lumayan serta memiliki budget, maka saya sarankan untuk memiliki Deuter Aircontact 40 + 10 SL ini. Seri slim line memiliki ukuran terbesar hingga 70+10. Sebanding dengan apa yang bakal kamu dapatkan yaitu kenyamanan yang lebih dan fitur yang lebih.

Keduanya cocok digunakan untuk pendakian gunung dengan medan mudah hingga menengah seperti di kawasan Jawa Barat, Tengah, dan Timur. Juga beberapa di Sumatera dan Bali. Mungkin gunung dengan kondisi dan medan tak terlupakan seperti Raung memerlukan ruang lebih. Tergantung lama perjalanan pula. Jika berencana menempuh perjalanan dengan sistem buka jalur atau bertahan hidup di alam bebas (survival) jelas kamu membutuhkan keril lebih besar.

Yang penting jangan coba-coba membawa keril seperti ini ke Leuser. Titik.

Continue reading “[REVIEW]: DEUTER AIRCONTACT 40+10 SL WOMEN SERIES (Bahasa Indonesia)”

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: SAUDARA YANG GUGUR

source: un.org

Adalah sesuatu yang mengherankan, sekaligus menyakitkan bagi saya. Bahwa gugurnya saudaraku, para muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, di Suriah dan Palestina sana, yang memaksa saya untuk bertahan.

Untuk bangkit, tetap sehat dalam akal dan fisik. Berdoa agar diberikan kekuatan. Agar selalu tertambat hati ini pada agama-Nya, pada cinta-Nya.

Saya teringat mimpi-mimpi saya, berbagai tujuan hidup, cita-cita yang masih berupa angan. Menunggu untuk diwujudkan. Sementara tanda-tanda akhir zaman kian dekat. Bahwa mungkin manusia tidak bakal mencapai 1500 Hijriyah.

Lalu, mau sampai kapan aku tersangkut pada jejaring cobaan dan ujian. Saya tidak akan pernah lulus, mereka tidak akan pernah selesai, jika saya masih di sini. Wahai kamu, jangan lah pula katakan bahwa saya tidak berusaha. Ia seperti siklus yang kembali meraup saya dalam sudut kegelapan tatkala ia terpicu muncul. Saya tidak ingin mendengarkan apapun karena kamu tidak berada di sana saat saya terjatuh, saat episode itu terulang seolah mata rantai setan.

Hanya Allah.

Continue reading “[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: SAUDARA YANG GUGUR”

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: TEKANAN

Pressure upsets me. It triggers me. If it turns my heart erratic, hands tremble, that angers me. I don’t know, perhaps I’ll just lost control.

Sometimes I wonder how I can ever function like used to be, just like before. Even the slightest pressure that creates ripples, ruins my expectations, can trigger me. 

If this keeps on going, as a human being, I admit life can be much tougher and less endurable. 

It is not some kind of ordinary pressure that I got used to. That specific one. The destructive ones, the triggering. Can’t actually describe them.

But as I’m writing this, my heart goes erratic and I feel slight tremble in my hands. Maybe they are anxiety, worries, fear.

I’ve always told myself that I am not alone. Just watched a video about ‘the last call’ which one of the Death Bulletin made by the citizens in Aleppo who are fighting for their freedom

If the slightest certain pressure crumbles my world, how about them? Now I keep thinking about my brothers and sisters at Syria. Of how weak I am to face the whole world.

Maybe you won’t understand. It’s hard. There is no other way to describe the feelings. If I told you that I’m still trying, would that even change your thoughts?

[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: BERBAGI

credit: Sketch hands by elisadelatorre on deviantART

Ada yang bilang dengan menulis seperti ini, membagikannya, dapat membantu. Memberikan injeksi tonik tersendiri bagi diri yang sulit bicara, serta berharap bakal memberi sedikit manfaat bagi orang lain yang membaca. Setidaknya menimbulkan syukur dan sabar dalam diri mereka, pula agar kita saling mendoakan.

Kamu dan saya.

Continue reading “[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: BERBAGI”

[CERPEN]: AJIAN GITA

drained
In frame: Havel T. (during a recess, Mt. Argopuro, East Java)

Sinopsis:

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Ketika Gita berkata bahwa ia merindukan Rengganis.

♫♪ || Banda Neira – Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa); Ke Entah Berantah; Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.


“ Kita bakal ikut. “

Aji tidak menyahut.

Apa yang ia pikirkan? Bahwa perjalanan lima hari empat malam menempuh trek puluhan kilometer bakal semudah itu? Dan kini ia berencana untuk melakukannya sendirian. Dia pasti sudah gila.

Sejurus kemudian ia bergumam, “ Gita ingin kesana. “

Lalu kenapa? Saya nyaris menyerukan kalimat itu tepat di telinganya. Ini adalah gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Persetan bahwa ia telah menjelajahi Sindoro menyambung Sumbing dan Slamet. Atau menapaki hutan Lawu dengan keril terisi penuh seringan melangkahi jalanan beraspal. Atau dia sudah bolak-balik menyambangi Semeru, Kerinci, dan Latimojong bersama kawan sekolah atau konco kuliah. Atau ketika ia marathon Merapi-Merbabu hanya karena dorongan impulsif lantaran ia masih kuat untuk lanjut. Atau bahwa ia pernah melakukan ekspedisi ke belantara Kalimantan selama sekian minggu. Atau ketika ia tersesat di hutan lumut belantara Argopuro dua tahun lalu dengan kehabisan logistik dan hanya bermodalkan peta, kompas, dan korek api.

Pendakian tidak akan pernah sama. Walaupun itu adalah gunung dan trek yang sama. Atau bahkan kawan jalan yang sama. Hal-hal yang terjadi, momen yang terlewati, waktu yang dinanti, segalanya pasti berbeda. Apa yang ia pikirkan?

Continue reading “[CERPEN]: AJIAN GITA”