[CERPEN]: AJIAN GITA

drained
In frame: Havel T. (during a recess, Mt. Argopuro, East Java)

Sinopsis:

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Ketika Gita berkata bahwa ia merindukan Rengganis.

♫♪ || Banda Neira – Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa); Ke Entah Berantah; Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.


“ Kita bakal ikut. “

Aji tidak menyahut.

Apa yang ia pikirkan? Bahwa perjalanan lima hari empat malam menempuh trek puluhan kilometer bakal semudah itu? Dan kini ia berencana untuk melakukannya sendirian. Dia pasti sudah gila.

Sejurus kemudian ia bergumam, “ Gita ingin kesana. “

Lalu kenapa? Saya nyaris menyerukan kalimat itu tepat di telinganya. Ini adalah gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Persetan bahwa ia telah menjelajahi Sindoro menyambung Sumbing dan Slamet. Atau menapaki hutan Lawu dengan keril terisi penuh seringan melangkahi jalanan beraspal. Atau dia sudah bolak-balik menyambangi Semeru, Kerinci, dan Latimojong bersama kawan sekolah atau konco kuliah. Atau ketika ia marathon Merapi-Merbabu hanya karena dorongan impulsif lantaran ia masih kuat untuk lanjut. Atau bahwa ia pernah melakukan ekspedisi ke belantara Kalimantan selama sekian minggu. Atau ketika ia tersesat di hutan lumut belantara Argopuro dua tahun lalu dengan kehabisan logistik dan hanya bermodalkan peta, kompas, dan korek api.

Pendakian tidak akan pernah sama. Walaupun itu adalah gunung dan trek yang sama. Atau bahkan kawan jalan yang sama. Hal-hal yang terjadi, momen yang terlewati, waktu yang dinanti, segalanya pasti berbeda. Apa yang ia pikirkan?

Saya menatap Kirana, mengharapkan sebuah tindakan ataupun bujukan agar ia mengubah pikirannya. Aji selalu mendengarkan pendapat Kirana. Tetapi sepertinya sahabat kami telah mengutarakan keputusan finalnya.

Adalah hal yang ganjil bahwa Aji telah merahasiakan rencana perjalanan operasional ini selama berbulan-bulan dari kami. Hingga usai upacara wisuda di Balairung kampus beberapa hari lalu, saya mengajaknya untuk melepas Kak Nanda yang bakal melanjutkan studi ke negeri seberang; akhirnya kami berhasil membuatnya bicara.

Bahwa Aji akan pergi mendaki Argopuro. Sekali lagi.

Dan Gita—

“ Gita pasti ingin kami ikut. “ Saya bersikeras.

Gita. Kami pun, sebagai lelaki, sepakat bahwa Gita yang manis adalah seorang pendaki yang baik. Dia adalah calon kuat kepala divisi gunung hutan sebelum akhirnya terpilihlah Aji lantaran faktor gender. Agaknya itu membuat sedikit ketegangan diantara mereka selama beberapa waktu hingga akhirnya mereka melakukan pendakian berdua saja, tanpa kami, untuk pertama kalinya menempuh Kerinci. Mungkin sesuatu telah terjadi karena mereka berakhir menjadi konco kental. Tiada perjalanan yang tidak diikuti keduanya seolah konflik internal itu tidak pernah benar-benar menggores salah satunya.

“ Kirana sudah mendapat lamaran kerja. Begitu juga Tia. Dan kamu, “ Aji menatap saya sekilas—tidak benar-benar di mata. “ Saya dengar kamu dan Vania mendapat beasiswa kuliah di luar negeri. “

Konyol. Bahkan rencana perjalanan itu tidak perlu seharusnya ada. Kami semua bisa meluangkan waktu bersama jika salah satu dari kami menginginkannya. Hanya perlu perencanaan yang matang. Aji sendiri yang mewanti-wanti, habis menceramahi dan diceramahi bahwa perjalanan operasional adalah masalah hidup dan mati. Hijau bersemi, arak-arakkan gumpalan kapas dengan latar biru semburat mentari, kebersamaan yang agaknya menjadi momen berharga karena ia begitu jarang terjadi atau begitu jarang kami syukuri. Tetapi kami semua seratus sepuluh persen paham bahwa ketika itu nyawa kami hanya seujung kuku jari.

Apa yang ia pikirkan?

“ Gita ingin melihat Rengganis lagi. “

Lalu kenapa? Kami nyaris memberinya sebuah tatapan ironi.

Aji hanya tidak ingin kami pergi bersama dia. Apa yang ia pikirkan?

===

Perjalanan di mulai dari Pos Baderan. Sesuai dugaan, sahabat kami itu memang datang sendirian. Mengurus perizinan untuk dirinya seorang.

Apa yang ia pikirkan?

“ Dia masih berharap bahwa Gita bakal muncul?” Celetuk Amal. Ia menghela napas berat, sepasang matanya yang seperti manik terlihat lelah. Dia lah yang memperingatkan kami bahwa perjalanan menempuh Argopuro ini masih bakal berlanjut setelah yang terakhir itu. Dan ini sudah yang ketiga kalinya.

Rencana kami hanyalah memastikan bahwa sahabat kami itu baik-baik saja. Hingga akhir cerita.

“ Yang saya takutkan adalah Bang Aji bakal melewati jalur non-konvensional. “ Dani membuka peta dan kompasnya. Itu memang terjadi tahun lalu, tapi kami akhirnya kami mampu mengejar Aji, membuat ia mengikuti trek biasa selepas dari puncak. Waktu yang kami miliki agaknya sangat sempit karena mengingat kecepatan Aji dalam mendaki, kami pasti sudah tertinggal cukup jauh.

===

Sejak awal Aji sudah tahu. Karena Gita sendiri yang berkata demikian. Bahwa ia merindukan Rengganis.

Pendapat itu telah disetujui secara universal bahwa setiap gunung pasti menimbulkan rasa rindu. Mereka istimewa, dengan keistimewaan masing-masing. Yang sulit maupun yang mudah. Yang tinggi maupun tidak seberapa. Yang tersulit adalah selalu saat memulai langkah-langkah pertama dimana ritme itu harus ditemukan. Kenyamanan itu harus dibentuk dan dirasakan. Keindahan itu harus dinikmati dan diresapi. Beban di pundak tiada lagi berarti karena mereka telah terbagi.

Ada kalanya kaki sudah terasa begitu lelah, sendi-sendinya menjerit geram namun hati dan pikiran terus saja bergema membisik untuk terus melangkah. Dan doa-doa. Betapa doa-doa dan iman itulah yang menjaga mereka dari ujung hingga ke pangkal.

Yang agak lucu adalah mereka pernah melakukan perjalanan berdua saja, berlomba siapa yang bakal mencapai puncak terlebih dahulu. Seperti saat mendaki Lawu, Aji mengambil jalur Cemara Kandang sementara Gita melalui Cemara Sewu. Sejak itu Aji mengakui sedikit banyak kualitas yang dimiliki oleh gadis muda itu. Mereka bertemu di puncak Hargo Dumilah saat matahari terbit. Aji sudah kepalang yakin bahwa dia lah yang memenangkan kompetisi itu. Namun tatkala menunaikan shalat subuh di samping tugu yang monumental itu, setelah salam, ia mendapati Gita telah berada tepat di belakangnya bersama tiga pendaki lelaki lain dalam barisan shaf.

Tawa mereka terbawa hembusan angin mengikis kawah Semeru dan Welirang. Semburat jingga mendenyar dalam kepingan translusen yang menyusup tiap pori kulit. Sekiranya Aji tidak yakin bahwa yang menjadi tameng dari suhu menggigit di puncak adalah cahaya mentari ataukah tawa yang mereka bagi. Senyuman yang selama ini ia cari. Ataukah momen yang dinanti.

“ Gunung tidak pernah membuatmu patah hati ya?” Gita terkekeh. Cengirannya begitu lebar dari kuping ke kuping. Apakah segumpal cahaya telah terperangkap di dalam sepasang mata itu, Aji tidak pernah tahu. Karena ia hanya bisa menyahut dengan tawa baru.

Pos Mata Air I.

Aji mengisi penuh botol airnya untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Seharusnya sudah sejak setengah jam lalu Gita setidaknya sudah berada tepat di belakangnya. Namun sejak tadi tiada siapapun yang menyusul. Jalur konvensional Baderan relatif sepi. Argopuro sendiri tidak terlalu populer di kalangan pendaki ‘biasa’ karena panjang treknya yang lumayan menguji mental. Mereka tidak pernah benar-benar mengukur tapi konon katanya jarak panjang total adalah lebih dari empat puluh kilometer dari starting point hingga basecamp bawah.

Ini pernah terjadi sebelumnya. Saat mereka mendaki Dempo di liburan semester lima. Kompetisi konyol yang mereka ciptakan hanya untuk bahan ledekan karena mereka berdua tahu bahwa Aji memang menyesuaikan ritme jalannya dengan Gita. Rupanya gadis culas itu mengambil jalur lain untuk memulai. Toh, akhirnya mereka kembali bertemu di puncak.

Kabut kekhawatiran merambatinya. Aji berhenti di Pos Mata Air II untuk istirahat. Jika Gita mengambil Jalur Bremi maka kemungkinannya ia harus melewati hutan lumut. Atau bisa jadi tidak. Hal ini sudah terjadi sebelumnya, berakhir dengan tidak terlalu menyenangkan. Ia menggeleng. Gita pasti bisa memutuskannya sendiri. Ia telah memahami trek gunung ini seperti dirinya, telah mengakrabinya, hal apa yang mungkin terjadi?

===

Cikasur.

Aji pasti sudah gila.

“ Kamu bilang dia tidak membawa tenda?” Kirana nyaris memekik karena suhu udara yang semakin anjlok lantaran matahari yang telah tergelincir di ufuk barat. Saya dan Dani segera mendirikan tenda dan menggali parit sementara mereka mulai membongkar isi keril untuk menyiapkan makan malam.

“ Asumsi. Bawaan yang terlalu berat bakal menghambat pergerakan. “

Tahun lalu Aji membawa satu set tenda. Di perjalanan pulang ia komplain bahwa Gita tidur beratapkan bivak buatan. Ia kalah dalam lomba konyol itu, hanya sekian menit. Dan Aji kehilangan dua momen: matahari tenggelam dan kemenangan. Kami hanya saling menatap dengan prihatin.

Entah sampai kapan perjalanan ini akan terulang lagi. Kami yang berusaha membujuk agar berhenti mengikuti ide tentang kompetisi mencapai puncak itu. Agar kami temani jika ia memang sedang merindukan trek yang menantang, kanvas langit biru, dan hembusan riuh-rendah sang genta. Tidak, Gita merindukan Rengganis. Pikir kami, lalu kenapa? Kemudian kami mendapati kaki-kaki ini menyusuri ilalang dan sabana, berjarak puluhan menit dari sahabat kami karena entah energi apa yang bisa membuatnya melangkah secepat dan sekuat itu.

Kami telah berjalan selama nyaris sembilan jam dengan istirahat kurang dari lima belas menit di tiap jedanya. Aji seperti kerasukan. Atau mungkin ada sistem kontrol rahasia yang membuatnya seperti bergerak seperti robot mekanik begitu. Seperti substansi kimia yang menjadi tonik mempenterasi jauh ke dalam hati dan otaknya, mengirimkan sinyal impuls luar biasa. Apakah itu kerinduan ataukah penyesalan. Ia terlalu kuat namun sederhana. Dan juga destruktif.

Gita berhasil membuat Aji berhenti menggandrungi gulungan tembakaunya. Ia tidak pernah mengakui itu, tapi hipotesis kami bisa menjadi sangat akurat. Apakah Gita yang menjadi zat pengganti nikotin itu, kami tidak pernah tahu.

Dua tahun lalu, saya terbangun bukan oleh dingin yang merasuk hingga sumsum tulang namun celoteh tawa di luar tanda. Di antara hamparan sabana yang meliuk oleh godaan angin yang tidak main-main. Tripod terpasang di antara ketiga kaki alumuniumnya, lensa kamera menatap lurus pada lansekap kanvas berlatarkan tinta gelap yang lumer oleh guguran bintang. Malam tidak pernah sebersih itu. Dan Aji menatap Gita seolah ia adalah sebuah supernova. Ledakan bintang yang menghasilkan serbuk mengerling menyepuh matanya dan Aji tersedot ke dalamnya, ke dalam lubang hitam yang ditimbulkan.

Saya menutup ritsleting tenda, membiarkan mereka bermain-main dengan peranti-peranti kecil yang telah mereka bawa untuk mengabadikan perjalanan kali ini.

Bima sakti. Gugusan dan rasi bintang. Membiarkan gumpalan es melilit ilalang, hembusan angin mendirikan bulu roma sewajar helaian rambut yang meretih. Saya teringat pada sebuah foto penuh kenangan berjudul “Cerita Gita”. Dan ia yang ambruk karena lelehan air mata.

===

Di Pos Cisentor ada lima orang pendaki lain yang juga bermalam di sana.

Mereka mendirikan dua buah tenda, seluruhnya lelaki, memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari Jember, Jawa Timur. Mereka mengajaknya untuk berbagi tenda daripada tidur di dalam saung yang sudah mulai lepas dinding papannya. Lagipula mereka bisa membuat makan malam bersama dan melanjutkan perjalanan ke puncak esok hari bersama.

Agaknya mereka terkejut bercampur heran dengan kenekatan pemuda itu di tengah kesendiriannya. Asumsi bermunculan di benak mereka. Tetapi sebelumnya mereka pernah bertemu anggota TNI AD yang melakukan latihan fisik dengan mendaki melalui jalur Bremi terus hingga Cikasur secara tek-tok. Bolak-balik. Dan bagi mereka mungkin itu sudah satu setengah kali kegilaan pemuda ini.

Aji berkata bahwa ia bakal melanjutkan perjalanan sebelum fajar. Dengan harapan setidaknya ia bisa mengintip sekelumit matahari terbit dari ketinggian di atas tiga ribu mdpl. Sedikit banyak ia berharap Gita bakal berhasil melakukannya esok hari atau Aji bakal tertawa puas atas kekalahannya.

Di pos ini pula mereka kembali menatap bintang. Muslihat bahwa mereka hanya berjarak sejauh jangkauan lengan, jemari membentuk pola aerial dan nyaris suriil pada kepingan-kepingan yang berdansa beralaskan legam yang seolah menyekam. Bisa jadi malam tidak pernah sedingin itu karena yang lain memilih untuk bersembunyi di balik tenda mereka sementara bagi Aji dan Gita ada momen dan memori yang harus tersimpan dan tertata dengan apik.

Karena mereka mengejar selamanya. Inilah yang mereka raup dan simpan. Ketika diputar kembali di dalam kotak ingatan, fragmen itu berupa gambar bergerak serupa film. Seolah baru saja kemarin.

Ketika mereka kembali terjaga esoknya, mereka yakin semalam pastilah angin menjadi dua kali lebih ganas. Kaus kaki yang sengaja diletakkan di luar agar tidak lembab malah membeku. Menimbulkan bunyi terantuk ketika beradu dengan penyangga saung.

Mungkinkah bagi mereka kali ini untuk kembali waktu dengan limit selamanya? Mungkinkah momen yang terlewati, hal yang dinanti, bakal seperti pendakian sebelumnya? Tetapi Gita yang menyampaikan fakta tersebut bahwa tidak pernah ada pendakian yang sama. Bahkan pada pelajaran dan nilai yang dapat diambil tidak akan sama.

Aji terjaga di sepertiga malam. Bahkan langit masih menyaru malam, ia tidak dapat menemukan jubah malaikat subuh yang biasanya melingkupi horizon fajar. Ia menghela napas yang menjelma jejaring laba-laba  bersamaan dengan kabut yang baru saja menyergap. Kantung tidur dan jaket telah masuk ke dalam keril bersama sisa perbekalan. Ia membangunkan pimpinan rombongan dari Jember tadi untuk berpamitan kemudian segera menembus ilalang.

===

Apa yang ia pikirkan?

Aji pasti sudah gila.

Kami bertemu lima pendaki dari Jember di Pos Cisentor. Mereka sempat bermalam dengan Aji sebelum akhirnya dia berangkat bahkan sebelum pagi. Sebelum matahari tinggi ia pasti sudah mencapai puncak.

Saya menoleh pada Tia yang terlihat kelelahan. Ia mengalami cidera punggung setahun lalu akibat kecelakaan dan bisa jadi ini adalah pendakian terakhirnya sebelum kembali diperbolehkan beberapa tahun kemudian. Dani mengajukan untuk istirahat mengambil napas selama lima menit. Kirana membongkar keril Tia untuk memindahkan botol air ke keril milik Dani dan saya.

Langkah-langkah yang terayun jauh lebih cepat dan ganas dibanding saat musim pengembaraan atau perjalanan panjang manapun yang pernah kami jalani. Ditambah dengan hati yang berdebar dan kekhawatiran yang membuncah karena ketidakpastian akan nasib dari sahabat kami.

Tak ada sinyal sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan komunikasi apapun.

Apakah kami berjalan cepat ataukah setengah berlari, hanya tungkai-tungkai yang bisa menjelaskan. Tanah yang menanjak, lembahan yang melandai, punggungan yang terjal, puncakan yang menjulang. Apakah itu edelweiss kuning atau semak bebungaan putih. Ini bukanlah jenis perjalanan yang keindahannya dinikmati serta kenyamanan yang dibentuk dan disenangi.

Ini adalah perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Kami dan sahabat kami.

===

Sabana terakhir sebelum puncak. Luasnya tidak seberapa dibanding Cikasur namun pohon-pohon lebih banyak ditambah sesemakan yang agak rimbun. Di kejauhan Aji bisa melihat tentakel-tentakel kabut menuruni lereng menelan tiap penghalang di jalannya. Ia meletakkan keril yang beratnya nyaris tidak berkurang sejak hari pertama itu di balik sebatang pohon tersembunyi dari pandangan.

Kini ia meragu. Apapun itu, Aji tidak pernah mengabaikan firasatnya. Insting seseorang yang telah berusaha mengakrabi gunung dan hutan.

Ujung jemari mentari mulai merobek latar belakang di kejauhan. Aji menenggak air yang diisinya dari sebuah sungai di Cikasur. Dengan langkah yang mantap dan hati seolah tertiup udara subuh, ia mendaki bebatuan terjal menuju Puncak Rengganis.

Kini ia hanya perlu menunggu. Ia bisa merasakannya. Gita pasti akan datang. Kehadirannya dikabarkan oleh substansi oksigen yang ia hirup, bisikan dedaunan yang mengalasi aliran embun pagi, tarikan napasnya yang seolah terbawa atmosfir hari. Aji bisa merasakan udara yang mereka bagi, dingin menusuk yang menyusup.

Dalam shalat subuh yang mengheningkan fajar dan melembamkan momen, pemuda itu menengadahkan tangan. Mengetuk pintu langit seraya menyebut satu nama yang sarat kasih dan rindu yang memburu. Ia menoleh dengan ekspektasi melambung. Hanya untuk kembali dijatuhkan.

Mungkinkah Gita melanggar ucapannya? Mungkinkah rindu akan Rengganis hanyalah dusta?

Di sudut langit di antara ranting pepohonan sebuah slayer berwarna merah berkibar. Bangga dan pongah. Itu adalah milik Gita. Bertengger di atas Puncak Argopuro.

Aji mereguk kesempatan dalam sekejap. Ia berlari menuruni lereng puncak, ujung tumit menahan tiap gelincir. Pada tiap langkah seolah ia siap menggapai, untuk meraih. Langkahnya tidak terhenti saat ia menapaki bebatuan menuju puncak tertinggi, kotak suaranya teredam beku namun ia mengerahkan energi panas yang tersisa untuk memanggil namanya.

“ Gita!” Seperti sebuah senandung pagi. Lantunan hati. Doa yang mengetuk pintu langit tiada henti.

Aji melompati gundukan tanah membuat ranting di bawah sepatunya berkeretak nyaring. Ia melepas slayer dari dahan yang menjulur. Dunia menjadi lebih hangat, itu adalah sebuah fakta. Apakah itu karena semburat jingga dari timur ataukah pada pemandangan akan gadis itu.

Maka sekali lagi, Aji menunggu. Pada tiap pergesaran detik tatkala cahaya mulai terangkat menyebarkan semburat menyilaukan mata. Ia memicing, menunggu kehadirannya akan mengabur dan lenyap. Namun gadis itu tetap disana.

Gita Gita Gita…

Seperti sebuah senandung pagi. Lantunan hati. Doa yang mengetuk pintu langit tiada henti.

Ia mengulurkan untuk digapai. Maka, kini, Aji tahu bahwa inilah waktunya untuk berhenti menunggu.

Sejak kapan ia disana?

Entahlah. Terlalu lama. Bahkan mungkin sebelum Aji terjaga.

Gita telah merajah tiap jengkal Rengganis, menjadikan organ parunya sebagai filter udara, mencerna tiap substansinya. Sebuah keakraban yang mengakrabi. Keasingan yang ia jadikan bagian dari dirinya sendiri. Inilah yang istimewa. Yang tak terlupakan, tak tergantikan. Yang tak pernah sama.

Seberapa sering mereka menyaksikan matahari terbit di ufuk timur, tiada pernah ada yang sama.

Tintanya berasal dari alam, ia adalah campuran jingga dan lembayung yang meluntur. Bisakah mereka membuat waktu meregang mendekati selamanya? Karena mereka tahu keindahan ini tidak bakal bertahan selamanya. Bisakah mereka membawanya pulang saja? Tetapi, toh tidak mengapa jika mereka tidak pernah melangkah pergi. Apa yang bisa mereka ambil selain fragmen kenangan? Apa yang tertinggal selain jejak kaki dan kerinduan?

Seperti saat jemari mereka bertaut, garis tawanya yang entah mengapa memilukan sukma. Aliran panas seolah mata rantai tiada putus yang mendekap raga. Bisakah Aji berkata bahwa waktu berhenti tatkala ia memandanganya? Ataukah ia berhasil meregangkan detik ke menit menuju limit selamanya? Bukankah ini yang selama ini mereka kejar dan kumpulkan? Yang tertata apik di sudut memori dan hati.

Tidak ada yang terlalu peduli siapakah yang menang pada kompetisi ini. Keduanya tahu bahwa kehadiran satu sama lain untuk melengkapi sesamanya. Mereka tidak bisa meminta lebih dari ini. Atau mungkin—terlalu banyak berandai. Inilah anomali waktu dan ruang yang pasti penuh ketidak pastian.

Sehingga yang ada bagi mereka hanyalah menikmati apa yang tersisa.

===

Aji berkata bahwa Gita merindukan Rengganis.

Kami telah mencapai sabana terakhir sebelum tengah hari. Terdapat wajah-wajah nyaris putus asa. Kami menjatuhkan keril secara serampangan. Tia segera ambruk di bawah lindungan rindang pohon terdekat sementara Fikri membongkar kotak P3K untuk mengambil dosis painkiller yang seharusnya sudah diminum sejak pagi.

Kami berempat memanfaatkan menit untuk mengatur napas sebelum kembali mendaki terjalnya puncakan. Yang tersisa kemudian hanyalah mencari.

Hingga kemudian kami sadari bahwa tak ada yang tersisa untuk dicari.

===

Aji seolah raib ditelan bumi. Kami bahkan tidak bisa mendeteksi apapun yang menunjukkan keberadaan sahabat kami itu. Tiada jejak kaki, bekas membangun kemah, atau pun sisa bara api. Mungkinkah kehadirannya bak gumpalan es yang terurai pada surai-surai pertama mentari atau debu-debu yang terhembus menari bersama sang bayu yang menghampiri. Bahwa Aji telah menjelma kehadiran Gita yang semu dan tak pasti.

Cemoro Limo. Kami bahkan tidak bernyali untuk berharap.

Di antara jeda untuk mengambil napas, saya dan Dani mengeluarkan peta juga kompas. Mencari kemungkinan apakah Aji mengambil jalur yang sangat kami takutkan bakal diambil.

“ Kemarin dia tidak ambil jalur itu. “

“ Itu karena kita menempel terus bersamanya. Kita berhasil membuang segala khayalan dan omong kosong itu, “ Saya tidak bermaksud mengumpat. Tapi sungguh, tolong sampaikan pada matahari di ujung sana untuk bergantung di antara awan-awan sedikit lebih lama. “ Tapi sekarang—bahkan kita tidak tahu dimana ia berada. Ditambah Tia—“

Tetapi Tia lebih kuat daripada orang-orang sekitarnya pikir. Ia menolak untuk memanfaatkan sepuluh menit untuk sekadar meletakkan keril dan berbaring. Kirana membongkar logistik makanan, menyiapkan roti sebagai pengganti energi yang sudah habis terkuras. Perjalanan ini masih belum berakhir, kami tahu tanpa perlu mengutarakan kata sepakat. Apakah kami bakal mendirikan tenda dalam waktu dekat, kami pun ragu.

Fikri dan Amal kembali dari mengulik sekitaran lahan hutan cemara, wajah-wajah yang tidak mengguratkan kabar baik. Sepotong kain berwarna biru berada di tangan mereka. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi pada si pemilik.

Mereka berkata terdapat percikan darah di antara rerumputan dan tanah. Kain itu sepertinya digunakan sebagai bebat. Saya bisa melihat sisa benang-benang kuning yang menyusun nomor registrasi sahabat kami. Untuk sesaat kami tertegun, hati menciut akan segala prasangka dan kemungkinan terburuk yang bakal atau telah terjadi.

Kini kami tepat berada di mulut pintu masuk hutan lumut. Saya bisa melihat butiran bening menggerayangi sepasang mata Amal yang seperti manik. Masing-masing dari kami tidak memiliki pengalaman yang menyenangkan dengan hutan ini bahkan dengan kesempatan atau tawaran apapun kami tidak ingin melaluinya lagi.

Rahang mereka yang menegang seolah berseru untuk berbalik dan melewati jalur lain yang tidak perlu menyambangi tempat penuh jebakan ini. Kaki-kaki ini bahkan secara instingtif seperti melawan kehendak pemiliknya untuk melaju memasuki bibir hutan. Saya mengambil tindakan untuk membentuk formasi pergerakan dengan Fikri yang memimpin di depan dan Dani sebagai sweeper di paling belakang.

Kami mengucapkan selamat tinggal tanpa suara pada lapisan cemara terakhir di balik punggung, dimana kami seharusnya memilih untuk tinggal dan mendirikan tenda saja. Batas dimana rasa aman itu setidaknya mengisi ruang kewarasan dalam diri kami. Mengapa kami melangkah memasuki hutan yang picik ini, saya bahkan tidak mengerti. Hawa keculasan itu tercermin pada tiap ujung dedaunan yang membingkai hutan itu, menggapai-gapai pakaian kami, mengucapkan selamat datang dengan kekeh mengerikan. Atmosfir terasa begitu tipis dengan suhu yang seolah semakin anjlok tatkala kami melangkah kian dalam ke jantung hutan.

Tolong katakan pada matahari di sana untuk bergantung pada gumpalan awan lebih lama. Karena kami tidak tahu apa yang menanti di hadapan jika cahaya terakhir pun tergelincir dari pandangan.

===

Itu terjadi lagi. Seperti dua tahun lalu.

Gita terluka saat kami menyusuri Cemoro Limo. Kakinya tersangkut perangkap yang dipasang entah oleh sesama pendaki atau warga biasa yang kerap menyambangi hutan. Seharusnya itu hanyalah goresan biasa namun darah yang mengucur membuat Aji nyaris bergidik. Ia merobek slayer miliknya sebagai bebat setelah menyiram luka tersebut dengan rivanol dan membubuhkan antiseptik.

Gadis itu menggigit bibirnya yang pucat dalam usaha menahan sakit. Pastilah dia sekuat badak dengan mental yang luar biasa, karena berikutnya ia menyunggingkan senyum terbaiknya untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Aji menawarkan untuk memindahkan isi kerilnya agar beban berkurang namun gadis itu menyambutnya dengan tawa nyaris sumringah:

“ Kamu meledek saya? Ayo kita lanjut!”

Mereka melangkah memasuki perbatasan hutan lumut yang konon penuh cerita dan tersohor itu. Mungkin malam nanti mereka bakal mendirikan bivak di Taman Hidup, energi masing-masing pastilah sudah hampir mencapai titik minimum, ditambah luka di kaki Gita harus dibersihkan lagi untuk mencegah infeksi.

Semburat cahaya mentari terakhir membilas ranting dan dedaunan serta ujung jemari mereka. Gita meraih tangannya, tersenyum meyakinkan bahwa mereka bakal baik-baik saja. Kejadian dua tahun lalu tidak bakal terulang lagi karena mereka bakal saling menjaga, hal itu sudah lebih dari cukup. Sekalipun kulitnya sedingin butiran hujan namun Aji berpegang teguh pada sosok yang mengikatnya pada tonggak kewarasan.

Tidak mengapa, ia membiarkan Gita yang memimpin perjalanan. Aji tahu kemana hatinya bakal membawanya. Dan ia belum pernah seyakin ini. Tentu saja, sejak ia tahu telah menemukan hatinya.

Bahkan dari kejauhan Aji bisa melihat ujung tanjakan yang menjadi batas hutan menuju taman kehidupan. Di antara cahaya senter dan genggaman yang membimbing langkahnya, Aji yakin bahwa mereka bakal baik-baik saja. Ia tidak pernah seyakin itu seumur hidupnya.

===

Saya tidak ingat apakah menyusuri hutan ini bakal memakan waktu hingga berjam-jam. Atau kah memang lamanya begitu menguji kesabaran karena hari telah gelap dan udara menjadi begitu dingin. Ditambah tiada tanda yang menunjukkan keberadaan sahabat kami. Hingga muncul setitik pikiran tentang kemungkinan bahwa ia mungkin masih terbisiki akal sehat agar tidak melintasi jalur ini.

Ritme perjalanan kami bahkan telah jauh menurun dibandingkan sebelumnya. Lebih daripada Aji, kami sangat membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaga.

Teringat saat pertama kali saya mendaki Argopuro saat Musim Pengembaraan bersama kawan-kawan seperjuangan lain. Saat itu Ketua Divisi kami adalah Togi, senior dua tahun di atas kami, yang telah menjajal lebih banyak gunung di Pulau Jawa dan Sumatera dibandingkan anggota klub pecinta alam kami yang lain. Kepala Rombongan saat itu adalah Fikri—yang terkena keisengan senior-senior pembimbing kami untuk terus melanjutkan perjalanan ke Taman Hidup sejak turun dari Puncak Rengganis. Entah keisengan macam apa yang membuat kami terjebak di dalam Hutan Lumut.

Saat itu jalur konvensional yang kami gunakan saat menyusuri Hutan Lumut, entah mengapa, seolah terkubur dan tidak terlihat diantara cahaya senter dan headlamp yang kami pakai sebagai penerangan. Hutan itu begitu rapat dengan sering kali vegetasi berupa semak dengan bunga putih dan ketinggian di atas satu meter menaungi di kanan-kiri. Pepohonanya pun seolah menyelubungi seperti kelambu yang menghalau cahaya lain masuk—sesekali rembulan mengintip, memberi petunjuk bahwa kami tidak terjebak di negeri antah berantah.

Teman serombongan kami, Atika, nyaris terperosok ke dalam jurang karena mulai kehilangan fokus serta stamina yang telah terjun bebas; beruntung jurang tadi ditumbuhi rerumputan dan pohon yang menghalau. Beberapa kali Fikri kesulitan menentukan jalur yang harus diambil karena memang tidak ada di peta yang dibawa; ia mengecek jalur di depan sebelum memberikan komando untuk lanjut.

Terus begitu hingga lewat tengah malam. Seharusnya kami membangun kemah saja di Cemoro Limo.

“ Gi, berapa lama lagi?” Tanya Satria yang bertugas sebagai sweeper.

“ Lima menit lagi. “

Dan terus begitu. Lima menit yang terus memanjang di antara interval waktu.

Bahkan saya bisa melihat permukaan di ujung hutan yang mengarah ke suatu tempat di atas ketinggian, bisa jadi itu adalah ujung hutan. Taman Hidup. Apapun itu, asal bukan hutan yang menghimpit dan penuh halusinasi ini.

Bahkan senior kami yang bukan perokok sampai meminta sebatang untuk ‘membangunkan’ benaknya karena ia merasa seolah melihat kilatan cahaya senter di tengah hutan di antara jurang di sebelah kanan kami.

Tentu saja, apa yang dialami senior-senior kami itu diceritakan setelah kembali ke kampus. Bahkan Togi seolah tidak yakin kemana kami harus melangkah.

Hingga, masih di tengah hutan, ia mengarahkan untuk menghentikan perjalanan. Kami akan membangun kamp di tengah hutan. Tanpa pikir panjang, satu set tenda yang kami bawa didirikan untuk rombongan perempuan, serta flysheet dan ponco digelar sebagai tempat berteduh para lelaki.

Saya baru tahu, dari pembicaraan saat pulang, bahwa menginap di tengah Hutan Lumut merupakan sebuah larangan. Kirana menjadi yang tidur paling terakhir setelah berganti baju di dalam tenda—ia mendengar suara langkah kaki di luar. Seolah mengelilingi tenda yang menghimpun mereka, bahkan ia tidak bernyali untuk mengarahkan senter apakah sesuatu itu memiliki wujud.

Terlepas dari fakta bahwa macan masih berkeliaran bebas di kawasan Argopuro sebagaimana sebelumnya kami bertemu sekawanan babi hutan di Cikasur—atau Dani yang berjumpa seekor merak saat buang air besar. Atau desas-desus bahwa Hutan Lumut merupakan tempat favorit para pemburu wangsit. Dan tempat menggelar jampi dan ajian.

Yang melegakan adalah kami berhasil melewati malam itu. Sinar mentari menembus kanopi dedaunan, Gita menjadi yang pertama terjaga. Ia telah bersiap membuat sarapan sementara Aji mengeluarkan peralatan tempurnya untuk mengambil gambar dan rekam jejak tak terlupakan di perjalanan itu. Fikri yang masih setengah sadar berusaha membangunkan anggota lain karena rupanya kami telah kesiangan untuk mengejar waktu pulang.

Saat kami lanjut melangkah, meskipun lelah dan tidak keruan, saya menemukan bahwa kaki ini masih mampu membawa saya lebih jauh jika saya mau. Dan jika tadi malam kami mengambil jalur berbelok ke kiri sedikit saja, kami bakal menemukan trek menuju Taman Hidup. Entah mengapa, semalam kami tidak dapat melihatnya.

Karena ia hanya berjarak kurang dari lima menit dari tempat kami menginap.

Mungkin, semalam ada yang iseng.

Trek-nya yang panjang membuat orang tidak terlalu antusias, terlebih puncaknya yang tidak seberapa dibandingkan puncak tertinggi lain di Jawa atau pun Sumatera. Apalagi orang bilang, jika siang takut macan, malam hari parno setan. Sepi dan damai memang, hanya saja tidak ada manusia hidup lain yang bisa ditanyai jalan. Diragukan apakah Argopuro ini memang memiliki ujung.

Katanya, hebat jika ada yang tidak tersasar di sini. Lebih-lebih di Hutan Lumut.

Sejak itu, Argopuro merupakan destinasi favorit Gita. Ia tidak pernah bosan, apalagi patah hati dengan tempat ini. Atau begitulah kata Aji—yang menjadi alasan mereka memilih untuk mendakinya lagi setahun kemudian.

Berdua saja, sebuah perlombaan konyol.

Yang berujung pada tergelincirnya mereka ke dalam lembah halusinasi.

===

Lampiran daftar nama yang gugur di medan perjalanan gunung terpanjang di Pulau Jawa merupakan santapan wajib saat singgah ke markas untuk perizinan.

Tidak ada yang ingin berakhir berada di daftar tersebut.

Aji memutuskan untuk mendirikan bivak di tengah Hutan Lumut. Gita harus istirahat—kondisinya kian melemah. Wajahnya sangat pucat dan terlihat menahan sakit. Meskipun luka di kakinya memang tidak seberapa. Dengan seporsi nasi dan lauk hangat untuk berdua bakal memulihkan tenaga gadis ini.

Dan tidur. Itu yang paling mereka butuhkan.

Angin berhembus lebih kencang dibandingkan biasanya. Sungguh aneh Gita tidak membawa jaket untuk menghangatkan tubuh yang syarafnya mulai kaku. Tidak pula kantung tidur atau pun sarung tangan. Padahal ia memiliki riwayat alergi dingin.

Gadis itu tersenyum simpul saat Aji menyodorkan kantung tidur yang ia bawa.

Esok pagi, setelah fajar, mereka bakal berlama-lama di Taman Hidup. Konon, itu adalah surga dari Argopuro. Tidak diragukan lagi. Ada banyak kenangan yang mereka bagi disana.

Mereka belum pernah berenang di danau yang dalamnya mencapai puluhan meter. Mungkin mereka bisa mencobanya besok. Menurut mitos, ada seekor ikan sebesar bus pariwisata yang mendiami dasar danau.

Itu kan katanya.

Gita selalu penuh rasa ingin tahu. Dan untuk memenuhinya, kadang ia membiarkan risiko terpapar bahaya bagi dirinya sendiri. Untuk sebuah hasil yang belum pasti. Bisa jadi, itu yang membuat mereka saling tertarik seperti dua kutub yang saling bersebrangan. Matahari dan rembulan. Utara dan selatan. Timur dan Barat.

Bukankah sesuatu yang indah jika sosok yang merefleksikan dirimu adalah dia yang memiliki apa yang tidak kamu miliki? Tetapi dia memiliki frekuensi hati yang sama dengan apa yang ada di dalam diri.

Gita Gita Gita…

===

Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Gita Gita Gita…

Tengah hari, belum pernah Taman Hidup seasri ini. Tiada kabut yang menerjang turun menyapu bibir danau yang tanpa beriak. Awan-awan tersapu bersih, menyisakan arak-arakan surga berupa biru yang hanya bakal kau lihat sekali dua kali dalam hidup.

Permukaan danau sedikit menyusut yang sebelumnya mencapai tanah sekitar hingga membentuk rawa-rawa temporer. Mungkin kami bakal istirahat sesaat membiarkan paru-paru bertukar udara menjadi pengisi instan energi kami yang mendekati titik nol.

Baiklah, mungkin sepuluh atau lima belas menit waktu istirahat karena kami perlu menyuplai cadangan makanan untuk melanjutkan perjalanan. Logistik masih cukup untuk dua setengah hari ke depan. Tetapi di waktu yang kian menyempit ini, kami tidak bisa memanfaatkan kemewahan untuk memasak serta bercengkerama—melonggarkan otot yang tegang melalui medium tawa, menyalurkan kantuk dan lelah dengan berbagi cerita, terhubung dalam Dinamika Kekeluargaan yang terjalin tiap perjalanan operasional.

Kirana, saya, dan Dani menapaki jembatan buatan yang menghubungkan hingga pinggiran danau—tidak yakin apakah ia mampu menopang lebih banyak jika dua atau tiga orang di antara kami ikut naik. Terdapat sebuah saung mungil yang seolah menjadi gerbang menuju dunia lain.

Gita sangat suka berlama-lama di pinggiran saung, bersenandung sebuah irama lagu yang sama sekali asing dan baru. Seperti mantra. Yang menghipnotis kami semua tatkala kami mengarahkan telinga dan pandangan pada dirinya. Sang titisan bidadari dari kahyangan. Atau begitulah kata mereka jika Gita Gayatri disebut-sebut—seperti sosok yang magis.

Tidak ada yang lebih tepat bagi Gita berada selain daripada di sini, di momen ini.

Apa pun pikiran penuh tipu daya harap dan perandaian, Gita tidak akan berada disini—bersama kami—

Jeritan Kirana memecah keheningan sore, mengagetkan matahari yang kian tergelincir dari sumbu rotasinya. Tia yang tertidur terlompat terjaga. Fikri dan Amal segera menyeberangi jembatan kayu menuju ujung tempat kami mematung. Jika ada yang bertanya terperangkap dalam pasir waktu, maka inilah dia…

Sesosok tubuh mengambang di tengah danau hanya berjarak empat meter. Tidak ada informasi apapun yang mampu diproses otak kami yang seketika macet—kecuali ia mengenakan atasan berwarna putih dengan celana sewarna tanah, dalam posisi tertelungkup.

Saya dan Dani saling memandang. Adalah gila jika kami coba-coba untuk berenang di danau sekalipun mitos tentang ikan raksasa itu belum pernah dibuktikan manusia hidup manapun. Kemungkinan itu menuju angka nol, namun terdapat simbol koma disana yang berarti kami tidak boleh—tidak bisa membiarkan sebuah nyawa melayang begitu saja.

Tia mengulurkan dua buah webbing yang telah diikat kuat. Dani menerima tali tersebut, melingkarkan di pinggangnya kemudian membentuk simpul tiang. Saya dan Fikri memegang ujung tali sebagai pondasi sementara sahabat kami melompat ke kedalaman danau yang tak dapat terlihat ujungnya.


Kau yang sedang mencinta, kembali lah kepada realita. Kepada yang hatinya terbelenggu dan tertambat, jangan tertukar antara racun dan obat. Kepada kau yang terjatuh dan tersesat, jangan kau lepas pegangan yang kian menguat.

Gita Gita Gita…

Dua tahun lalu saat perlombaan konyol merupakan yang terakhir bagi mereka untuk saling berjumpa dan menyapa.

Gita memang merindukan Rengganis. Ia yang menjadi pemenang—slayer merahnya telah berkibar gagah terlebih dahulu di Puncak Argopuro. Aji telah meremehkan gadis itu. Ia tengah menyusuri dataran berbatu tatkala Gita muncul dengan senyuman tertahan di ujung puncakan lain.

Pada akhirnya tidak masalah siapa yang jadi pemenang.

Permainan menjauh untuk kemudian merindu terasa bermakna jika ia adalah seseorang dimana jantung hatinya terhubung kepada rusuk kirimu dengan sebuah benang tipis yang sekalipun ia rapuh namun kian menguat.

Dari kejauhan terlihat gulungan kabut pekat bersiap menuruni lereng menuju Alun-alun Lonceng tempat mereka meletakkan keril untuk summit attack. Tunggu sampai teman-teman seperjuangan musim pengembaraan mendengar cerita mereka nanti—

Tetapi mereka kehilangan jalur untuk kembali. Tatkala melewati 9 bukit penyesalan, guntur menggelegar di kejauhan, menyambar suatu area di tengah hutan cemara. Beberapa kali mereka tergelincir, saling berpegangan erat agar salah satu tidak terperosok ke dalam jurang. Gumpalan awan kelabu mencegah mereka dari sekelumit pancaran warna matahari yang hendak kembali ke peraduan—waktu yang bergulir tidak seberapa namun sekeliling telah menjelma gulita.

Seperti perjalanan sebelumnya, mereka mengambil Jalur Trabasan dengan memotong kompas meskipun melipir tebing. Ditambah kondisi hujan deras yang membuat trek semakin licin dan agak berbahaya untuk dilewati.

Sampai di jalur berbatu yang sangat curam dengan lapisan tanah untuk dipijak. Aji mengeluarkan sebuah webbing, mengikatkannya pada pohon terdekat. Ia menggunakan teknik rappling untuk turun—pada musim kemarau jalur ini memang tidak mudah namun relatif aman untuk dilewati. Saat giliran Gita untuk turun, pohon yang menjadi pasak penahan tiba-tiba patah dengan bunyi menyaingi gelegar guntur.

“ Tidak, saya tidak apa-apa. “ Begitu kata Gita. Aji bisa melihat sepertinya pergelangan kaki gadis itu terkilir dari cara jalannya yang terpincang-pincang.

Tidak ada lahan untuk membangun kamp, haruskah mereka lanjut?

“ Ayo, sedikit lagi. “ Semangat gadis itu sesaat membuat Aji gentar.

Cemoro Limo—mereka mengeluarkan sebuah roti untuk dibagi. Pilihannya adalah untuk mendirikan bivak disini atau menyusuri Hutan Lumut hingga sampai Taman Hidup dan bermalam disana. Entahlah, Gita tidak pernah menyukai area hutan yang menghembuskan nafas mistis dan asing bagi siapapun yang melintasinya. Jika mereka melanjutkan perjalanan sekarang, sebelum tengah malam mereka bakal bertemu dataran luas dengan kanopi Bima Sakti dan gugusan bintang.

Logistik Aji masih cukup untuk dua hari, sementara Gita kurang dari sehari. Sepanjang perjalanan mereka tidak temui pendaki lain, terlebih pendakian di musim hujan jelas kurang bersahabat dengan medan yang kebanyakan tanah dan berbatu.

Kini, di kanan mereka menganga jurang yang begitu gelap hingga mereka tidak bisa melihat dasarnya—mengintip saja enggan.

Aji bisa merasakan tubuh Gita yang gemetar di balik ponco yang ia kenakan. Jalur yang mesti diikuti masih dapat dilihat mata telanjang sekalipun ujung dahan pepohonan melingkupi mereka seperti kelambu tipis. Rembulan bahkan tidak diizinkan membantu menerangi karena awan hujan masih enggan beranjak. Entah mengapa, headlamp Gita rusak di tengah perjalanan, yang tidak ada hubungannya dengan batrei habis.

Gita diam-diam hanya berharap Aji tidak melepaskan genggamannya karena malam tidak pernah sepekat ini. Bahkan tidak ada suara serangga atau pun desiran angin yang mampu meningkahi rintik fluida yang merembes ke dalam sepatu dan celana mereka.

Sesaat Aji harus melepas tangan gadis itu untuk melompati sebuah batu yang jaraknya sedikit menganga seperti mulut yang lapar.

Ya, sebentar lagi mereka akan mencapai Hutan Lumut. Bukankah sebelumnya mereka berhasil melewati area itu. Kedengarannya lebih baik dibandingkan medan yang harus mereka jajaki sekarang ini—

Seolah ada tangan tak terlihat yang merenggut pegangan mereka dengan paksa disertai bilasan air hujan yang menjadi sekat antara saling menguatkan. Hanya pekikan singkat disusul suara jatuh nan gaduh menuruni lereng selama beberapa saat. Beberapa saat yang digemakan oleh langit dan bumi, menahan aliran napas Aji hingga ia pusing.

Ketika pasir waktu kembali mengalir dan keheningan kembali menyeruak bersamaan dengan rintihan hujan, kemudian tidak ada apa-apa.

Mungkin Gita ditelan memasuki ambang dunia magis yang telah amat mendamba dirinya. Mungkin ia memang seharusnya disana sebagaimana mestinya.

Yang tidak terkatakan adalah bagaimana Aji harus bertahan?

Tidak ada yang tahu kelanjutannya lagi. Bagaimana bisa Aji keluar dari Hutan Lumut hidup-hidup, bahkan mencapai batas hutan damar, menuju lahan penduduk, tidak ada yang tahu. Aji hilang selama seminggu dari yang seharusnya perjalanan ia lakukan selama empat hari.

Tim SAR telah dikerahkan untuk menyisir beberapa bagian diduga tempat mereka berada tepat 1 x 24 jam setelah Aji gagal mengirimkan kabar kepada koordinator SAR di sekretariat kampus.

Gita tidak pernah ditemukan. Raib begitu saja. Tiap jengkal lembahan, jurang, dan aliran sungai selepas 9 bukit penyesalan telah disusuri oleh tim, juga oleh beberapa dari kami yang ikut terjun langsung.

Nihil.

Serta-merta Aji muncul di kawasan lahan penduduk dengan keril yang sama sekali tidak terisi logistik apapun. Hanya sebuah jaket dan sepasang baju ganti kering. Sebotol air yang diambil dari sungai kecil di sekitar Hutan Lumut, lima puluh milliliter cairan spiritus, sebuah korek api, kompas, selembar peta compang-camping, dan sebilah pisau yang memiliki andil dalam menyambung nyawa pemuda itu.

Sebuah slayer merah tergenggam erat seolah sekeping jiwanya menempel disana dan ia tidak akan pernah utuh jika benda itu hilang. Slayer merah itu tidak lagi sebagaimana yang dimiliki Togi, namun ia telah dicelup warna lain yang lebih pekat, kental—

Ia terjangkit pneumonia dan malnutrisi akut.

Spekulasi menjalar bahwa ia tersesat di dalam Hutan Lumut yang penuh halusinasi. Ada yang mengira bahwa ia telah menjadi santapan macan penghuni gunung yang masih berkeliaran bebas. Atau mungkin ia disembunyikan oleh para makhluk gaib disana untuk dijadikan teman bermain pada dimensi berbeda.

Atau mungkin Aji hanya berusaha mencari Gita, sepotong hati yang hilang. Yang patah tiada tumbuh, yang hilang takkan terganti.

Slayer biru langit membebat sebuah luka menganga pada pergelangan kaki si pemuda yang sudah tak bernyawa.

NR. 2317.

Selembar kain merah terapung di sisi danau yang lain. Milik Gita.

Kami hanya ingin memastikan sahabat kami baik-baik saja, hingga akhir cerita. Agaknya melegakan jika ini semua berujung pada sebuah akhir. Tetapi, ia tidak baik-baik saja.

Ia yang mencinta, tidak pernah kembali pada realita. Yang hatinya terbelenggu dan tertambat, selamanya terbelenggu dan tertambat. Kepada ia yang terjatuh dan tersesat, ia memilih tetap jatuh dan tersesat.


Note: Beberapa momen diambil dari perjalanan Musim Pengembaraan Argopuro Divisi Gunung Hutan KAPA FTUI.

Advertisements

2 thoughts on “[CERPEN]: AJIAN GITA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s