[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: BERBAGI

credit: Sketch hands by elisadelatorre on deviantART

Ada yang bilang dengan menulis seperti ini, membagikannya, dapat membantu. Memberikan injeksi tonik tersendiri bagi diri yang sulit bicara, serta berharap bakal memberi sedikit manfaat bagi orang lain yang membaca. Setidaknya menimbulkan syukur dan sabar dalam diri mereka, pula agar kita saling mendoakan.

Kamu dan saya.

Kegiatan Sekolah Murabbi yang seharusnya meningkatkan mental baja malah membuat saya weary to the bone. Tiba-tiba saja, tanpa sebab. Mungkin karena saya datang paling pertama sebelum jam 8 pagi, acara dimulai baru pukul 9. Hingga selepas maghrib. Total kurang lebih (lebih) 10 jam saya berada di sana. Ingin rasanya berteriak cukup.

Pekan ini—Rabu kemarin, baru saja mengobrol dengan Kak Revi. Bukan tentang detail problematika atau pun pemetaan rasa yang saya miliki. Namun lebih pada pengaduan saya—sekadar untuk melegakan hati, barang sedikit—tentang periode naik dan turun yang menyandera hari-hari saya. Hingga membuat kehidupan saya sebagai mahasiswa, anak, mentor keagamaan, bahkan mungkin seorang teman dan sahabat, mengalami disfungsi.

Mengutarakan bahwa saya tidak ingin menemui psikolog atau pun psikiater. Bahwa saya pernah bercerita kepada ex-murabbi saya, jawaban yang diberikan kurang memuaskan diri ini sekalipun tren emosi saya menurun; untuk beberapa lama. Atau kepada seorang senior yang saya kira bakal memberi jawaban yang sedikit banyak meneduhkan. Hingga saya berpikir jika tidak ada sesosok manusia hidup yang mampu menjamin bahwa ia bisa berkata yang bakal memuaskan, setidaknya menenangkan saya, lebih baik tidak perlu.

Karena mungkin saya tidak memiliki nyali untuk bercerita pada kali kedua.

Faktanya memang tidak ada manusia di seluruh muka bumi yang mampu membuat janji demikian. Dan, katanya, keputusan saya untuk tidak bercerita kepada siapapun insyaa Allah adalah hal yang tepat. Adukan saja semuanya pada Allah. Jangan pernah tidak melibatkan Allah.

Semester paling berat yang pernah saya rasakan seumur hidup—wong, saya kuliah sarjana baru sekali. Beberapa kali gangguan pencernaan, jika stress dan salah minum atau makan, jadilah seharian mesti berdiam di kosan. Oversleep yang periodenya masih acak, kemarin sempat normal, sekarang muncul lagi. Rambut masih setia rontok dari akarnya, sampai Ibu saya heran. Kulit saya yang baru disadari tidak terlalu sensitive atau mudah jerawatan mengalami salah satu breakout paling parah yang pernah saya alami, sampai rasanya sakit. Dan mudah lelah.

Tentang moodswing, jangan ditanya.

Saya tidak ingin rekam jejak mengenai pernah ke psikolog bakal memengaruhi saya dalam menjalani hidup, membuat justifikasi tentang keadaan mental saya saat harus menghadapi masalah. Atau jika saya kesana, seringan atau separah apapun diagnosis yang diberikan, saya yakin itu tidak bakal membantu sama sekali.

Bukankah diri saya yang kerap berkata pada junior-junior mutarabbi lain bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS. Ar-Raad : 28)? Jangan pernah meragukan janji Allah, akankah janji-Nya adalah dusta?

Sampai disitu, ketika saya dalam periode terburuk, saya tidak mampu mengingat apa-apa janji Allah. Suatu ketika saya sungguh takut untuk tertidur jika saya tidak pernah terbangun lagi dikarenakan siang harinya saya breakdown yang belum pernah saya alami seumur hidup. Toh, akhirnya saya terjaga, dan hingga posting ini disampaikan, kamu mendapati saya masih bernyawa.

Periode itu muncul ke permukaan sesekali seperti hempasan ombak yang menggerayangi bibir pantai menuju pasir kering. Seperti sekarang saat saya menulis ini. Khawatir berlebihan, bingung, cemas. Melakukan dan menemui apapun asal bukan hal yang menimbulkan perasaan itu.

Dengan kalender akademis serta dosen-dosen yang kadang (apa kebanyakan yah?) tidak terlalu memperhatikan—atau peduli?—dengan kondisi psikis dan fisis subjek yang diajar, membuat saya jengah. Mereka mengejar saya yang bahkan kadang kesulitan untuk melangkah. Setidaknya memberi gambaran jikalau saya bakal pernah ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan untuk negeri: perombakan besar-besaran sistem pendidikan.

Allah menciptakan jagat raya dan seluruh isinya dalam 6 masa: 2 untuk mencipta langit, dan 4 bagi bumi. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur selama lebih dari interval waktu 22 tahun. Lalu, mengapa manusia atau sebuah sistem berani menuntut agar perubahan itu terjadi dalam semalam?

Bagi yang tidak mengerti, saya merasa usaha yang dikerahkan untuk membuat stabil diri cukup membuat jeri. Kadang ingin menyerah. Tapi bukankah ini yang selalu terselip di dalam doamu, wahai diriku, agar menjadi kuat? Jika merasa kesulitan dan tak sanggup, maka delegasikan saja semua persoalan pada Allah. Masalahku memang besar, namun aku memiliki Allah Yang Maha Besar. Dan pada akhirnya, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Ketika periode itu muncul saya berusaha mengingat hal tadi seolah mantra. Mungkin semua ini adalah teguran agar aku berusaha semakin dekat pada Allah. Jangan pusingkan apapun, mendekat saja pada Allah.

Sungguh hanya itu yang saat ini yang ingin saya fokuskan. Memperbaiki diri, memungut serpihan yang mungkin beberapa hilang tidak pernah kembali. Namun segalanya bakal terasa indah bahkan untuk merasa baik-baik saja, bagi sebagian orang.

Maka untuk kamu yang asal menyebut seakan merasa tertekan, seolah sakit jiwa, kamu benar-benar pengin merasakan sakit mental seperti apa? Mungkin bisa Tanya Om Google dulu biar faham definisinya.

Jalan ini tidaklah mudah. Ia memang lurus membentang dari alam ruh hingga persimpangan antara surga dan neraka. Namun Allah tidak pernah meminta saya agar menempuhnya hingga hari kiamat—hingga batas zaman. Allah hanya ingin agar saya mati di atas jalan tersebut, dalam keadaan beriman, khusnul khatimah. Dan sampai sejauh ini saya masih yakin bahwa saya tidak membutuhkan siapapun atau appaun untuk bertahan selain Allah.

Perlahan. Kamu pun harus paham bahwa segalanya harus bertahap. Bersabarlah, wahai diriku.

Advertisements

One thought on “[JURNAL TENTANG KEKUATAN]: BERBAGI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s